Burung Beo Mas Kadir Yang Fasih Melafadzkan Salam Termasuk Sila-sila Pancasila

Foto: (Doc. Jacob Ereste)

“Dan memang burung beo yang terlatih cukup pasih melafadz sapaan dalam berbagai sebutan termasuk Assalamu’akaikum”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Angin kapitalistik itu memang lebih deras dari angin jenis lainnya, bukan hanya sosialisme tetapi juga Pancasila. Agaknya karena itu BPIP (badan pangawas atau badan pelaksana atau badan penyelenggara atau atau yang lain) menjadi begitu penting sehingga tak sayang para pekerja yang terlibat di dalamnya dianggap patut diupah agak lebih mahal.

Menurut informasi yang masih perlu dikonfirmasi gajinya BPIP itu lebih besar dari gaji para menteri. Meski belum jelas pula apa saja yang harus dikerjaiannya dan apa saja yang telah dilakukannya. Toh, sejak disahkan Presiden mustahil gajinya belum dibayar seperti buruh di kawasan industri yang sempat tiga bulan belum dibayar upahnya.

Lalu bagaimana ceritanya untuk mereka yang kini ikut menjadi anggota kabinet periode kedua Presiden Jokowi sekarang. Misalnya seperti yang kita ketahui Profesor Mahfud MD yang dulu sejak zamannya Yudhi Latief termasuk pengelola BPIP, sedangkan sekarang telah menjabat Menko Polhukam.

Runyamnya Ketua BPIP yang baru (belum apa-apa) sudah membuat gaduh dan gundah warga masyarakat lantaran komentarnya yang tidak membumi karena mengawang-awang ke langit filsafat dengan mengatakan musuh utama Pancasila itu adalah agama.

Kesan dari ungkapan saneponya itu menohok Umat Islam agaknya sulitlah dibantah. Apalagi kemudian lebih nyinyir lagi mengusulkan agar sapaan Assalamu’alaikum itu katanya perlu diganti dengan Salam Pancasila. Akibatnya, Salam Pancasila jadi olok-olok banyak orang di media sosial.

Bahkan Salam Pancasila dinarasikan untuk menyapa sejumlah ragam hewan. Dan memang burung beo yang terlatih cukup pasih melafadz sapaan dalam berbagai sebutan termasuk Assalamu’akaikum.

Masalahnya toh, sapaan apapun yang dikatakan tidak bisa hanya sekedar ucapan belaka tanpa makna, tapi kandungan nilai dari sapaan yang diucapkan itu sepatutnya disadari dan dimengerti oleh siapa saja yang mengucapkan sapaan tersebut.

Itu bedanya salam yang diucapkan burung beo milik Mas Kadir di Yogyakarta itu. Memang sapaan burung beo yang unik itu  terasa menjadi penghibur diri bagi siapa saja yang disapanya.

Padahal, hanya untuk mengajari burung beo itu hingga bisa menyapa dengan ucapan Assalamu’akaikum saja harus dilakukan Mas Kadir bertahun-tahun lamanya. Apalagi kemudian burung beo itu bisa juga melafadzkan Pancasila berikut sila-silanya.

Tentu saja beda bila hendak menanyakan makna dan pemahaman serta pengertian tentang makna dari Assalamu’alsikum maupun Pancasila itu. Artinya, sapaan Assalamu’akaikum dan Pancasila itu bagi burung beo, toh sekedar hafalan semata. Dan siapa pun pasti tak hendak disamakan dengan burung beo. Kecuali mereka yang terlanjur suka membeo.

Edt: Redaksi (AN)