Dibayar Tunai

Foto: (Doc. Norman Arief)

“Ditempat berteduh bertemu seseorang yang telah berumur jauh diatas saya”

Oleh: Norman Arief

Depok (Bintangtimur.net) – Saat itu perjalanan saya dari Jakarta menuju Kota Depok, terhenti karena tiba-tiba hujan cukup deras. Sepeda motor yang saya beri nama si semox terpaksa harus berteduh. Bukan karena takut kotor, tapi karena memang harus menepi untuk kenakan jas hujan.

Ditempat berteduh bertemu seseorang yang telah berumur jauh diatas saya. Lelaki mendekati usia udzur yang berteduh itu menyapa saya. “Tidak usah buru-buru Mas kita tunggu saja sampai hujannya berhenti” tuturnya.

Akhirnya saya menuruti orang tersebut. Sambil menghisap kretek orang tersebut bertanya lagi, “pulang kerja Mas?” Spontan saya jawab iya.

Ahh…sok akrab juga orang ini. Tapi penasaran juga saya dengan orang tersebut. Lantas saya juga ikut membakar kretek sambil nunggu hujan berhenti.

Nah…kan enak Mas kita nikmatin sebatang kretek sambil nunggu hujan reda, ujar orang itu.

Akhirnya larut dalam perbincangan. Obrolan bebas tanpa unsur politik mengalir seiring irama derasnya hujan.

Tenang aja Mas, pasti lelah bekerja akan dibayar tunai. Kalaupun tidak dibayar tunai nanti jadi hadiah disurga.

Hmmm…apalagi maksud orang ini berkata demikian. Spontan saya tanya maksudnya apa Pak?

Lihat motor tua saya Mas, jauh dibanding motor situ. Apalagi tenaga situ jauh lebih gagah. Mengingatkan saya saat seusia situ. Sekarang saya sudah dibayar tunai ternyata.

Meski sudah tua masih bisa naik motor. Teman-teman saya sudah banyak yang meninggal dan yang hidup harus menderita stroke, jantung dan cuci darah. Ini yang buat saya bersyukur Mas. Ujar orang itu menjelaskan.

“Boleh saya cerita Mas?” Orang itu bertanya. Oiya silahkan Pak. Ia melanjutkan cerita.

Dulu saya saat bekerja dipabrik teman yang sama-sama merantau dapat musibah. Tidak sengaja merusak peralatan pabrik, akhirnya tiap bulan gajinya dipotong. Ditambah pas gajian teman saya kecopetan. Pokoknya kasihanlah.

Pulang kerja saya ceritakan dan diskusi dengan istri perihal musibah teman saya.
Alhamdulillah istri mengerti dan mendukung niat baik saya menolong teman itu.

Meski gaji saya juga pas- pasan namanya persahabatan harus dijaga. Kontrakan teman saya bantu bayarkan. Dan istri membuatkan nasi bungkus untuk kami makan saat jam istirahat. Teman saya justru sedih dan memeluk saya. Yaa..mungkin terharu ada yang membantunya.

Beberapa hari kemudian saya lihat teman saya merenung, lantas saya tanya kenapa? Dia ga mau jawab… setelah saya desak akhirnya cerita juga. Bahwa istrinya dikampung belum dikirimi uang.

Besoknya hasil diskusi dengan istri dan bongkar tabungan saya kasih Mas uang ke teman yang kena musibah itu. Lagi-lagi dia malah nangis. Saya bilang sudahlah ga usah dramatisir keadaan. Inikan solidaritas dan persahabatan saya tenangin keadaan.

Singkatnya…
Teman saya tidak tahan kerja dipabrik. Dia resign dan minta pensiun dini. Akhirnya saya sudah lama tidak berkomunikasi.

Anehnya Mas kira-kira lima tahun ga ketemu dia datang kerumah saya. Karena dia memang tahu alamat saya.

Sama istrinya dia datang bawain saya uang banyak banget pokoknya. Saya sama istri heran dibuatnya. Datang-datang meluk saya dan bawain amplop coklat tebal. Nangis dia jumpa saya.

Teman saya minta maaf katanya lima tahun lalu buat saya susah karena harus bawain dia makan tiap hari, bayarin kontrakan, kasih uang kekampung. Padahal saya ga anggap itu hutang benar-benar ikhlas nolong.

Tapi ya teman saya itu rupanya balas budi. Dan jujur padahal saya dan istri sudah lupakan itu.
Alhamdulillah Mas sekarang dari rezeki yang dikasih teman saya akhirnya saya punya usaha restoran. Dan anak-anak biaya kuliah aman semua.

Karena sebatang kretek sudah mulai habis dan hujan juga mulai reda orang itu pamit. Sambil menghidupkan motornya ia berpesan, “jangan pernah merasa lelah Mas kalau kerja ya ikhlas saja”. Pokoknya nanti dibayar tunai.

Hmmm… hujan datangkan nasihat buat saya rupanya yang memang sedang lelah dalam perjalanan.

Iya… tersirat makna dari cerita si bapak tua itu yang tidak sempat saya tanya nama dan alamat rumahnya. Semoga hujan pertemukan saya kembali dengan bapak tua itu.

Edt: Redaksi (AN)