Dana CSR PT. AMNT Tak Jelas, Ekonomi Masyarakat Lingkar Tambang Memburuk

Foto: Ist

“Jika benar CSR PT. Ammman Mineral ini sudah tersalurkan ke masyarakat, meskinya ada perubahan secara ekonomi ditengah masyarakat”

Jereweh (Bintangtimur.net) – Minimnya Kontribusi PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) mengundang banyak tokoh di Jereweh mulai menyoroti dana CSR perusahaan tersebut. Bagaimana tidak, kehadiran perusahaan tersebut justru tidak menghadirkan perubahan apapun di wilayah lingkar tambang (Jereweh, Maluk, Sekongkang)

Menyikapi hal tersebut, tokoh masyarakat Kecamatan Jereweh Mursidi Fandy angkat suara terkait anggaran CSR PT. AMNT yang tidak jelas arah dan sasarannya itu.

“Jika benar CSR PT. Ammman Mineral ini sudah tersalurkan ke masyarakat, meskinya ada perubahan secara ekonomi ditengah masyarakat. Namun semenjak PT. AMNT hadir dan memegang kendali tambang Batu Hijau justru tidak ada perubahan secara signifikan bagi kelangsung hidup masyarakat,” pungkas Mursidi Fandy kepada media ini, Kamis sore (31/12/2020).

Mencermati kondisi realitas dilapangan, kata Mursidi sapaan akrabnya, pertumbuhan ekonomi masyarakat kian memburuk dan semakin lesuh karena kontribusi PT. AMNT yang nyaris nihil.

“Kehadiran AMNT sejak 2016 lalu, seharusnya memberi pengaruh dan manfaat dalam menghidupkan kembali aktifitas perekonomian masyarakat sebagai efek domino dari tambang, bukan malah kelumpuhan secara ekonomi yang terjadi,” beber Mursidi.

Mursidi melanjutkan, patut dicurigai perusahaan AMNT telah secara sengaja melumpuhkan ekonomi masyarakat lingkar tambang secara tersistem dan massif. Hal tersebut terlihat dari sejumlah kebijakan perusahaan yang tidak pro rakyat dan hanya memikirkan bisnis saja.

“Ada design politik yang dilakukan management AMNT ini sehingga membuat posisi lokal lingkar tambang semakin tidak berdaya, lewat kebijakannya yang semakin jauh dari nilai kemanusiaan dan lebih banyak mudaratnya,” tegas Mursidi.

Ia menjelaskan, khusus mencermati soal CSR dan program pemberdayaan ekonomi masyarakat lainnya, media Magaparang News mencatat dari tahun 2016 sampai tahun 2020 seharusnya keberadaan tambang Batu hijau sejak digarap PT AMNT mampu mengubah ekonomi masyarakat secara signifikan, namun faktanya justru kini soal CSR saja tidak ada kepastian dan terkesan dikaburkan

“Jauh berbeda dengan PT NNT, dimana setiap tahun baik program CSR maupun Comdevnya dibuka resmi ke publik baik dalam konfrensi Pers dengan media maupun statemen resmi oleh managemen ke Publik, berapa dana dialokasikan dan jumlah penerima manfaatnya, sampai rencana dan realisasinya bisa diakses dan dipantau langsung masyarakat, pungkasnya.

Sampai saat ini, sektor penguatan ekonomi pedagang kecil UMKM dan seterusnya, hingga kini masyarakat merasakan berjalan ditempat dan belum ada satupun perkembangan signifikan, pedagang pasar Maluk misalnya tidak sedikit para pedagang menyampaikan keluhannya di media sosial.

“Merespon hal tersebut, saya langsung menindaklanjuti dilapangan dan menemukan fakta-fakta bahwa aktifitas ekonomi masyarakat di Kecamatan Maluk utamanya mati total dan seakan tidak ada kehidupan,” tutup Mursidi.

CSR itu sendiri merupakan kewajiban perusahaan termasuk tertuang dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan yang mesti dilaporkan ke Pemerintah pusat. (AW)

Edt: Redaksi (AN)