Ahh Teori …

Oleh: Norman Arief

“Justru membuat kata-kata mutiara itu memerlukan suatu peristiwa kehidupan yang terlintasi terlebih dahulu baru bisa di ‘teori’ kan”

Foto: Doc. Norman Arief

Bogor (Bintangtimur.net) – Pagi ini secangkir jahe merah dan tembakau jawa, menemani penulis melawan rasa dingin efek musim hujan.

Iya, sementara selingkuh sesaat dari secangkir kopi lantaran lambung sedang tidak bersahabat.

Saat sruput jahe merah, tiba-tiba otak loading teringat seseorang yang seakan membenci ‘teori’. Bahkan mencemooh orang yang pandai berkata-kata atau lihai dalam membuat kata mutiara.

Hmm …

ujarnya … mereka hanya pandai teori membuat kata-kata tapi gak pandai prakteknya, kalau Aku seh mending ngerjain dari pada banyak kata-kata. Gak mau yang rumit-rumit”.

Iya …

Sah-sah saja dia berkata seperti itu. Namun mungkin dia lupa bahwa teori “ini Ibu Budi, Budi pergi ke sekolah, atau Bapak Budi sedang ke sawah”. Kalimat singkat seperti itu sangat sederhana namun bagi yang baru belajar membaca sangatlah sulit untuk mengeja nya. Berangkat dari ‘teori’ ini Ibu Budi pada akhirnya kita bisa membaca kehidupan yang lebih luas. Itu satu.

Iya …

Mungkinkah kita bisa langsung membaca Al-Qur’an tanpa ‘teori’ alif, ba, ta, tsa dan seterusnya? Atau kita bisa langsung mengerjakan sholat tanpa tahu Al-Fatihah dan rukun serta syarat-syaratnya? Mungkin bisa, tapi hanya gerakan saja karena ‘kosong teori’. Itu dua.

Iya …

Jangan lupa di era 4.0 ini kita dipaksa hidup berdampingan dengan dunia internet. Ketika kita ingin mencari informasi di internet ‘teori’-nya adalah tertuju pada google. Prakteknya adalah kita searching. Itu tiga.

Hmm …

Mencemooh orang-orang yang membuat kata mutiara seakan hanya pandai berkata-kata. Penulis tidak setuju, justru membuat kata-kata mutiara itu memerlukan suatu peristiwa kehidupan yang terlintasi terlebih dahulu baru bisa di ‘teori’-kan. Itu empat.

Misal kita jumpai ada kata mutiara seperti ini: jika anda berdoa ingin melihat pelangi dan tuhan turunkan hujan, maka jangan pesimis bahwa doa tidak terkabul.

Mungkin saja ‘teori’ yang membuat kata mutiara seperti itu penuh makna di dalamnya. Karena ada proses dengan hujan terlebih dahulu baru biasanya pelangi akan muncul.

Semoga sampai disini bisa memahami dan tidak membenci ‘teori’.

Hmm … penulis ingin lanjutkan sruput jahe merah dan dengarkan lagu “tak kan ada cinta yang lain” versi cover.

Edt: Redaksi (AN)