Dawud Sang Musafir

Foto: (Doc. Norman Arief)

“Intinya dalam percakapan meja makan tersebut Dawud mengajarkan agar menjadi seorang muslim tidak boleh lemah, harus kuat jasmani dan rohani serta jadilah mujahid”

Oleh: Norman Arief

Depok (Bintangtimur.net) – Di sepertiga malam ini tiba-tiba teringat saat dua hari lalu bertemu saudara sesama umat Nabi Muhammad Saw, yang berasal dari Pakistan. Sosoknya yang gagah, usia muda, pebisnis furniture, pegulat, dan seorang Da’i.

Iya…
Sore itu usai dari bengkel motor, diri ini hendak mengunjungi toko seorang sahabat disekitar Gandul, Depok. Namun karena perut terasa lapar laju motor saya arahkan kerumah makan ‘belut’ yang memang tempat langganan, ditemani kerabat seorang wartawan media online.

Tanpa ada rencana kami dipertemukan dengan ‘Dawud’ musafir asal Pakistan oleh Allah Swt, dirumah makan tersebut menjelang maghrib.
Beliau yang kebetulan sedang ‘safar’ dalam rangka dakwah dan mengaku sedang diundang di Islamic Center Jakarta.

Pemilik rumah makan pun disapa ramah oleh Dawud dan diajak bicara. Namun karena tidak memahami bahasa si Dawud, Pak De (panggilan akrab) saya kepada si pemilik rumah makan tersebut minta tolong ke saya agar diterjemahkan bahasanya si Dawud.

Karena Dawud menggunakan bahasa Arab dialek Pakistan, saya pun kurang paham. Namun karena saya dahulu kebetulan pernah punya sahabat asal Pakistan jadi tidak terlalu kesulitan untuk memahaminya.

Dan kebetulan si Dawud bisa berbahasa Inggris dan bahasa Indonesia yang tertatih-tatih. Akhirnya percakapan dimeja makan mengalir dengan bahasa Inggris, meski diri ini juga tidak terlalu faseh namun Dawud bisa memahami percakapan kami.

Obrolan pun mengalir sambil menunggu makanan yang kami pesan. Kami bertukar pandangan baik itu fiqih, mazhab dan kesamaan antara muslim Pakistan dan Indonesia. Saya pun mengingatkan Dawud seraya bercanda bahwa penampilan dirinya bisa di’claim’ sebagai teroris.

Lantaran berjenggot tebal dan berjubah. Namun Dawud menanggapi santai bahwa ‘atribut’ yang dikenakannya semata hanya jalankan sunnah. Dia tidak perduli dan khawatir dianggap teroris, karena berkunjung ke Indonesia lengkap dengan passport dan visa alias jalur resmi.

Karena Dawud tidak tahu menu apa yang dipesan, dia memesan yang mungkin sudah dihafalnya. Nasi Goreng… chili.. chili banyak… (begitulah gaya bahasanya).

Hidangan pun tersedia, saya dan kerabat dipersilahkan makan terlebih dahulu, karena pesanan Dawud belum tersedia. Saya tidak menyantapnya meski sudah lapar karena ingin ada kebersamaan. Dawud terlihat merasa dihormati karena sikap saya dan kerabat yang memilih menunggu pesanan Dawud agar bisa sama-sama menikmati makanan.

Usai pesanan lengkap kami menyantapnya bersama, nampak Dawud kehausan dan lupa pesan minum akhirnya memesan seraya menunjuk minuman saya. Maksudnya mungkin ingin yang sama dengan saya.

Setelah pelayan mengantar minuman tersebut Dawud terbelalak setelah meminumnya, mungkin karena jeruknya asam. Spontan Dawud memanggil pelayan dan meminta… Sugar…sugar…banyak. Ya seperti itulah dinamika dan keunikan Dawud.

Baru beberapa suap suara adzan maghrib terdengar, Dawud izin agar ditunjukkan masjid terdekat dan pamit bahwa nanti usai sholat maghrib akan kembali menghabiskan makanan dan melanjutkan percakapan.

Pak De menegurku kenapa tidak sholat ditempatnya saja, saya jawab bahwa baginya masjid lebih diwajibkan. Selang berapa lama Dawud kembali dari masjid dengan ekspresi agak kecewa. Perlahan saya bertanya padanya. Sambil melanjutkan makan dia bercerita bahwa dirinya saat di masjid dicurigai dan diinterogasi tentang asal usulnya.

Dawud merasa kecewa kenapa dimasjid dicurigai, sedangkan dirumah makan ini semua serba ramah dan bahkan bisa duduk satu meja. Sedangka dirinya yang memenuhi seruan ‘bilal’ untuk sholat justru dicurigai. Padahal masjid rumah Allah dan saya sholat dirumah Allah.

Pak De yang akhirnya duduk satu meja dan mendengar hal itu sangat terpukul, begitupun saya dan kerabat. Pak De meminta saya untuk mentranslet bahasanya agar Dawud paham. Dan meminta saya untuk mewakili meminta maaf atas kejadian tersebut.

Kami menutupi bahwa memang masjid itu memiliki mazhab yang tidak umum di Indonesia. Kami berusaha agar Dawud tidak kecewa, meski Dawud paham dan curiga bahwa jamaah dimasjid tersebut berbeda mazhab.

Narasi ini sebenarnya cukup panjang namun saya berusaha meringkasnya agar pembaca tidak bosan dan tidak bersambung layaknya sinetron.

Kembali kepada Dawud, dalam percakapan ia memuji Pak De bahwa ia adalah seorang muslim yang ramah, beradab, dan dermawan. Makanya wajar memiliki usaha dan lahan serta kendaraan mewah.

Ketika saya sampaikan hal itu kepada Pak De, beliau justru tertunduk dan berkata malu saya sama Allah Swt, saya bukan siapa-siapa, ini milikNya. Luar biasa antara Dawud dan Pak De, saya melihat dan mendapatkan banyak disiplin ilmu dari mereka.

Dawud pun mengeluarkan dalil yang ditransletnya melalui ‘handphone’.
Intinya dalam percakapan meja makan tersebut Dawud mengajarkan agar menjadi seorang muslim tidak boleh lemah, harus kuat jasmani dan rohani serta jadilah mujahid.

Sedangkan Pak De mengajarkan akan makna silaturahmi dan jangan jadi pemalas jika ingin sukses. Karena Pak De sendiri mengakui bahwa dirinya hanyalah tamatan sekolah dasar.

Karena saya sudah janji harus menemui dan berkunjung ke toko sahabat maka percakapan saya hentikan. Dan juga sudah terdengar adzan isya.

Narasi ini berakhir dengan kalimat indahnya silaturahmi.

Edt: Redaksi (AN)