Biografi Singkat Syeikh Abdul Qadir Jailani

Foto (Ist): “Sulthonul Auliya rahimahullah ini menetap di kota kelahirannya hanya sampai umur 18 tahun”

Jakarta (Bintangtimur.net) – Nama lengkap Sulthanul Auliya ini adalah Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abi Salih bin Janki Dusti bin Yahya Muhammad bin Daud bin Musa bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Beliau adalah termasuk ahlul bayt atau keturunan Rasulullah Saw.

Tokoh sufi ini dilahirkan dikota Jilan pada pertengahan bulan Ramadhan tahun 471 H dari pasangan suami-istri Ali bin Abi salih Abdullah Janki Dusti dengan Umul Khoer Fatimah binti Abi Abdullah As-Sawma’i.

Ibundanya termasuk ahlul bayt juga, ayahandanya adalah Abi Abdullah As-Sawma’i anak dari Sayyid Abi Jamaluddin Muhammad bin Abi Al-Ata Abdullah bin Kamalauddin Isa bin Muhammad Al-Jawwad bin Ali Ridha bin Musa Al-Kadzim bin Ja’far Shodiq bin Muhammad bin Al-Baqir bin Zaenal Abidin bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib.

Sulthonul Auliya rahimahullah ini menetap di kota kelahirannya hanya sampai umur 18 tahun, kemudian hijrah ke kota Baghdad hingga wafatnya. Menurut Syeikh Al-Baghdadi rahimahullah dalam kitabnya “Al-Marasyid” nama Jailani sebenarnya bukan nama kota, akan tetapi nama suatu kawasan yang terletak diseberang daerah Tabaristan yaitu sebuah kawasan yang terletak antara pegunungan Tabaristan dan pantai selatan Laut Kaspiya. Sekarang wilayah ini menjadi salah satu Provinsi Republik Islam Iran.

Syeikh Abdul Qadir, belajar membaca Al-Qur’an dan memperdalam tafsirnya pada Syeikh Abi Al-Wafa Ali bin Aqil dan Abi Al-Khatab Mahfud Al-Kalwajani, kedua ulama tersebut mengikuti mazhab Hanbali.

Sedangkan memperdalam hadits dan ilmu hadits berguru pada beberapa ulama, diantaranya: Abi Ghalib Muhammad bin Abi Al-Hasan Al-Balaqalani rahimahullah.

Ilmu fiqh Beliau rahimahullah dibimbing oleh ulama-ulama bermazhab Hanbali dari Jilan, yakni Abi Said Al-Makharami rahimahullah. Mempelajari ilmu tasawuf dan ke-rohaniyahan Syeikh Abdul Qadir nyantri kepada Muhammad Al-Dabbas.

Oleh karena itu, Syeikh sufi besar ini menjadi salah seorang ulama yang sangat mumpuni dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam, sehingga Beliau menjadi salah seorang ulama yang sangat berpengaruh dan menjadi tokoh panutan umat Islam.

Sejak bulan Syawal tahun 512 H Syeikh ini menjadi pengasuh di Madrasah Abi Sa’ad Al-Makharami di Bagdad. Majelis pengajiannya sangat populer sehingga setiap Beliau  memberikan pengajian atau tausiyah tujuh puluh ribu orang lebih yang menghadirinya.

Sejak saat itu Syeikh Abdul Qadir menjadi seorang Ulama sekaligus tokoh sufi masyhur yang menyejukkan umat dan menjadi sumber mata air ruhani yang selalu memancarkan kehidupan kepada setiap manusia.

Dari fenomena tersebut, Beliau ini memperoleh gelar kehormatan dari tokoh-tokoh umat Islam yaitu:

1). Muhyl Al-Din wa Al-Sunnah

Gelar kehormatan ini membuktikan bahwa reputasi Beliau dalam membela agama Islam dan selalu mengajak umat untuk mengikuti Sunnah Rasulullah.

