Antara Koalisi dan Oposisi Dalam Demokrasi Kita

Foto: (Doc. Jacob Ereste)

“Sikap oposisi Sandiaga Uno pun harus konsisten mengkritisi semua kebijakan dan program pemerintah hingga hasil pekerjaannya yang tidak becus”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – “Aku suka pilihan sikap Sandiaga Uno yang teguh dan tegar”.

Pilihan sikap Sandiaga Uno untuk memposisikan diri sebagai oposisi dalam pertarungan politik di Indonesia untuk tahun 2024 mendatang sungguh terpuji.

Setidaknya masih bisa bergarap pada dukungannya sebagai Cawapres bersama Prabowo Subianto saat menghadapi pasangan Joko Widodo bersama H. Ma’ruf Amin pada Pilpres 2019. Bagi Sandiaga Uno Pilpres 2019 memang pantas menjaga investasi yang telah ditanamkan untuk tetap dan terus dipelihara agar bisa memetik buahnya pada Pilpres mendatang.

Apalagi sejak sekarang duet solidnya bersama Anies Baswedan, bisa mulai dipelihara agar hasil panennya kelak sungguh dapat menghasilkan buah yang matang dan lezat.

Ibarat bercocok tanam, Sandiaga Uno pada Pilpres 2019 telah menyemai benih yang unggul seperti Barisan Emak-emak Militan yang kelak akan menjadi ujung tombak panen raya pada Pilpres 2024.

Dimana pesaing terdahulu sudah semakin renta, sementara yang muda yang akan muncul, kemudian belum juga ada yang bisa memiliki bobot setangguh Sandiaga Uno dan Anies Baswedan atau sebaliknya.

Sikap Sandiaga Uno memilih oposisi agaknya memahami benar aspirasi para pendukungnya sewaktu menjadi pasangan Prabowo Subianto, yang menghandaki mimiliki sikap tegar dengan santun dan halus menyatakan menolak acara rekonsiliasi yang tidak jelas juntrungannya itu, kecuali lebih terkesan untuk berbagi kekuasaan.

Jika pun benar adanya kekuasaan yang hendak dibagi-bagikan itu, porsinya toh tidak akan lebih baik dari bersikap tegar berdiri di luar istana untuk mencermati banyak yang tercecer atau dilupakan lagi setelah Pemilu berlalu. Toh, sudah pernah ada lagunya bahwa janji tinggal janji. Bulan madu pun sekedar mimpi.

Pernyataan tegas Sandiags Uno sebagai pendatang baru dalam kancah perpolitikan Indonesia yang selalu terkesan tidak genah, baru sekarang memancarkan cahaya terang yang memberi isyarat akan adanya suasana yang cerah di masa mendatang.

Bagi Sandiaga Uno waktu lima tahun ke depan agaknya lebih dari cukup memantapkan diri sebagai generasi muda yang mampu dan bisa mewujudkan harapan segenap warga bangsa Indonesia untuk sepenuhnya berdaulat, mandiri dan berkepribadian dalam budaya, termasuk dalam politik, tidak mencla-mencle karena orientasi cuma untuk kekuasaan belaka, seperti telah banyak diperlihatkan oleh para bajing loncat dalam partai politik kita.

Oleh karena itu Sandiaga Uno pun boleh ikut aktif mendukung perbaikan UU Pemilu agar ambang batas untuk partai yang hendak mencalonkan Presiden tidak perlu dibatasi, kecuali syarat yang mengharuskan sang calon presiden adalah orang pribumi asli.

Sikap oposisi Sandiaga Uno pun harus konsisten mengkritisi semua kebijakan dan program pemerintah hingga hasil pekerjaannya yang tidak becus. Karena kalau cuma mengamini saja apa yang dilakukan pemerintah, lalu apa bedanya dengan mereka yang sudah memilih menjadi koalisi.

Sebab, oposisi konon kisahnya dari negeri asalnya memang menjadi bagian dari penanda budaya demokrasi yang paripurna. Meski sampai sekarang yang namanya demokrasi itu masih asing dan membuat orang banyak masih merasa gamang.

Apa boleh buat, begitulah demokrasi yang tidak pula boleh kita telah dengan bulat-bulat. Karena demokrasi itu sendiri bukan obat bagi bangsa kita.

Edt: Redaksi (AN)