Belajar Filsafat Lagi Bro

Foto: Google

“Faktanya puluhan ribu yang jemput HRS sehingga tol macet, sejumlah penerbangan dicancel, dan seterusnya”

Oleh: Djoko Edhi Abdurrahman

Jakarta (Bintangtimur.net) – Ngapain Ahmad Sahal nyindir? Iri. Pasti kayak Mahfud MD. Mengecilkan HRS dengan harapan HRS kecil. Tapi berubah dusta fitnah, dan hate speech, kriminal. Terus si Sahal ngeles, banyak massa belum tentu benar, apa hubungannya? (Belajar Filsafat lagi Bro).

Ini kata Netizen: “Suka meremehkan dan mungkin dikiranya yang menyambut hanya 200 atau 300 orang tapi ternyata berjibun. Seharusnya BIN tahu sejak kemaren ribuan masa sudah bergerak dari Tasik, Bandung dan daerah lainnya. Warga sekitar Jakarta seperti Bekasi, Depok, Tanggerang dan Serang bergeraknya tadi subuh“.

Faktanya puluhan ribu yang jemput HRS sehingga tol macet, sejumlah penerbangan di cancel, dan seterusnya. Jalanan dipenuhi massa. Itu fenomena HRS. Massa NU tak pernah berkumpul seperti itu, kecuali pada impeachment Gus Dur. Itu pengerahan massa. Ada 500 ribu. Di sini kalahnya NU dari HRS. Mereka mestinya bikin rusuh, kata Agus Miftah, imam besarnya Wahdatul Ummah. Maksudnya, dengan rusuh ada kesempatan Gus Dur mengeluarkan dekrit untuk menghambat impeachment itu. Tapi massa hanya bergerombol di depan istana, sholat di situ. Ya tak rusuh. Dan Gus Dur pun jatuh.

Beda dengan massanya HRS: militan. Karena terlatih nahi mungkar (menolak kejahatan). Sedang NU terlatih amar ma’ruf (mengajak ke kebaikan). Dalam suatu gerakan, lebih penting massa militan daripada massa banyak tapi melempem. Dan memang, massa NU tidak terlatih berdemo.

Edt: Redaksi (AN)