29 Tahun Perjalanan SBSI Yang Tak Pernah Lelah (3)

Foto: Doc. Jacob Ereste

“Sejak SBSI bermarkas di Kayu Ramin Jakarta Timur ini, semua aktivis gerakan buruh di Eropa maupun Amerika serta negara lain, seperti Brasilia mulai memberi perhatian pada gerakan buruh di Asia, terutama Indonesia”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Semasa SBSI berkantor pusat di Kawasan Kayu Ramin, Hutan Kayu Jakarta Timur antara tahun 1994-1996 sungguh sangat dramatik dan heroik. Sebab banyak kejadian yang pantas dicatat dalam sejarah panjang yang telah menghantar SBSI hingga berusia 29 tahun pada 25 April 2021.

Sejak SBSI bermarkas di Kayu Ramin Jakarta Timur ini, semua aktivis gerakan buruh di Eropa maupun Amerika serta negara lain, seperti Brasilia mulai memberi perhatian pada gerakan buruh di Asia, terutama Indonesia. Setidaknya mulai dari sikap dan wujud nyata solidaritas terhadap SBSI mendapat perhatian serius. Bahkan dukungan sekaligus bantuan, baik dalam bentuk moral maupun finansial.

Yang pasti, beragam pendidikan dan pelatihan bagi kaum buruh Indonesia mendapat prioritas, berkat kepercayaan pada SBSI yang meyakinkan bahwa masalah mendasar kaum buruh di Indonesia adalah kesadaran dan pemahaman terhadap hal Ikhwal tentang kesadaran, pemahaman serta perlunya kaum buruh itu perlunya berorganisasi agar dapat menghadapi tekanan dari rezim otoriter yang tengah berkuasa.

Karena itu satu di antara dari pendalaman pendidikan dan pelatihan yang dilakukan dengan gigih dan tekun oleh SBSI, semakin disadari serta dipahami perlu adanya ikatan, jaringan serta sikap dari kebersamaan antara elemen buruh maupun serikat buruh.

Seruan aksi mogok buruh yang telah dinyatakan ditunda itu saat pelaksanaannya pun terlanjur menjadi berita dunia yang membangkitkan perhatian dunia serta solidaritas yang sangat mempesona bagi segenap eksponen buruh dan serikat buruh maupun para simpatisan untuk SBSI.

Kecuali itu, tentu saja formasi dari pengganti unsur pimpinan di lingkungan SBSI sendiri karena terkait dengan penangkapan Ketua Umum SBSI bersama ratusan aktivis buruh di Medan, Pematangsiantar, Surabaya dan Lampung serta di sejumlah daerah lain, telah menjadi semacam seleksi alam bagi aktivis buruh. Sebab banyak di antara aktivis yang bersikap tiarap atau melarikan diri dari kancah perjuangan, tak pula sedikit yang semakin kukuh serta menampilkan watak militansi yang otentik sebagai pejuang bagi kaum buruh yang tulen.

Dari proses seleksi alam inilah tampil kemudian Tohap Simanungkalit, Dhea Yudha Prakesha, Sunarti, Satrio Arismunandar dan Jacob Ereste yang melanjutkan perjuangan SBSI. Hingga jargon perjuangan yang terus merangsek implementasinya dalam bentuk perlawanan semakin menguat dalam tubuh SBSI. Maka itu diantara aktivis yang semula memilih sikap tiarap, bisa kembali bangkit dan bergabung memperkuat gerakan perlawanan SBSI.

Setidaknya, sebelum Ketua Umum menyerahkan diri kepada Kapoltabes Medan, Kombes Chairudin Ismail ketika itu, upaya diplomasi sudah dilakukan jajaran DPP SBSI. Karena dalam kesepakatan antara Poltabes Medan dengan DPP SBSI ialah, kesanggupan SBSI menjadi penanggung jawab peristiwa dari kerusuhan aksi unjuk rasa buruh di Medan itu dan menghadirkan Ketua Umum SBSI di Poltabes Medan dengan janji dari pihak Poltabes Medan untuk melepaskan semua aktivis buruh di Pematangsiantar dan aktivis buruh di Medan yang ditangkap oleh pihak kepolisian setempat. Tapi nyatanya janji itu diingkari.

Tentu dari pengalaman empirik serupa itu semakin mematangkan pemahaman segenap aktivis buruh dan serikat buruh bila rezim yang tengah mabuk kekuasaan itu memang dispotik, culas dan hipokrit serta cenderung menghalalkan segala caranya untuk tetap menggenggam kekuasaan.

Edt: Redaksi (AN)