Amir Jawas Tuding Kebijakan PT. AMNT Sengsarakan Rakyat Lingkar Tambang

Foto: Ist

“Sejak PT. AMNT menerapkan kebijakan mewajibkan karyawannya tinggal di camp dalam lokasi tambang, perekonomian masyarakat lingkar tambang semakin lesu dan kian memburuk”

Jakarta (Bintangtimur.net) – Salah satu tokoh pendiri Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), H. Amir Jawas mulai menyoroti sejumlah kebijakan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (PT AMNT). Pasalnya, sejumlah kebijakan yang dikeluarkan PT AMNT belum mampu melahirkan kesejahteraan bagi masyarakat lingkar tambang.

Prihatin dengan kondisi tersebut, H. Amir Jawas angkat suara dan menuding bahwa kebijakan yang dikeluarkan PT AMNT tidak pro rakyat dan berimplikasi terhadap lumpuhnya ekonomi masyarakat sekitar.

“Sejak PT. AMNT menerapkan kebijakan mewajibkan karyawannya tinggal di camp dalam lokasi tambang, perekonomian masyarakat lingkar tambang semakin lesu dan kian memburuk. Seharusnya dengan keberadaan tambang diharapkan ada putaran ekonomi, sehingga masyarakat yang hidup berdekatan dengan tambang dapat hidup dan merasakan manfaat dari keberadaan tambang,” ungkap H. Amir Jawas di kediamannya, Rabu (6/1/2021).

Menurut H.Amir Jawas, kebijakan yang mewajibkan karyawan tinggal di camp tidak hanya berimbas pada lesunya ekonomi lingkar tambang namun akan menciptakan kemiskinan terstruktur yang akan menyengsarakan masyarakat lingkar tambang.

Foto: Ist

“Parameternya sederhana, semakin ekonomi masyarakat melemah akibat dari lesuhnya putaran ekonomi maka akan melahirkan kemiskinan terstruktur. Dan realitas tersebut memberikan gambaran terang bahwa masyarakat lingkar tambang menjadi korban yang dibenarkan atas nama kemakmuran segelintir pihak,” jelas Bang Haji sapaan akrab H. Amir Jawas.

Bang Haji menambahkan, pada intinya kemiskinan yang terjadi di lingkar tambang merupakan kemiskinan by-design yang sengaja dilakukan oleh management Amman Mineral.

“Lingkar tambang saat ini, telah menjadi daerah mati. Seluruh kegiatan usaha yang berhubungan dengan PT AMNT mendadak macet akibat dari mewajibkan karyawannya tinggal di camp, tentu ini merugikan warung makan, pedagang osongan, tukang ojek, kontrakan, dan pariwisata serta pertanian,” urai bang haji.

Lanjutnya, orang yang dilingkungan tambang saja tidak bisa menggantungkan hidup dari tambang, lalu bagaimana dengan masyarakat yang jauh dari tambang. Karena kita dirikan KSB agar kesejahteraan bisa lahir di Kabupaten yang kita cintai ini.

“Selama kepentingan rakyat masih diabaikan, maka PT Amman Mineral akan berhadapan denga H. Amir Jawas. Dan praktek kebijakan PT Amman selama ini sudah sangat bertentangan dengan semangat kita dirikan KSB, dan sama saja perusahaan Amman ini mengajak perang,” pungkasnya.

Dalam kesempatan itu, H.Amir Jawas juga menyoroti penerapan roaster kerja PT AMNT yang dinilai merugikan karyawan, karena implikasi penerapan dari roaster kerja dengan skema 8: 2: 2 sangat berat bagi karyawan dan potensi buruknya kurang waktu luang bersama keluarga.

“Penerapan roaster kerja ini akan berdampak berimplikasi terhadap tumbuh kembang seorang anak karena ditinggal terlalu lama sama orang tuanya, apalagi ditengah Pandemi seperti ini peran orang tua sangat dibutuhkan untuk pembentukan karakter dan prilaku anak,” urai Bang Haji.

Bang Haji menyampaikan rasa keprihatinan dengan kondisi karyawan dengan keputusan perusahaan tanpa melalui proses pertimbangan dengan memperhatikan semua aspek baik dari aspek keselamatan kerja dan aspek psikholigis keluarga.

“Perusahaan juga semestinya memperhatikan dampak psikis bagi karyawan yang tidak dapat bertemu dengan keluarga selama 8 Minggu hari kerja ditambah dengan 2 minggu masa karantina (isolasi),” tutup H. Amir Jawas. (AF)

Edt: Redaksi (AN)