29 Tahun Perjalanan SBSI Yang Tak Pernah Lelah (4)

Foto: Doc. Jacob Ereste

“Desah dari kisah ini sekedar untuk mengingatkan betapa indah kebersamaan antara elemen pergerakan pada masa itu, untuk sekedar jadi bandingan di masa kini”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Meski boleh dikata 29 tahun perjalanan SBSI tak pernah lelah, tentu saja pasang surut atau naik dan turun organisasi buruh alternatif semasa rezim Orde Baru berkuasa tetap saja terjadi juga, walau semangat perjuangan terus merangsek dalam bentuk perlawanan, sebab SBSI sendiri sejak dideklarasikan telah diposisikan oleh pemerintahan Soeharto sebagai oposisi, bila tak cukup elok untuk dikatakan menjadi musuh.

Realitasnya memang begitu, karena setiap gerak aktivitas SBSI selalu dibayang-bayangi oleh aparat keamanan, mulai dari tingkat terendah seperti Babinsa, Koramil dan Polsek hingga Kodam dan Polda maupun Menkopolhukam. Atas dasar itu pula maka strategi kebijakan organisasi menerapkan model pintu terbuka.

Pilihan model pintu terbuka itu mulai diberlakukan secara total sejak Ketua Umum SBSI ditangkap Kapoltabes Medan terkait peristiwa aksi mogok nasional dengan indikator nyata kemesraan hubungan antara SBSI dengan semua kalangan aktivis pergerakan, LSM serta organisasi kemahasiswaan yang ada dalam membangun kekuatan buruh.

Kepemimpinan SBSI yang dilanjutkan oleh Tohap Simanungkalit, Satrio Arismunandar, Sunarti dan Dhea Prakesha Yudha serta Jacob Ereste, boleh dikata memiliki basis pemahaman jurnalis yang cukup. Tohap Simanungkalit almarhum adalah mantan pegawai Bea Cukai yang membawahi bidang kehumasan dan media massa instansi tersebut. Satrio Arismundar —yang kini menjadi Dosen Pasca Sarjana di UI— ketika itu adalah redaksi senior Harian Pagi Kompas spesialis Timur Tengah. Begitu juga Dhea Prakesha Yudha —wartawan senior Bidang Politik pada harian pagi yang sama—.

Sementara saya sendiri —Jacob Ereste— juga mantan wartawan yang terus aktif sebagai penulis freelance untuk sejumlah media cetak maupun online sampai hari ini.

Tentu saja yang tak kalah penting luasnya relasi yang bisa dibangun oleh Sunarti, mulai dari kalangan buruh pada level yang paling rendah hingga sejumlah tokoh penting yang menaruh perhatian pada masalah kaum buruh.

Jadi boleh disebut masa indah yang paling romantik dalam aktivitas kaum pergerakan bagi SBSI ada pada periode ini —di Kayu Ramin hingga Berkantor Pusat di Tebet Barat Dalam Raya Jakarta Selatan— antara tahun 1994-1997 di mana banyak catatan sejarah perjuangan dan perlawanan kaum buruh bersama SBSI pantas dicatat dengan tinta emas.

Pertama romantisme itu adalah untuk pertama kalinya SBSI memiliki inventaris kendaraan organisasi. Harganya mungkin memang tidak seberapa, namun nilai historis dan dampaknya untuk aktivitas perjuangan tak bisa diabaikan. Pertama karena kendaraan merk VW itu pemberian Letnan Jendral Marinir Bang Ali Sadikin, mantan Gubernur DKI Jakarta.

Historisnya memang luar biasa. Kecuali sejumlah aktivis senior SBSI ketika itu pun menjadi peserta diskusi paling aktif yang selalu dilakukan Kelompok Petisi 50 di kediaman Bang Ali Sadikin, Jl. Brobudor No. 1 Menten, Jakarta Pusat.

Selain relasi yang terjalin baik dengan mahasiswa, model strategi pintu terbuka di maskas SBSI Kayu Ramin pada tahun 1994 itu, berdatangan pula aktivis dari beragam paguyuban kemasyarakatan maupun keagamaan. Asrizal Nur misalnya yang kini dikenal sebagai seniman Melayu serantau ikut membesut Teater Buruh dan kelompok penyair buruh hingga mampu mementaskan drama politik perlawanan berjudul “Surat Cinta Kepada Marsinah” yang disadur dari puisi karya Jacob Ereste. Pementasannya drama politik ini hasilnya antara lain membuahkan kemenangan dari gugatan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan atas larangan pementasan pada Teater Pabrik oleh Polres Jakarta Selatan pada tahun 1996.

Reputasi Teater Pabrik pun sempat memenuhi undangan khusus pentas di Kampus UGM Yogyakarta dan IAIN Sunan Kalijaga. Bahkan kegaguman WS. Rendra —selaku sastrawan dan budayawan— mengundang khusus pentas di Padepokan yang dia asuh di Depok Bogor.

Yang lebih spesifik dari wujud nyata perlawanan politik SBSI adalah aksi dari Jakarta menuju Medan saat acara persidangan terhadap Ketua Umum SBSI dan sejumlah aktivis buruh di Medan dan Pematangsiantar pada tahun 1995.

Dua bus demonstran yang ikut bergabung dengan SBSI ketika itu adalah semua perwakilan eleman mahasiswa, LSM sehingga dalam dua rombongan bus besar itu hanya dipandu lima orang saja dari unsur SBSI, yaitu Jacob Ereste, Netty Saragih, Mehbob dan Eduard Marpaung serta Farida Napitupulu.

Desah dari kisah ini sekedar untuk mengingatkan betapa indah kebersamaan antara elemen pergerakan pada masa itu, untuk sekedar jadi bandingan di masa kini.

Aetidaknya dari nukilan kisah masa silam SBSI kiranya dapatlah menjadi bahan renungan pada acara ulang tahun ke 29 SBSI agar makna dan hakikat dari suatu acara peringatan tak cuma sebatas seremoni saja.

Edt: Redaksi (AN)