Dolli Yatim: Penggagas Rakyat Tanpa Partai Sekarang Kepincut Pada Partai Buruh

Foto: (Ist)

“Masalahnya memang untuk hadirnya partai buruh di Indonesia masih terkendala oleh sumber daya dan sumber dana”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Saran dan pendapat Dolly Yatim, penggagas sekaligus Ketua Lembaga Rakyat Tanpa Partai, sungguh menarik. Pertama, karena dia sebagai tokoh yang terlanjur  dikenal dan terkenal sebagai sosok yang anti partai politik, justru sekarang tertarik pada ide dan gagasan tentang partai buruh seperti yang saya tulis. (Baca Jacob Ereste: Dahsyatnya Partai Buruh dan Organisasi Buruh di Indonesia).

Karena asumsi nyata dari 132 juta buruh yang belum mempunyai wadah untuk menyalurkan aspirasi politiknya itu, sungguh sangat potensial bisa berjaya seperti partai buruh di berbagai negara yang bisa dan mampu menghantar kandidat presiden atau perdana menteri mereka duduk di kursi kekuasaan.

Masalahnya memang untuk hadirnya partai buruh di Indonesia masih terkendala oleh sumber daya dan sumber dana. Padahal, untuk partai politik yang spesial memberi perhatian khusus terhadap kaum buruh di Indonesia belum ada. Dan sigmen atau konstituen massa buruh sangat jelas sigmennya, tidak seperti sigmen dari sejumlah partai nasionslis, sosialis atau yang mengusung ideologi lebih abstrak sifatnya itu bila dibanding dengan partai yang fokus pada massa kaum buruh.

Kesulitan pertama membangun partai buruh di Indonesia adalah memang soal dana. Apalagi belakangan ini ongkos apa saja yang berbau politik terlanjur membumbung tinggi, seakan tidak mau kalah tingkah polahnya dengan tarif listrik, tarif air, jasa toll dan harga bahan pokok sehari-hari.

Gagasan Dolli Yatim bahwa syarat dari partai buruh bisa berkembang di Indonesia katanya pertama harus memiliki azas nasionalis dan religius. Kedua harus fokus dan serius mengelola seta melakukan tugas partai,  jadi bukan untuk cari duit.

Syarat ketiga kata Dolli Yatim, partai buruh yang hendak dibangun wajib untuk mengikutsertakan pengurus yang memiliki paham tentang nasionalis yang murni serta cakap menjalankan tata negara dan idelogi Pancasila serta memahami benar UUD 1945 dan bertauhid, taat dan tekun mengamalkan sikap dan sifat Ketuhanan YME.

Kecuali itu juga (yang keempat) wajib mengikut-sertakan dirinya, karena Dolli Yatim sebagai ketua patut memberi nasihat pada partai buruh jika mau ditakuti dan disegani oleh para pihak. Sebab kiat-kiat yang dimilikinya selama ini bersikap oposisi dengan mendirikan lembaga Rakyat Tanpa Partai (RTP).

Dia merasa lebih dari cukup menyerap ruh dari partai politik yang sejati dan sepatutnya bisa membangun Indonesia. Begitu juga dengan kelegalan partai politik di Indonesia untuk menyerap aspirasi rakyat, karena semua, terutama untuk suara dan dukungan sudah bisa dibeli secara ketengan maupun dalam bentuk kemasan.

Begitulah ungkap Dolli Yatim, meski bisa juga gagasan yang dilontarkan ini terkesan main-main, tapi essensi sesungguhnya dia sungguh serius, sebab perjuangan panjang Dolli Yatim mengusung UUD 1945 yang telah diamandemen berkali-kali itu hingga dianggap final pada tahun 2002 oleh Amien Rais dan konco-konconya di MPR RI.

Juga serius telah membuat Dolli Yatim babak belur karena merasa perlu keliling Indonesia untuk mengkampanyekan penolakan pada amandemen UUD 1945 itu yang dia anggap dilakukan dengan semena-mena hingga memberi peluang bangsa asing menguasai sejumlah sumber daya alam hingga lahan dan perkebunan di Indonesia. 

Disamping itu juga memberi peluang bagi pengkhianat bangsa menjual aset atau sekedar menggadaikan kekayaan bangsa dan negara Indonesia kepada bangsa asing.

Toh, setelah babak belur juga seperti sekarang ini, karena untuk memperjuangkan kembalinya UUD 1945 yang asli agar dapat dijadikan patok pegangan bersama dalam berbangsa dan bernegara kita di Indonesia.

Dolli Yatim pun rela berkorban harta maupun tenaga serta segenap pikirannya untuk itu, yakni agar kembali kepada UUD 1945 yang asli.

Dan sampai hari ini, kegigihan dari elan vital perjuangan untuk mengembalikan UUD 1945 yang asli itu, masih tetap gigih dan terus dia lakukan, termasuk ketika menanggalkan sikap politik dan keyakinannya seperti kepada Lembaga Rakyat Tanpa Partai yang dia pimpin hingga detik terakhir dan memberi dukungan pada ide dan gagasan untuk partai buruh.

Karena memang prospek dari partai buruh di Indobesia sungguh besar peluangnya dan serius bisa menjamin masa depan bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia bangkit dan terus tumbuh serta berkembang jadi negara makmur yang memiliki karakter mandiri, berdaulat serta berkepribadian yang kuat dan tangguh serta khas budayanya yang santun dan elegan.
Termasuk gagasan untuk mengembalikan UUD 1945 yang asli.

Edt: Redaksi (AN)