Birahi Impor Indonesia Yang Membunuh Jutaan Petani

Foto: Doc. Jacob Ereste

“Cita-cita dari kemerdekaan bangsa Indonesia jelas untuk kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang berhikmat dengan cara kebijaksanaan.”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Ketika impor satu juta ton beras sedang heboh dibicarakan, tiba-tiba Budi Waseso (Buwas) langsung melapor kepada Presiden adanya ratusan ribu ton beras hasil impor yang belum terpakai. Artinya, birahi impor itu tidak dikoordinasikan dengan Badan Urusan Logistik (Bulog) yang dikomando oleh Buwas. (Detik Finance, 15 Mar 2021)

Begitulah realitasnya, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso atau yang akrab disapa Buwas menyebut tahun ini Indonesia tak akan mengimpor beras. Meski sebelumnya, sudah ada rencana dari pemerintah untuk mengimpor 1 juta ton. Jadi rencana itu bakal batal, karena masih banyak beras impor yang belum terpakai sehingga mutunya pun jadi menurun.

Setidaknya dari Perum Bulog masih memiliki stok beras impor sisa-sisa dari pengadaan tahun 2018 lalu. Jadi total dari semua pengadaan beras itu dahulu madih ada sebanyak 1.785.450 ton beras. Sisanya masih 275.811 ton beras yang belum terpakai.

Dari sejumlah itu 106.642 ton di antaranya sudah turun kualitasnya. Begitulah kata Buwas yang juga sudah melapor kepada Presiden, bahwa beras impor yang tersisa di Bulog pada Maret tahun lalu (stoknya) 900 ribu ton sisa dari 1,7 juta ton. Jadi sisa beras yang sudah menahun udianya itu kualitasnya pun sudah menurun, kata Buwas saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IV DPR RI, Senin (15/3/2021).

Meski mutu beras sisa stok itu sudah menurun kualitasnya, tapi masih layak untuk dipakai. Kata Kabulog Buwas seperti ingin meyakinkan bila impor beras pada tahun ini tidak perlu dilakukan. Toh, musim panen padi pun di Indonesia lumayan bagus. Kecuali itu harga gabah dari petani jangan sampai terus anjlok seperti sekarang cuma Rp1.600 per kilogram. Sebab petani harus dijaga jangan sampai ngambek dan kapok hingga tidak kagi mau meneruskan menanam padi.

Ancaman petani bawang putih di Batu Malang Jawa Timur patut jadi perhatian agar harga saat panen tidak lagi anjlok seperti sekarang. Bagaimana mungkin harga bawang putih cuma Rp20.000 per kilogram. Dan harga gabah cuma Rp1.600 per kilogram.

Dalam kondisi seperti ini —saat panen raya bagi petani— pemerintah harus hadir untuk menyelamatkan harga jangan sampai anjlok dengan cara membeli semua hasil panen petani itu untuk dijadikan stok pada masa paceklik nanti.

Jadi pemerintah —mulai dari pusat hingga daerah— jangan salah urus, karena masalah petani Indonesia itu hanya perlu mendapat kemudahan mendapat bibit unggul, pupuk mudah diperoleh hingga harga jual hasil panen tidak dijadikan mainan oleh para makelar atau tengkulak maupun bandar besar yang ikut memonopoli atau mengendalikan harga di pasar.

Jika distribusi benih bisa lancar, penyaluran pupuk bagus dan harga pasar mampu dijendalikan juga oleh pemerintah. Maka baru bisa dipastikan swasembada pangan —tak cuma beras— pasti bisa dicapai. Sebab logika akal sehatya, jauh sebelum Indonesia merdeka, toh sejumlah hasil bumi negeri kita bisa booming hingga membuat bangsa-bangsa asing dari negeri seberang datang ke negeri kita hanya untuk ikut menikmati hasil bumi dari negeri yang melimpah ruah hasil buminya di dunia.

Lalu mengapa setelah merdeka, Indonesia justru seperti tikus yang hidup merana di lumbung padi yang kosong?

Cita-cita dari kemerdekaan bangsa Indonesia jelas untuk kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang berhikmat dengan cara kebijaksanaan. Lantas mengapa masih harus memprovokasi rakyat dengan ajakan membenci produk bangsa asing?

Sungguhkah getar rasa nasionalisme kebangsaan dari segenap warga bangsa kita telah merapuh dan merongsok?

Sejumlah pertanyaan yang memilukan hati sungguh dapat menjadi pemicu gairah, semangat, kemarahan serta pesimistis atau optimistis yang positif sekaligus negatif sifatnya. Jadi semua itu amat sangat tergantung pada pilihan sikap dan patriotik dari rasa kebangsaan kita.

Dalam konteks ini yang pasti, bukan bagian untuk mereka yang sudah terlanjur menjadi bagian dari kaki tangan kapitalisme global yang telah beranak pinak di negeri ini dengan sebutan neo-liberalism —yang sangat egoistik— ambisius lebih rakus dan tamak dari cuma sekedar untuk mementingkan dirinya sendiri.

Begitulah birahi impor dilakulan untuk mendapat komisi dan uang pelicin, meskipun petani yang harus dijadikan tumbal untuk mengeruk kekayaan dari proses impor yang tidak wajar itu. Artinya, ketika Impor beragam macam produk yang mampu kita hasilkan sendiri itu masih terus dilakukan, maka itu semua sama saja artinya telah membunuh para petani Indonesia dengan cara yang sangat keji dan biadab. Maka itu, birahi impor yang masih dilakukan itu jelas tindak kriminal yang tidak patut untuk ditolerir dan tak bisa dimaafkan. Sungguh amat sangat terkutuk.

Edt: Redaksi (AN)