Berbuat Kebaikan Adalah Sedekah

Foto (doc.Norman Arief)

“Sudah jelas sekali bahwa perilaku kebaikan dicatat sebagai sedekah”

Oleh: Norman Arief

DEPOK (Bintangtimur.net) – Nikmatnya menjadi orang islam adalah setiap kebaikan itu dihitung sebagai sedekah. Ada kalanya tanpa disadari kita telah melakukan kebaikan. 

Atau memang sebenarnya sedang merencanakan kebaikan. Bahkan telah berbuat kebaikan. Hal tersebut sebenarnya masuk dalam kategori sedekah. Iya, karena penulis menemukan dalil hadist seperti dibawah ini:

عَنْ أَبِـيْ ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوْا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا رَسُوْلَ اللّٰـهِ ! ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِاْلأُجُوْرِ ؛ يُصَلُّوْنَ كَمَـا نُصَلِّـيْ ، وَيَصُوْمُوْنَ كَمَـا نَصُوْمُ ، وَيَتَصَدَّقُوْنَ بِفُضُوْلِ أَمْوَالِـهِمْ. قَالَ : «أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللّٰـهُ لَكُمْ مَا تَصَدَّقُوْنَ ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً ، وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً ، وَكُلِّ تَـحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً ، وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً ، وَأَمْرٌ بِالْـمَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ ، وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ ، وَفِـيْ بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ». قَالُوْا : يَا رَسُوْلَ اللّٰـهِ ! أَيَأْتِـيْ أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ ؟ قَالَ : «أَرَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِـي حَرَامٍ، أَكَانَ عَلَيْهِ فِيْهَا وِزْرٌ ؟ فَكَذٰلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِـي الْـحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرًا»

Dari Abu Dzar, RA. Bahwa beberapa orang dari Sahabat berkata kepada Nabi Saw,: “Wahai Rasulullah. Orang-orang kaya telah pergi dengan membawa banyak pahala. Mereka shalat seperti kami shalat, mereka puasa seperti kami puasa, dan mereka dapat bersedekah dengan kelebihan harta mereka.”

Beliau Saw, bersabda: “Bukankah Allah Swt, telah menjadikan bagi kalian sesuatu yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya pada setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, menyuruh kepada yang ma’ruf adalah sedekah, mencegah dari yang mungkar adalah sedekah, dan salah seorang dari kalian bercampur (berjima’) dengan istrinya adalah sedekah.”

Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah. Apakah jika salah seorang dari kami mendatangi syahwatnya (bersetubuh dengan istrinya) maka ia mendapat pahala di dalamnya?” Beliau menjawab: “Apa pendapat kalian seandainya ia melampiaskan syahwatnya pada yang haram, bukankah ia mendapatkan dosa? Maka demikian pula jika ia melampiaskan syahwatnya pada yang halal, maka ia memperoleh pahala.” (Hr. Muslim).

Hadist diatas sebagai penguat prolog bahwa setiap kebaikan adalah sedekah.

Di dalam hadits tersebut terdapat dalil bahwa orang-orang miskin ingin seperti orang-orang kaya dalam mendapatkan pahala sedekah dengan harta.

Kemudian Nabi Saw, menunjukkan kepada orang-orang miskin tentang sedekah-sedekah yang mampu mereka kerjakan.

Sedangkan amalan yang baik meski sederhana bisa menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, tentunya diiringi dengan niat yang benar.

Begitu banyak jalan kebaikan, dimana jika seorang hamba tidak mampu melakukan satu kebaikan maka ia mampu melakukan kebaikan yang lainnya sesuai dengan kemampuan dan cara yang disanggupi.

Bahkan Al-qur’an menganjurkan untuk fastabaghulkhairat, yakni berlomba-lomba dalam kebaikan:

وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ

Dan tidak ada (pula dosa) atas orang-orang yang datang kepadamu (Muhammad), agar engkau memberi kendaraan kepada mereka, lalu engkau berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,” lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena sedih, disebabkan mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan (untuk ikut berperang). (Qs. At-Taubah, 92).

Dalil Quran lainnya sebagai berikut:

وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

“…Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (Qs. Al-Muthaffifîn. 26).

Jadi berdasarkan dalil hadist maupun quran diatas. Sudah jelas sekali bahwa perilaku kebaikan dicatat sebagai sedekah. Jadi bukan hanya pengertian sedekah diartikan sebagai dikeluarkannya harta semata.

Memang benar ada hadist yang menekankan pada konteks harta.

“Tidak akan pernah berkurang harta yang disedekahkan kecuali ia bertambah.” (Hr. At-tirmidzi).

Namun hendaknya harta bukanlah dijadikan alat ukur untuk sedekah.

Apalagi dalam musim politik saat ini. Hendaknya berbuatlah kebaikan meski beda pilihan. Marilah kita berbuat kebaikan untuk menyelamatkan bangsa.

Semoga bermanfaat.

Edt: Redaksi (Bintangtimur.net)