Era Kegilaan Dan Kebangkitan Budaya Kebiadaban

Foto: Doc. Andy Syam

“Negara wajib melindungi tiap tiap penduduk untuk memeluk agama dan Kepercayaannya (Pasal 29 ayat 2 UUD 1945)”

Oleh: Andy Syam

Jakarta (Bintangtimur.net) – Untuk menghentikan era kegilaan dan Kebangkitan budaya kebiadaban ini, diperlukan proses hukum yang tuntas hingga putusan Hakim Pengadilan.

Baru baru ini, terjadi serangan orang gila pada Syekh Ali Jaber di Masjid Falahuddin Lampung ketika sedang dipanggung mengisi acara Dakwah (13/09/20). Ulama yang dipanggil Syekh itu adalah keturunan Arab. Banyak keturunan Arab di Indonesia sukses berkiprah sebagai Ulama/Uztad/Da’i. Betapa besar jasa mereka dalam syiar agama Islam di Indonesia.

Dua periode Presiden SBY memerintah (2004-2014) tidak ada yang disebut orang gila menyerang para pengemban Dakwah (Para Ustadz /Ulama atau para tokoh agama).

Juga dua periode, Presiden Jokowi memegang tampuk pemerintahan, juga sudah dua periode muncul aksi yang disebut orang gila melakukan serangan pada para Pengemban Dakwah (Ustadz/Ulama). Karena itu tidaklah berlebihan dan tidak bisa disebut mencari cari kesalahan kalau disebutkan era pemerintahan Presiden Jokowi selama dua periode adalah era kegilaan dan era bangkitnya budaya Kebiadaban. Menandakan budaya Indonesia merosot kebawah. Tadinya budaya Indonesia dikenal bermartabat, santun dan penuh toleransi. Budaya yang indah itu, dirusak dengan era kebangkitan orang gila melawan Pemuka agama atau pengemban Dakwah.

Sedikit ilustrasi. Di negara dengan peradaban maju dan rasional atau bebas dari berfikir primitif dan jarang bicara agama dan hanya menggunakan moral, seperti Amerika tidak akan ada orang disebut gila menyerang para tokoh. Karena semua masalah serba terbuka, bisa diperdebatkan, adu argumen secara gentlemen. Kalau ada kasus publik pun diusut tuntas hingga proses hukum di Pengadilan.

Di sini (Indonesia) kewarganegaraan dan politik kental dengan agama, bahkan seorang Ulama besar duduk sebagai Wakil Presiden. Kalau demikian, tentu memalukan masih ada budaya primitif orang gila melakukan serangan pada tokoh agama. Betapa rawannya sistem sosial kita, sangat rentan pada kekerasan.

Apakah sistem sosial dan moral kita memang telah ambruk dan hancur sehingga orang gila dibiarkan berkeliaran melakulan kekerasan menyerang tokoh agama ? Apakah memang ada secara diam diam mendirikan sekolah orang gila, untuk mencerdaskan orang gila sehingga orang gila bisa mengenal objek sasaran serangan yaitu para tokoh agama pengemban Dakwah? Maaf, ini asumsi pemikiran yang dungu.

Kembali pada pokok masalah. Ketika pada periode pertama Pemerintahan Presiden Jokowi, didahului dengan issu ditengah masyarakat adanya persekusi para Da’i atau Ustadz. Kemudian di beberapa tempat di Jawa Barat dan Jawa Tengah muncul aksi aksi yang menyerang para pelaku syiar agama yaitu Ustadz atau Ulama hingga ada yang meninggal. Tapi serangan yang disebut orang gila itu baru pada tokoh pinggiran.

Kini pada periode kedua Pemerintahan Presiden Jokowi yang didampingi Ulama besar, belum reda isu radikalisme dan sertifikasi Da’i, tiba-tiba muncul serangan disebut orang gila yang menyerang Ulama terkemuka Syekh Ali Jaber yang sedang menghadiri acara Dakwah. Diduga kalau beliau tidak menangkis serangan bisa tusukan mengenai dada beliau. Bisa sangat fatal.

Jadi peristiwa Ini sudah menyerang tokoh Utama atau Ulama kondang. Mungkin ini sudah puncaknya permainan orang-orang yang disebut gila. Dan mungkinkah akan muncul lagi para pengangguran ikut-ikutan jadi gila untuk menyerang para Pengemban syi’ar agama Islam.

Kejadian ini berulang-ulang karena yang dahulu tidak tuntas penanganannya. Kejadian dulu, tidak dilakukan proses hukum sampai Pengadilan. Hanya sampai Kepolisian, lalu dikatakan pelaku orang gila dan tak ada penuntutan. Itulah sebabnya para pengangguran tidak takut kalau disebut gila, karena kejahatan yang dilakukannya tidak bisa dituntut secara hukum. Kasusnya berhenti di Kepolisian.

