1 Juta Warga AS Ajukan Klaim Tunjangan Pengangguran

Foto: Ist

“Sejauh ini, hanya sekali tercatat pengajuan di bawah 1 juta orang sejak Maret lalu ketika pandemi mulai menghancurkan penciptaan pasar kerja baru di AS”

Jakarta (Bintangtimur.net) – Departemen Ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) menyatakan 1 juta orang mengajukan tunjangan pengangguran perdana pada pekan lalu.

Laporan tersebut sesuai dengan perkiraan para ekonom. Meski angka tersebut turun tipis dari catatan minggu sebelumnya, namun capaian masih mengecewakan.

Sejauh ini, hanya sekali tercatat pengajuan di bawah 1 juta orang sejak Maret lalu ketika pandemi mulai menghancurkan penciptaan pasar kerja baru di AS.

Sementara, untuk klaim pengangguran lanjutan atau mereka yang melakukan klaim setidaknya dua minggu berturut-turut berada di angka 14,5 juta.

Penurunan angka klaim lanjutan merupakan pertanda positif. Pasalnya beberapa orang yang sempat kehilangan pekerjaan dalam krisis corona telah kembali bekerja.

Data tersebut diambil dengan basis penyesuaian musiman. Jika dihitung tanpa penyesuaian, gambaran pasar pekerjaan AS menunjukkan potret berbeda.

Tanpa penyesuaian, klaim perdana di bawah satu juta pada pekan lalu atau 821.591 orang. Namun, 607,806 orang lainnya mengajukan klaim untuk bantuan pengangguran pandemi, salah satu program Kongres untuk membantu pekerja yang tidak memiliki akses program pemerintah seperti berwirausaha.

Dengan demikian, total pengajuan dengan basis tanpa penyesuaian mencapai 1,4 juta orang.

Melansir CNN Business, secara keseluruhan, 27 juta pekerja AS mengajukan salah satu atau lebih dari bantuan pemerintah selama pandemi per data 8 Agustus. Meski angka mingguan membaik, namun angka menunjukkan bahwa krisis pekerjaan di AS masih berlangsung.

Bantuan uang sebesar US$600 untuk pengangguran dari Kongres telah berakhir pada Juli lalu. Anggota parlemen sampai dengan saat ini belum menyetujui untuk memperpanjang bantuan itu.

Sementara, Presiden Donald Trump telah menandatangani perintah eksekutif yang mengalihkan dana dari Badan Manajemen Darurat Federal (Federal Emergency Management Agency) untuk membayar tunjangan mingguan tambahan senilai US$300.

Pemerintah bagian diharapkan dapat menambah bantuan senilai US$100 untuk mencapai total bantuan US$400. Namun, banyak negara bagian mengaku angkat tangan.

Pemerintahan Trump dan beberapa anggota parlemen dari sayap republik mengklaim bahwa bantuan US$600 per minggu tersebut ‘menggaji’ banyak pekerja lebih dari yang mereka dapat saat tak menganggur.

Sehingga, mereka menilai manfaat bantuan tersebut malah membuat masyarakat enggan kembali bekerja.

Namun, argumen tersebut disanggah oleh Kepala Ekonom PNC Gus Faucher.

“Sejauh ini belum ada indikasi bahwa berakhirnya tunjangan tambahan US$600 per minggu pada akhir 31 Juli telah menyebabkan penurunan besar pengangguran,” katanya. (KR)

Edt: Redaksi (AN)