2). Al-Imam Al-Jahid

Gelar ini mencerminkan bahwa Syeikh sebagai seorang tokoh sufi yang memandang kehidupan, an dunia sebagai investasi untuk meningkatkan kualitas batiniyah. Dunia bukan tujuan utama dalam hidup, bukan ujung dalam perjalanan, dan bukan segala-galanya.

3). Al-‘Arif Al-Qudwah

Kehormatan ini membuktikan bahwa tingkat kesufian Syeikh sudah mencapai Maqam ‘Arif Billah. Sehingga kualitas ruhaniyahnya pantas menjadi Al-Qudwah(suri tauladan) bagi para pencari jalan ruhani.

4). Syeikh Al-Islam

Maqam ini hanya berhak diberikan kepada ulama ahli fiqh dan ushul fiqh, sehingga mempunyai wewenang untuk memberikan fatwa-fatwa. Realitas ini sebagai bukti nyata diakuinya ke-tokohan dan ke-ulamaanya juga diterima oleh seluruh umat Islam.

5). Sulthonul Auliya

Secara bahasa kalimat tersebut berarti pemimpin para wali di jagat raya ini, sehingga Beliau disebut “Al-Qutb, Qutb Al-Aqtab, dan Al-Ghauts”, yang artinya sama dengan penghulu auliya.

6). Al-Asfiya

Yang maknanya imam atau pemimpin kaum sufi. Gelar ini membuktikan bahwa syeikh pemimpin sufi, sebagaimana terlihat pada posisi dalam struktur keruhanian para wali seperti tersebut di atas. Syeikh Abdul Qodir rahimahullah dikenal sebagai seorang alim yang zuhud dan ahli ibadah.

Beliau rahimahullah telah sampai ke maqom ma’rifat kepada Allah Swt. Syeikh rahimahullah memanfaatkan waktu pagi dan sore untuk memberikan pengajian fiqh, tafsir hadits, ilmu hadits, sastra arab, dan pendalaman ruhani.

Beliau pada mulanya mengikuti mazhab Hambali, namun akhirnya mengikuti mazhab Syafi’i. Beliau pendiri Thariqah Qodiriyah yang dinisbatkan dengan namanya.

Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani termasuk salah seorang sufi besar yang banyak menulis karya ilmiah. Menurut catatan Ghossal Nasuh Azqul, Beliau kurang lebih membuahkan karya tulisnya yang paling populer sekitar tujuh belas kitab bermutu, dan masih banyak karya-karya ilmiah yang belum terpublikasikan, diantaranya adalah:

1). Istighotsal al-‘Arifin wa Ghayat min al-Wasilin.

2). Aurad Al-Jailani.

3). Adab al-Suluk wa al-Tawassul ila Manzil al-Muluk.

4). Tuhfat al-Muttaqin wa sabili al-‘Arifin.

5). Jala’ al-Khatir fi al-Batin wa Zahir.

6). Hizb al-Roja’ wa al-Intih.

7). Du’a Aurad al-Fathiyah.

8). Du’a al-Basmalah.

9). Al-Risalah al-Ghowtsiyyah.

10). Risalah fi al-Asma al-‘Azimah li Thoriq ila Allah.

11). Al-Guniyyah li Thalibi Thariq al-Haaq.

12). Al-Fath al-Robbani wa al-Fayd al-Rahmani.

13). Futuh al-Ghayb.

14). Al-Futuhat al-Robbaniyyah.

15). Mi’raj latif al-‘Ani.

16). Bawaqit al-Hikam.

17). Sirr al-Asror.

Pada tanggal 10 Rabi’ul Akhir tahun 561 H penghulu para wali ini dipanggil kealam keabadian yaitu pada usia 91 tahun. Dimakamkan di tempat pengajiannya yaitu Madrasah Abi Sa’d al-Mukharrami di Bagdad.

Semoga bermanfaat

Sumber: Biografi Syaikh Abdul Qadir Al Jailani termuat dalam: Kitab Adz Dzail ‘Ala Thabaqil Hanabilah I/301-390, nomor 134, Karya Imam Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah.

Edt: Anton Nursamsi