Kalau melalui proses hukum sampai Pengadilan, maka hakimlah yang putuskan pelaku itu gila atau tidak. Kalau gila, maka Hakim membebaskannya. Kalau tidak gila maka hakim akan menghukumnya sebagai pembunuhan berencana karena kejadian itu layak disebut direncanakan. Hakim sebelum memutuskan akan mendengar saksi ahli (para psikolog). Sidang terbuka untuk umum sehingga rakyat mengetahui jalannya persidangan.

Untuk membuat tuntas proses hukum, juga para penyelengara acara pun di Mesjid Falahuddin Lampung juga wajib dimintai keterangan, sebab ada indikasi acara serangan orang gila ini ada semacam persiapan yang mateng. Karena seperti diberitakan bahwa pelaku serangan itu yang bernama: Alfin Adrian (24) tahun, seorang pengangguran dan baru seminggu pindah dilokasi sebelum kejadian. Dia tinggal dirumah kakeknya. Para tetangga melihat sehari hari menyatakan dia tidak gila.

Dia lahir di situ, tetapi selama ini tinggal di daerah Mesuji Lampung bersama pamannya. Kenapa dia tiba tiba pindah. Mungkin karena sudah tahu ada acara menghadirkan Syekh Ali Jaber. Karena itu, panitia penyelengara acara mesti juga diperiksa (disidik) jadi saksi dan mungkin juga bisa terseret terlibat kasus ini.

Jadi hendaknya kasus itu dituntaskan secara hukum, agar tidak timbul banyak spekulasi dalam masyarakat.Kalau kasus ini tidak dituntaskan secara hukum akan timbul kesan bahwa NKRI yang mayoritas beragama Islam, negara di era Pemerintahan Presiden Jokowi gagal melindungi kehidupan beragama yang dijamin Konstitusi.

Negara wajib melindungi tiap tiap penduduk untuk memeluk agama dan Kepercayaannya (Pasal 29 ayat 2 UUD 1945).

Perlindungan dimaksud termasuk menjalankan ibadah dan melindungi para pelaku syiar agama sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang undangan.

Kalau kasus itu tidak tuntas prosesnya secara hukum, sungguh mengkhawatirkan, karena akan muncul pembuatan anarkis atau main Hakim sendiri ditengah masyarakat. Ini sungguh berbahaya! Negara bisa seperti hutan rimba. Harimau yang paling kuat yang berkuasa.

Di media sosial muncul berita, para tokoh bicara. Soetyoso, mantan Kepala BIN mengatakan bahwa karena itu sudah berulang kali, itu pasti ada operatornya, itu modus melakukan kekerasan.

Juga Prof Jimly Assyidik, mantan Ketua MK mendesak agar kasusnya di proses secara hukum karena tertangkap basah. Biarlah hakim yang memutuskan.

Memang selama ini kasus kasus serupa berhenti di Kepolisian. Hal itu tidak membuat para pengangguran takut jadi orang disebut gila.

Keyakinan tentang orang gila menjadi kontra versi. Sayang tidak ada survei, berapa jumlah sesunggunya orang-orang yang percaya kalau pelaku serangan itu orang gila. Kebenaran akal mestinya diungkap melalui lembaga survei. Tentu kita merasa aneh, karena lembaga survei bungkam menyaksikan kontraversi itu.

Sesungguhnya apa yang terjadi? Dengan peristiwa itu tercipta setidaknya ada sembilan “panggung besar”.

Di era media sosial sekarang ini, tak terukur dampak sosial dari suatu peristiwa karena blow up berita di medsos.

Kita mencoba melihat panggung apa saja yang tercipta.

1). Panggung Pernyataan untuk membangun pencitraan. Tidak lama sesudah peristiwa terjadi, para tokoh agama di BPIP bereaksi keras mengutuk peristiwa itu, yang disebutnya biadab. BPIP adalah kelompok pendukung dan pembela Pemerintah. Para tokoh agama (Islam) di BPIP adalah kaum Islam liberal dan pelopor berdirinya Islam Nusantara. Pernyataannya mendahului kelompok pembela agama diluar Pemerintahan. Kelompok pembela agama seperti menahan diri. Mungkin karena takut jadi sasaran berikutnya orang disebut gila itu. Jadi peristiwa itu berdampak menakuti menakuti para Pengemban Dakwah atau pembela agama (islam).

2). Peristiwa itu sangat di sorot oleh berbagai media di Timur Tengah seperti Al-Jazerah, yang menggambarka n ancaman pada masa depan Islam di Indonesia. Tentu hal ini merugikan nama Indonesia sebagai bangsa besar dan mayoritas beragama Islam.

3). Peristiwa itu memicu issu di medsos tentang adanya kebencian pada keturunan Arab. Isu ini sungguh berbahaya. Apa betul di negeri ini sedang berkembang rasialisme yaitu kebencian pada keturunan Arab? Sejalan dengan pemikiran kaum liberal bahwa Islam dari Arab itu adalah radikal, karena itu diperlukan berdirinya Islam Nusantara di Indonesia.

