Buruh Bersatu Pasti Menang?

Foto: Doc. Jacob Ereste

“Artinya, kaum buruh dan serikat sendiri masih perlu melakukan konsolidasi ulang dalam pengertian yang luas”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Jika mau merujuk gerakan 1998 yang melahirkan reformasi, semua orang yang sudah terbilang remaja dan dewasa pasti paham yang berada pada gerakan terdepan itu adalah buruh dan mahasiswa.

Demikian juga dengan elemen apa saja dan dari mana saja yang ikut terlibat dan ambil bagian, meski tidak mau ambil resiko bergilir —misalnya— berada pada garis terdepan.

Satu di antara catatan sejarah menjelang reformasi 1998 adalah peristiwa “kuda tuli” yang terpusat di kawasan Menteng Jl. Diponegoro Jakarta Pusat. Mimbar bebas yang digelar oleh rakyat mendukung sepenuhnya sikap perlawanan PDIP yang dirasakan banyak orang telah dizalimi oleh rezim penguasa. Dan satu-satunya elemen resmi yang memberi dukungan secara terbuka adalah buruh dan serikat buruh.

Itu sebabnya dari semua posko yang didirikan di halaman kantor PDIP saat itu hanya buruh dan serikat buruh yang mendapat tempat tempat di antara semua perwakilan PDIP dari berbagai daerah yang mempunyai Posko di kantor pusat partai politik hingga namanya disebut pantas ditambahi dengan sebutan “perjuangan” sampai sekarang.

Kegigihan partai politik bergelar “perjuangan” ini pula yang menjadi magnit pendukung jadi fanatik dan gigih memberikan dukungan karena ketangguhannya mau menjadi pelopor, tauladan atau seperti bamper yang siap mengambil posisi didepan.

Lalu adakah elemen lain yang lupa disebutkan selain partai politik yang didzalimi itu bersama buruh dan yang mendapatkan dukungan penuh dari mahasiswa?

Peristiwa yang terjadi di kampus Trisakti Semanggi maupun Trisakti Grogol jelas menunjukkan peranan besar mahasiswa Indonesia dalam gerakan perlawanan terhadap rezim dispotis, represif, otoriter yang semena-mena terhadap rakyat.

Dan sejarah lahirnya serikat buruh alternatif semasa Orde Baru berkuasa menjadi jejak nyata dari perlawanan yang gigih melakukan pembebasan pada rakyat yang tertindas.

Jadi gagasan dan ide atau usulan agar kaum buruh berkolaborasi dengan elemen lain untuk sama-sama melakukan gerakan perbaikan atau menjaga kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara yang baik dan benar agar harmoni, sebetulnya bukan masalah baru. Tapi juga usaha dan upaya untuk itu memang harus terus dilakukan.

Sebab perubahan sikap dan orientasi dari masing-masing pihak pada era yang semakin runyam sekarang ini sungguh lebih berat tantangan serta pernik menik hambatan dan godaannya. Apalagi sekarang semua tata hidup dan kehidupan  sedang tergasak oleh pandemi Covid-19 yang tak kunjung rampung.

Kecuali itu, kesadaran kaum buruh dan serikat buruh pun paham adanya perang tanding yang dibangun oleh pihak-pihak tertentu untuk memecah konsentrasi, baik dalam bentuk gerakan maupun pada tataran ide dan konsep agar ikatan rasa dari kebersamaan, solidaritas atau sikap dan sifat mulia dari warga bangsa Indonesia untuk bergotong royong pun terus digerus supaya  tidak menjadi kekuatan yang bisa menjadi andalkan rakyat.

Perang tanding dalam tampilan bentuknya yang paling modern adalah aneksasi ekonomi, agresi budaya dan embargo politik dengan kemasan yang memukau. Hingga lalai dan alfa bila sesungguhnya setiap orang tengah berada di medan perang yang maha dahsyat dan tergawat.

Itulah sebabnya pilihan bijak dari para pemikir dan pengamat yang arif tak hendak masuk wilayah keagamaan yang juga telah dijadikan oleh mereka sebagai wilayah konflik yang paling gampang untuk dikobarkan api kemarahannya.

Termasuk buruh dan serikat buruh yang secara tidak langsung mendapat dukungan —kamuflase— membuat organisasi sebanyak-banyak, agak tak bersatu seperti slogan yang selalu diteriakkan dengan heroik  oleh kaum buruh bahwa “kaum buruh bersatu, pasti menang“.

Padahal, slogan kaum buruh yang sekilas terkesan heroik ini, sesungguhnya memaknai kaum buruh sebetulnya belum bersatu. Seperti bukti nyata dari upaya menghadang RUU Omnibus Law Cipta Kerja, toh sekarang telah menjadi UU No. 11 Tahun 2020 dan terus beranak pinak dengan turunan-turunannya yang harus dihadapi oleh kaum buruh dan serikat buruh sekarang.

Artinya, kaum buruh dan serikat sendiri masih perlu melakukan konsolidasi ulang dalam pengertian yang luas. Paling tidak dari semua hal yang bersifat internal, jika sungguh diharap bisa memasuki wilayah eksternal. Agaknya, seperti itu pula elemen lain yang sangat menaruh harapan pada kaum buruh dan serikat buruh di Indonesia agar dapat menjadi penarik gerbong menuju perbaikan seperti yang terlanjur diharap oleh banyak pihak.

Edt: Redaksi (AN)