Anatomi Garis Keras

Foto (Ist): “Kalau tidak mau kalah, ya monggo tapi jangan lagi mau menyakiti yang lain. Katanya ingin merajut kedamaian dan persatuan”

Oleh: Asp Andy Syam (Peduli Kepemimpinan Bangsa)

Jakarta (Bintangtimur.net) – Yang keras itu bukan agamanya tapi budayanya. Pemimpin yang mengatakan garis keras adalah terpenjara dengan masa lalu.

Menang atau kalah itu kan hakekat pertarungan dalam demokrasi dengan sistem one man one vote. Tapi kenapa sih kalau kalah di suatu Propinsi lalu dibuat ribut-ribut dan balik menuduh karena Propinsi Itu Islam garis keras.

Kalau tidak mau kalah, ya monggo tapi jangan lagi mau menyakiti yang lain. Katanya ingin merajut kedamaian dan persatuan.

Renungkanlah kearifan universal : “Jangan perlakukan saudara mu dengan suatu perlakuan yang kamu juga tidak mau diperlakukan sama”.

Maaf ya, kalau kita mau buka-bukaan mari gunakan akal sehat. Tentu kalau pihak yang menang diwilayah non Muslim bisa juga disebut Kristen atau Hindu/Budha garis keras.

Setujukah..?Ayo kalau kita mau buka-bukaan. Di Sulut, NTT, Bali, Capres Nomor 01 menang sekitar 70-90 % bagaimana kalau itu disebut Non Muslim garis keras (radikal)..?. Juga sesuai hasil eksplorasi kami, di semua pemukiman perumahan elit kelas atas di kota-kota besar dan sekitarnya, dimana perumahan itu dihuni non-pribumi (non-muslim) capres Nomor 1 menang sekitar 80-90 %.

Tapi di pemukiman perumahan kelas menengah kebawah dihuni mayoritas pribumi (muslim) capres Nomor 2 hanya menang tipis sekitar 55-60 % dan Nomor 01 kalah tipis sekitar 40-45 %. Renungkanlah dan simpulkan sendiri. Jadi sesungguhnya siapakah pemilih radikal (rasialis) dan siapa yang moderat ..?.

Itulah kondisi objektif masyarkat kita. Lalu kenapa diributkan?. Bisa kontra produktif pada usaha memelihara kerukunan, kedamaian dan persatuan. Di AS sendiri yang menjadi model demokrasi liberal, mayoritas muslim memilih Capres dari partai Demokrat karena sejarahnya partai demokrat akomodatif dengan aspirasi muslim dan tokoh-tokoh partai demokrat gigih membela persamaan dan anti rasial. Jadi dalam masyarkat yang maju selalu ada pertimbangan rasional dalam menentukan pilihan.

Mohon maaf sebelumnya sang senior dan sang guru Prof. Mahfud MD. Tarikan politik membuat sungguh sangat tidak ilmiah dan emosional. Sungguh disayangkan karena dikenal sebagai tokoh moderat, tapi menggunakan Mindset dengan pendekatan yang bisa ditafsir radikal untuk adu-domba dan konflik dengan menyatakan bahwa Propinsi yang memenangkan Capres Nomor 02 adalah Islam garis keras.

Mengapa harus mengatakan itu, walaupun ingin berpihak tapi, ya sang guru, hati-hati jangan makin buat keruh suasana. Semua memerlukan suasana kondusif untuk maju bersama.

Dari sudut pandang Carol S. Dweck, Phd, dalam buku Mindset, dapat diketahui bahwa dia yang menyebut Islam garis keras yang memenangkan Capres Nomor 2 adalah orang yang bermindset tetap bukan bermindset tumbuh. Mana mungkin negara bisa maju kalau pemimpinnya bermindset tetap, selalu berfikir ke masa lalu.

Tidak melihat dinamika perubahan. Tidak menghargai perbedaan dan peluang untuk memilih yang berbeda. Asal bunyi. Dia masih berfikir pada suasana tahun 1950-an yang sarat konflik paska kemerdekaan RI karena ketidak mampuan pemerintah pusat memahami aspirasi daerah yang plural. Seperti ingin menarik mundur bangsa ini ke zaman yang dulu. Zaman yang sudah usang.

