Dahsyatnya Staff Ahli dan Administrasi Anggota DPR RI

Foto: (Ist)

“Dahsyatnya, calon TTA diantaranya mensyaratkan adalah berijazah S2, sedangkan untuk SAA syarat minimalnya adalah S1. Lalu adakah yang mau?”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Seperti diketahui bahwa sesuai Peraturan DPR RI Nomor 3 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Tenaga Ahli Anggota (TAA) dan Staf Administrasi Anggota (SAA) DPR RI Pasal 4, setiap Anggota DPR RI mendapat 5 TAA dan 2 SAA yang nantinya menjadi ASN Tidak Tetap (sesuai Pasal 4 Peraturan DPR RI Nomor 3 Tahun 2014) untuk menunjang pekerjaan Anggota.

Dahsyatnya, calon TTA diantaranya mensyaratkan adalah berijazah S2, sedangkan untuk SAA syarat minimalnya adalah S1. Lalu adakah yang mau?

Jika saja ada seorang yang berijazah S2 mau menjadi Staf Ahli Anggota DPR RI itu, sungguh luar biasa. Partama, persepsinya yang muncul betapa hebatnya para anggota DPR RI, sehingga merasa patut mendapat staf ahli yang mau dipekerjakan dengan basis keilmua S2 yang dimiliki oleh yang bersangkutan.

Lowongan kesempatan untuk Tenaga Ahli Anggota (TAA) dan Staf Administrasi Anggota (SAA) DPR RI tengah dibuka, seperti yang tertera dalam website http://rumahaspirasirakyat.com/.

Pendaftaran pun sudah dibuka pada 1 Agustus 2019 dan akan ditutup pada 10 Agustus 2019. Dan jadwal seleksi dimulai dengan wawancara serta dikonfirmasi pada tanggal 13 Agustus 2019.

Yang tidak kalah menarik adalah kualifikasi TAA harus dimiliki pendidikan minimal S2 di bidang Hukum, Ilmu Sosial dan Politik, Psikologi Massa, Komunikasi Politik, atau Ekonomi.

Untuk SAA disebutkan harus punya kualikasi minimal pendidikan S1 bidang Administrasi Politik dan Sistem Informasi Manajemen. Dan semua lowongan itu (TAA dan SAA) harus memenuhi syarat lainnya, yaitu maksimum usia 40 tahun bagi pria dan 35 tahun bagi wanita. Serta bersedia menjadi anggota partai apabila terpilih.

Kesediaan para calon TAA dan SAA yang terpilih atau lulus seleksi, masih diminta kesediaannya untuk menjadi anggota partai dimana anggota DPR RI itu berasal.

Agaknya, dengan akal sehat, sangat mustahil seorang yang memiliki kapasitas seperti tersebut di atas mau dan berkenan untuk mengabdikan dirinya untuk seorang DPR RI lalu diharuskan pula menjadi anggota partai yang sangat mungkin belum pernah dikenalnya dengan baik serta sangat mungkin tidak sesuai dengan ideologi politik yang diyakininya.

Kalau realitasnya ada saja seorang sarjana strata S2 yang mau nengabdikan dirinya untuk menjadi Tenaga Ahli Anggota DPR RI seperti yang dimaksud di atas.

Pertanyaan yang perlu dijawab, sungguhkah strata pendidikan S2 di Indonesia hanya seperti  itu peluang dan kesempatan yang bisa diraih, seakan tidak ada peluang yang lebih baik untuk dapat mengembangkan diri dalam membina karier secara mandiri dan relatif bebas agar tidak tergantung pada pihak lain. Atau memang untuk mendapat pekerjaan yang lebih terhormat dan lebih bergengsi sekarang untuk mereka yang memiliki strata pendidikan S2 sudah begitu sulit di era milenial sekarang ini?

Jadi sungguh dahsyat sekali membayangkan seorang anggota DPR RI itu bisa memiliki 3 orang staf ahli setara S2 dan 2 orang staf ahli administrasi. Lantas bisa segera dihitung berapa jumlah staff ahli dan staff administrasi di DPR RI secara keseluruhan, jiks jumlah anggota DPR RI itu sendiri semuanya berjumlah 650 orang?

Lalu berapa nilai anggaran yang akan dihabiskan untuk semua SAA yang berjumlah hampir 2000-an orang itu? Dan berapa dana yang perlu disediakan setiap bulan untuk SAA yang jumlahnya saja lebih dari 1000 orang itu?

Kecuali itu calon pelamar TAA dan SAA yang sangat banyak itu — ingat semua berjenjang S2 — mereka juga masih diwajibkan menyertakan  curiculum vitae serta riwayat pekerjaan dan pengalaman organisasi. Bahkan yang tidak kalah gagah, semua calon SAA dan TAA harus  mempunyai toefl bahasa Inggris minimal 550 dengan bukti sertifikat dari lembaga resmi.

Syarat ini pun masih harus digenapi oleh keahlian statistika, ekonometrik, Ms. Office, dan hal lainnya yang berkaitan. Bahkan nilai IPK minimal 3,0. Sudah begitu pun para calon TAA diharuskan juga untuk melampirkan artikel ilmiah yang berkaitan dengan ilmu sesuai dengan keahlian. Kemudian, setiap calon pelamar patut bersedia membuat dan mengajukan makalah spontan (2-3 halaman) pada saat wawancara dilakukan.

Dari rilis yang dipublis oleh media massa secara meluas ini, bagi yang minat bisa mengajukan berkas ke lowongan.taadpri@gmail.com.

Tenaga Ahli dan staff administrasi anggota ini akan ditempatkan di Gedung DPR RI Senayan Jakarta, untuk wilayah Daerah Pemilihan Anggota yang bersangkutan.

Bisalah diperkirakan, 1.600 TAA dan 1.200 SAA untuk DPR RI itu sangat berkebihan, baik untuk persyaratan maupun jumlah orang yang mau diposisikan pada jabatan tersebut.

Padahal, bisa juga segera dibayangkan, betapa rumitnya kelak sistem rekruitmen dan seleksi yang perlu dilakukan, bukan saja siapa yang layak melakukan uji kompetensinya tetapi juga bagaimana bisa mengharap begitu banyak sarhana strata S2 yang bersedia bekerja hanya untuk seorang anggota dewan yang ngadem di Senayan.

Begitu juga kemudian untuk mematok SAA dan TAA menjadi anggota dari partai di mana anggota DPR RI itu berasal. Artinya, ada semacam pemaksaan atau keterpaksaan pada TAA dan SAA agar masuk menjadi anggota partai atas dasar hubungan kerja yang bersifat profesional, tidak berdasarkan kesamaan ideologi politik.

Itulah sebabnya dalam teori dan praktek, secara idealnya maupun profesional model dan cara serta target ideal dari rekruitnen SAA dan TAA untuk DPR RI itu jadi terkesan naif.

Padahal, bisa saja dilakukan dengan cara menjaring para calon TAA dan SAA itu dari para anggota SOR RI itu sendiri yang mengajukan sejumlah calon, laku diseleksi oleh tim khusus yang independen dan profesional, sehingga hasilnya bisa lebih mampu menjawab kebutuhan dari masing-masing anggota dewan yang mengajukan calon SAA dan TAA untuk dirinya kelak. Jadi tim sekeksi pun tidak bekerja sendiri.

Demikian juga dengan syarat yang terkesan arogan seperti harys S2 dan ber-toefle 550. Sementara anggota DPR RI yang akan mereka dampingi itu pun, apa mungkin semua sudah berjenjang pendidikan S2?

Edt: Redaksi (AN)