Armenia Tuding Azerbaijan Melanggar Perjanjian Gencatan Senjata

Foto: Google

“Untuk sekali lagi telah melanggar gencatan senjata kemanusiaan, musuh menembakkan peluru artileri ke arah utara dari 00:04 hingga 02:45, dan menembakkan roket ke arah selatan dari 02:20 hingga 02:45,”

Jakarta (Bintangtimur.net) – Pemerintah Armenia menuding Azerbaijan melanggar perjanjian gencatan senjata baru yang disepakati pada Sabtu (17/10) dini hari lalu. Perjanjian itu dilakukan guna meredam konflik pertempuran selama berminggu-minggu di wilayah Nagorno-Karabakh yang telah merenggut ratusan nyawa.

“Untuk sekali lagi telah melanggar gencatan senjata kemanusiaan, musuh menembakkan peluru artileri ke arah utara dari 00:04 hingga 02:45, dan menembakkan roket ke arah selatan dari 02:20 hingga 02:45,” kata Juru bicara kementerian pertahanan Yerevan Shushan Stepanyan dalam akun twitternya (@ShStepanyan) yang diunggah Minggu (18/10).

Sebelumnya, gencatan senjata yang terjadi pada Sabtu (17/10) kemarin dilakukan menyusul eskalasi besar yang menyaksikan serangan rudal menewaskan 13 orang termasuk anak-anak kecil di Azerbaijan. Atas insiden itu, Presiden Ilham Aliyev bersumpah untuk ‘membalas dendam’.

Gencatan senjata itu dilakukan usai sebuah serangan rudal menerjang sejumlah rumah di kota Ganja, Azerbaijan, pada Sabtu (17/10) dini hari. Seorang saksi mengaku melihat tujuh korban ditarik dari reruntuhan puing. Serangan tersebut terjadi beberapa jam setelah penembakan di ibukota Nagorno-Karabakh, Stepanakert, sekaligus menjadi tanda peningkatan baru dalam konflik Azerbaijan-Armenia.

AFP melaporkan sebuah gedung runtuh akibat serangan tersebut, masyarakat pun menangis dan masih mengenakan pakaian tidur dan pakaian mandi serta sandal tidur.

“Kami sedang tidur dan tiba-tiba kami mendengar ledakan itu. Pintu, kaca, semuanya pecah di atas kami,” kata Durdana Mammadova (69) yang merupakan warga terdampak.

Uni Eropa Sesalkan Serangan

Uni Eropa sebelumnya telah mengecam serangan tersebut dan mengatakan kesepakatan gencatan senjata yang asli harus dihormati sepenuhnya dilakoni tanpa penundaan.

“Semua yang meneror warga sipil oleh salah satu pihak harus dihentikan,” kata Juru Bicara Kepala Urusan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell, Sabtu (17/10).

Tak hanya Uni Eropa, Turki selaku sekutu Azerbaijan yang dituduh memasok tentara bayaran turut menegaskan bahwa serangan itu adalah kejahatan perang dan meminta masyarakat internasional untuk bersama-sama mengecam konflik Armenia-Azerbaijan.

Sebagaimana diketahui, konflik lama di Nagorno-Karabakh kembali meletus pada 27 September lalu dalam situasi yang penuh perdebatan dan mengancam kekuatan regional Rusia dan Turki.

Wilayah pegunungan di barat Azerbaijan tersebut tetap di bawah kendali separatis etnis Armenia sejak gencatan senjata 1994 yang mengakhiri perang enam tahun dan menewaskan 30 ribu orang. (NH)

Edt: Redaksi (AN)