Diskusi Tanpa Moderator

Foto: Doc. Imam Shamsi Ali

“Akhirnya dengan dialog sekitar 1.5 jam itu kita tersadarkan akan kebenaran yang seharusnya kita ambil secara sungguh-sungguh, memahaminya dan menjadikannya sebagai fondasi hidup dan kemuliaan”

Oleh: Utteng Al-Kajangi (Warga kampung New York)

Jakarta (Bintangtimur.net) – Kareng Amstrong adalah salah seorang, kalau bukan yang paling, ahli agama-agama dunia saat ini. Bukunya “the History of God” maupun “Muhammad: the Prophet of our time” di antara buku-bukunya yang pernah saya baca. Juga pernah dalam satu panel diskusi tanpa modaerator.

Salah satu pertanyaan yang saya tanyakan kepadanya adalah sebagai berikut:

“Anda telah pelajari semua agama-agama. Kalau sekitarnya agama-agama itu makanan, kira-kira makanan siapa yang paling lezat?”

Sambil tertawa dia menjawab: “I am a recipe learner” (saya ini belajar resepnya agama-agama itu).

Tapi beliau kemudian melanjutkan: “but I have to be honest. Islam is the most rational teaching. But many Muslims are not rational. (Tapi saya harus jujur jika Islam itu adalah agama yang paling rasional. Sayang banyak orang Islam yang tidak rasional).

Saya kemudian lanjutkan pertanyaan saya: “dari sekian resep itu, kira-kira resep makanan mana yang menghasilkan makanan yang paling lezat?”

Sekali lagi dia tertawa dan menjawab: “supposedly Islam is. Unfortunately the followers of Islam do not know how to cook it”. (Harusnya Islam. Sayangnya pengikut Islam tidak tahu memasaknya).

Pelajaran penting dari pertemuan saya dengan Karen ini memberikan beberala pelajaran penting:

Satu, tahu agama tidak selalu paham agama. Beliau mengetahui (tahu) banyak agama. Tapi penahamanan dalam arti tafaqquh yang mengantar kepada hidayah belum dimilikinya.

Kedua, manusia punya fitrah dan kejujuran batin. Karenanya Karen selalu jujur dalam kajian-kajiannya tentang Islam. Sayang, justeru ada saja orang Islam justeru yang tidak jujur dalam mengkaji Islam.

Ketiga, agama Islam diakui sebagai agama yang sangat rasional. Hanya saja pengikut agama inilah yang perlu belajar lebih rasional.

Keempat, Islam diakui sebagai agama yang “paling enak” (bahasa kiasan … jangan gagal paham lagi). Hanya saja pengikut agama ini seringkali tidak tahu cara memasak makanan itu.

Kelima, Saya melihat kesederhanaan Karen, seorang ilmuan yang terkenal dan dihormati oleh cendekiawan dunia, khususnya di bidang Kajian agama-agama.

Akhirnya dengan dialog sekitar 1.5 jam itu kita tersadarkan akan kebenaran yang seharusnya kita ambil secara sungguh-sungguh, memahaminya dan menjadikannya sebagai fondasi hidup dan kemuliaan. Semoga!

Edt: Redaksi (AN)