Zaman itu, intelegensia bangsa Indonesia masih rendah sehingga penuh emosional menghadapi perubahan dan masa depan. Akibatnya timbul konflik antara pusat dan daerah. Tapi kebanyakan konflik adalah masalah internal militer.

Membaca Perubahan

Sadarilah dan pandai-pandailah membaca perubahan zaman. Bahwa sekarang zaman sudah berubah. Kini zaman komunikasi teknologi digital dan zaman milenial. Zaman pembelajaran dan rasionalitas, membuat intelegensia manusia Indonesia makin tinggi dan cerdas. Hampir tak ada lagi jarak. Pengetahuan dan informasi setiap saat lewat dan mudah diperoleh.

Karena itu, dalam memilih pemimpin, mereka bukan lagi emosional, tapi telah menggunakan intelegensia dan rasionalitas. Mereka menyadari kebebasan dan hak asasi untuk menentukan pilihan pemimpin. Mereka memilih berdasarkan akal sehat.

Mereka tahu pemimpin yang terbaik buat masa depan bangsa, negara dan anak cucu generasi. Mereka tahu pemimpin yang amanah, tegas dan tidak berpura-pura, lain di mulut, lain dihati. Mereka tahu pemimpin yang suka ingkar janji.

Mereka tahu pemimpin yang bisa jadi boneka asing. Mereka tahu pemimpin yang cinta dan membela NKRI, Pancasila dan UUD 1945. Semua pengetahuan menjadi rujukan mereka dalam memilih pemimpin.

Ingatlah…! Sesungguhnya Allah melarang mengikuti sesuatu tanpa penģetahuan, karena sesungguhnya penglihatan dan pendengaran akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah (Qs. 17: 36). Layakkah mereka disebut garis keras karena menggunakan pengetahuan itu dalam memilih pemimpin. Hanya orang yang berdosa dan merupakan kezaliman yang menuduh mereka garis keras. Semoga Allah mengampuninya.

Jadi, jangan sembarang menuduh apalagi memvonis kalau orang-orang memilih pemimpin itu dan tidak memilih pemimpin ini, berarti Islam garis keras. Sangat emosional dan tidak logis diera kemajuan ilmu pengetahuan.

Ketahuilah bahwa istilah garis keras dikaitkan dengan agama (Islam) kurang tepat. Seperti memasangkan baju yang tidak pas. Sesungguhnya istilah garis keras itu adalah istilah ideologi di Eropah Barat tempat lahirnya berbagai macam ideologi seperti Marxisme (Komunisme), Humanisme Sekuler, Feminisme dsb. Keras dalam pengertian methode berfikir dan aksinya untuk mewujudkan cita-cita ideologi. Seperti komunisme yang menganjurkan revolusi (cara kekerasan) untuk mencapai tujuannya.

Rahasia kebesaran Islam

Esensi ajaran Islam adalah membangun kepribadian yang lembut, pemaaf dan menutupi keburukan saudaranya, senantiasa memelihara persaudaraan dalam musyawarah dan tawakkal kepada Allah dalam segala usaha (Qs. Ali Imran: 159).

Kalau saja Rasulullah kehilangan sikap kelembutan sudah pasti dijauhi orang-orang dan pengikutnya. Para Tabi’in dan para Ulama juga senantiasa memelihara kelembutan dalam mengemban dakwah. Kelembutan dimaknai sebagai cara yang persuasif. Inilah rahasia sukses syiar dan kebesaran Islam.

Inilah rahasia sehingga Rasulullah Muhammad jadi teladan dan pemimpin yang besar dan paling berpengaruh, baik pada tataran dunia maupun spiritual (akhirat) (Lihat Michael Hart, 100 Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Sejarah).

Kelembutan adalah rahasia sukses dakwah dalam menyampaikan risalah Islam sepanjang masa. Sedangkan sikap keras adalah situasional atau dalam keadaan tertentu terutama untuk bela diri (defensif). Sikap keras itu seringkali mengalah dengan pemberian maaf yang lebih baik dari pada bersikap keras.

