Diaspora Indonesia: peluang dan Tantangan -02

Foto: (Ist)

“Jangan sampai seperti di masa lalu di mana terkadang para perwakilan pemerintah justru menempatkan diri seolah ada jarak (gap) dengan diaspora”

Oleh: Shamsi Ali

Jakarta (Bintangtimur.net) – Pada bagian lalu saya menyampaikan bahwa untuk Diaspora bisa memainkan peranannya di luar negeri mereka harus melakukan pembenahan-pembenahan. Ada beberapa kekurangan yang kiranya perlu dibenahi agar tanggung jawab membawa nama besar Indonesia di luar negeri dapat dilakukan.

Di sisi lain saya yakin bahwa tanpa dukungan dan fasilitas pemerintah, khususnya perwakilan pemerintah di luar negeri, peranan diaspora itu tidak akan maksimal.

Satu hal yang perlu disadari bahwa tanggung jawab mengharumkan nama bangsa di luar negeri adalah tanggung jawab bersama (shared responsibility) seluruh komponen bangsa. Bukan hanya tanggung jawab perwakilan pemerintah yang ada di berbagai Kedutaan-kedutaan RI di berbagai belahan dunia.

Tanggung jawab itu juga ada di atas pundak setiap warga RI yang ada di luar negeri. Tentu sebagaimana saya sering sampaikan di masa lalu, warga Indonesia yang saya maksud bukan saja yang masih memegang paspor Indonesia. Tapi juga mereka yang barangkali telah mengganti kewarganegaraan.

Rasa keterikatan (koneksi) warga Indonesia di luar negeri begitu kuat. Beberapa warga Lansia (lanjut usia) di kota New York misanya, yang telah menetap di kota itu sejak tahun 50-an bahkan sebelumnya, selalu bangga dikenal sebagai warga Indonesia. Saya yakin demikian pula mereka yang ada di negara-negara lain.

Hanya saja untuk warga Indonesia di luar negeri bisa membangun rasa tanggung jawab itu, perlu dukungan dari para pejabat perwakilan RI di luar negeri. Maka para diplomat tentunya perlu membangun relasi yang baik, sekaligus menempatkan para diaspora pada posisi yang layak.

Jangan sampai seperti di masa lalu di mana terkadang para perwakilan pemerintah justru menempatkan diri seolah ada jarak (gap) dengan diapsora. Perwakilan terkadang merasa memiliki posisi yang terhormat dan warga harusnya memberikan penghormatan itu.

Akibatnya terkadang pelayanan kepada masyarakat kurang layak. Ada sikap dari beberapa pejabat perwakilan yang kurang menghargai diaspora, apalagi menempatkan mereka pada posisi yang penting dalam mengenalkan kebesaran nama Indonesia.

Akibatnya terkadang para diaspora merasa terabaikan dan kurang dihargai. Maka dengan sendirinya mereka tidak merasa memiliki tanggung jawab kebangsaan untuk ikut serta dalam upaya mempromosikan negaranya.

Beberapa kelebihan diaspora

Kalau saja kita jujur akan kita akui bahwa diaspora memang begitu sangat potensial dalam melakukan upaya promosi Indonesia ini. Atau dalam bahasa kerennya diaspora sesungguhnya bisa memainkan peranan penting dalam “diplomasi publik” (public diplomacy).

Di antara kelebihan-kelebihan diaspora dalam menjalankan diplomat publik adalah sebagai berikut:

Pertama, karena mereka memang sudah lama tinggal di negara itu maka pengetahuan mereka tentang negeri tersebut terbaharui dari masa ke masa. Dengan kata lain boleh jadi mereka sangat paham tentang apa dan bagaimana negara tersebut.

Kedua, karena mereka memang hidup di negara tersebut maka komunikasi dengan bahasa bangsa di negara itu menjadi bahasa harian. Artinya para diaspora itu memilki kemampuan bahasa atau komunikasi yang baik.

Ketiga, tidak jarang diaspora telah membangun relasi atau hubungan yang baik dengan orang-orang di lingkungan sekitarnya. Sehingga begitu mudah bagi mereka untuk membangun jaringan (networking) bagi upaya memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara Indonesia.

Keempat, tentu lebih khusus lagi bahwa ada anggota diaspora yang memang punya kapasitas “networking” yang solid, bahkan dengan pihak pemerintah dan komunitas bisnis, budaya dan agama. Hal ini menjadi aset penting bagi upaya memperjuangkan kepentingan bangsa di luar negeri.

Kelima, karena diaspora memilliki pengalaman luar di lokalitasnya maka sudah pasti mengetahui banyak tentang peluang-peluang yang ada. Baik itu peluang bisnis, pendidikan, maupun peluang promosi budaya dan lain-lain.

Dengan demikian pemerintah Indonesia seharusnya memberikan perhatian besar kepada diaspora sekaligus jeli dan cekatan menangkap peluang-peluang yang mereka bisa mainkan. Jika tidak maka potensi besar putra-putri bangsa di luar negeri tidak bermakna positif bagi kepentingan Indonesia.

Di berbagai negara di Barat, khususnya di Amerika dan Eropa, juga di Australia begitu banyak putra-putri bangsa yang potensial. Untuk memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara Indonesia mereka tidak harus kembali ke tanah air.

Tapi dengan keberhasilan mereka pada bidangnya masing-masing mereka telah memberikan kontribusi besar bagi pengenalan Indonesia di luar negeri.

Apalagi jika memang anggota diaspora itu, selain memang punya kapasitas dan potensi, juga punya kapabilitas untuk menampilkan diri di negara di mana mereka tinggal. Bahkan boleh jadi anggota diaspora tersebut memilki kapasitas dan kemampuan untuk membawa kebesaran Indonesia, tidak saja di negara di mana mereka bermukim.  Tapi juga ke dunia global yang lebih luas. Insya Allah.  (Bersambung…)

Edt: Redaksi (AN)

Udara Beograd-Frankfurt, 25 Februari

(Presiden Nusantara Foundation)