Hal ini dicontohkan oleh tokoh legendaris dan pahlawan Islam terkemuka yaitu Salahuddin Ayyubi (Baca buku John Man, Salahuddin Ayyubi). Salahuddin Ayyubi memaafkan musuh yang tidak berdaya. Menolong dengan membagikan harta rampasan perang kepada kaum perempuan dan anak-anak dari keluarga musuh. Sungguh mulia hati sang Pemimpin besar..!!

Faktor Budaya

Hendaknya bisa dipisahkan antara Islam sebagai agama dan budaya pengikutnya. Sekalipun esensi agama Islam adalah kelembutan, tetapi seringkali pengikutnya tampil dengan sikap keras karena faktor budaya.

Begitu pula kalau pengikut agama itu miskin bukan karena agamanya, tapi karena budayanya yaitu ethos kerjanya yang rendah dan kurang budaya wira usaha. Begitu pula kalau pengikut agama itu bodoh dan tertinggal bukan karena agamanya, tapi sistem pendidikannya dan budaya baca masih rendah.

Sebagaimana yang difahami oleh Malcolm Gladwell, penulis best seller AS bahwa faktor budaya yang melahirkan karakter keberanian, kerja keras, keteguhan dalam prinsip, daya saing dan sebagainya. Begitu pula karakter lemah lembut, santun, menerima, toleransi dsb bersumber dari pengaruh budaya. Suatu budaya lahir dari kebiasaan-kebiasaan hidup yang berlangsung lama dan turun temurun.

Itulah sebabnya, sekalipun pemahaman agama itu sama, tapi bisa jadi sikap dalam beragama disetiap wilayah atau siku bisa berbeda-beda karena faktor budaya lokal.

Mereka yang punya budaya penggembala atau pemburu dan pelaut tentu memiliki sikap budaya yang lebih keras, berani, tegas dan agresif dibandingkan dengan mereka yang punya budaya petani (cocok tanam) yang menunjukkan budaya sabar, rajin, tekun, tabah, menerima dan sebagainya.

Umumnya di Sumatera punya tradisi berlatar belakang budaya berburu dihutan dan menggembala membuat karakter budaya keras, berani, tegas. Khusus di Sumatera Barat punya tradisi budaya saudagar juga membuat karakter tradisi budaya keras, berani, tegas. Di Sulawesi Selatan punya tradisi budaya pelaut membuat karakter masyarakatnya keras, berani, tegas dan sebagainya. Itulah di Sumatera dan Sulawesi lahir pahlawan yang berkarakter keras pada penjajah sehingga Belanda menyebutnya radikal. Itulah sebabnya penjajahan disana tidak sampai 3,5 abad.

Umumnya di Jawa dengan tradisi budaya bertani (bercocok tanam) membuat karakter budaya masyarakatnya kurang keras, kurang berani, nerimo dan penuh pengertian (toleransi). Kecuali Madura yang punya tradisi budaya pelaut. Namun karena kerasnya tekanan penjajahan (kerja paksa) membuat para Pemimpin dan rakyat bangkit melawan penjajah.

Jadi kalau ada sikap keras dalam beragama, bukan karena agamanya tapi karena faktor budayanya dan kondisi yang dihadapi. Jadi tak tepat istilah agama garis keras. Yang keras itu adalah budayanya bukan agamanya.

Namun, sikap keras itu, seketika bisa berubah karena pembelajaran dan menerima pencerahan serta dan kondisi yang telah berubah dan berbeda. Semua telah berubah. Jangan lagi melihat ke trauma masa lalu. Kalau bangsa ini mau maju jangan terpenjara dengan masa lalu, tapi lihatlah masa depan yang cerah

Mari, terimalah perbedaan dan keberagaman budaya Indonesia. Jangan suka diributkan karena hanya kontra produktif dengan usaha membina kerukunan, kedamaian dan persatuan Indonesia.

Edt: Redaksi (AN)