4). Peristiwa itu, membangun gelombang kontra versi ditengah masyarakat. Masyarakat kehilangan fokus perhatian.Bisa jadi mengalihkan perhatian dari suatu masalah. Jadi peristiwa itu punya multi efek, karena itu sering diulang ulang.

Kalau kita mencermati opini dimedia sosial, umumnya tidak percaya kalau pelaku cacat mental atau tidak waras. Bahkan ada yang menyebut peristiwa itu by design. Ada aktor intelektual dibalik layar. Tapi apapun kata orang tidak akan mampu membuktikan pelaku dibelakang layar. Pekerjaan itu sangat canggih, karena terputus mata rantainya.

Kalau melihat pada rekaman video yang beredar, dimana pelaku berlari dengan sangat kencang secepat kilat menuju target. Hal ini menujukkan bahwa pelaku sadar, kalau dia tidak lari kencang, bisa jadi ada yang menghalangi menuju objek target. Juga lazimnya orang gila lemah fisik dan tidak mampu lari kencang.

Demikianlah panggung kontra versi ini, hanya bisa diredakan dan jangan dibiarkan mengambang. Karena itu proses hukum secara tuntas harus dilakukan sampai ada putusan Hakim. Jangan lagi kasusnya berhenti di Kepolisian, yang memutuskan gila tidaknya seseorang.

Perlu ada upaya yang yang sungguh-sungguh untuk menghentikan orang orang pengangguran agar takut jadi gila.

5). Tercipta panggung keresahan dalam masyarakat. Timbul asosiasi pemikiran masyarakat adanya kecurigaan pada gerakan kelompok anti agama (Islam).

Peritiwa itu membuka kembali memori masyarakat tentang situasi masa lalu sebelum peristiwa G30 S PKI 1965. Ketika itu didahului peristiwa Pembunuhan para tokoh agama dan santri di Jawa. Peristiwa itu untuk membangunkan keresahan dan ketakutan dalam masyarakat. Kini ada misteri orang yang disebut gila membuat keresahan dan ketakutan. Tidak ada yang mengenalnya sebagai musuh, tapi tiba tiba datang menyerang. Adakah yang mau jadi korban orang yang disebut gila? Inilah keresahan dan ketakutan yang amat mengerikan.

Teori lama Marxis bahwa jalan menuju revolusi adalah dengan membangun kontradiksi, keresahan dan ketakutan dalam masyarakat. Masyarkat resah, tapi takut melakukan sesuatu atau mungkin perlawanan.Teori ini sudah tidak relevan di era media sosial. Masyarakat makin berani, cepat dan bersatu melawan setiap gerakan kezaliman. Kaum neo Marxis gagal membangun gerakan sosial sesuai zamannya.

Juga ada siasat primitif kaum neo Marxis yaitu lempar batu sembunyi tangan untuk menyesatkan lawan. Siasat primitif ini pun tidak lagi efektif di era media sosial yang serba terbuka dan membutuhkan debat debat yang gentlemen dan konstruktif untuk mencapai kemajuan.

Timbul pertanyaan, apakah betul fenomena orang gila ini juga membangunkan keresahan menjadi indikasi akan adanya peristiwa besar dikemudian hari seperti peristiwa Gerakan 30 September PKI 1965 yang membantai para petinggi Angkatan Darat pada waktu itu?

Kebetulan kini bulan September. Tanggal 1 Oktober sering diperingati oleh kaum neo Marxis sedunia sebagai kemenangan Revolusi pertama di Uni Soviet dulu, yang terkenal dengan nama Revolusi Oktober. Waspadalah! Bukan menakuti, tapi fenomena yang ada perlu membuat waspada.

Walaupun demikian, sebagian orang berkata, kenapa masih ada yang percaya dan ketakutan pada gaya lama neo Marxis untuk merebut kekuasaan di era penuh kebebasan dan sarat informasi. Bukanlah ideologi Marxis sudah jauh dari kenyataan dan banyak penganutnya sudah menjadi manusia borjouis. Ini salah satu sudut pandang. Tapi ada juga sudut pandang lain. Mungkin saja gaya hidup bisa berubah, tapi ideologi sebagai keyakinan masih hidup dalam jiwanya. Jadi kewaspadaan dimaksud diatas masih rasional.

6). Peritiwa itu menimbulkan asosiasi masyarakat tentang perseteruan yang sedang terjadi. Perseteruan antara kelompok menuju konflik ditengah masyarakat. Hal ini makin menunjukkan ketidak harmonisan hidup bersama dalam suatu negara (NKRI).

Disatu sisi ada kelompok pembela pemerintah (kekuasaan).

Di sisi lain di luar pemerintah ada kelompok pembela agama yang selama ini selalu bereaksi keras kalau agamanya diserang. Sayang tokoh utama kelompok ini adalah Imam besar HRS masih di pengasingan Arab Saudi.

Akhir-akhir ini, agama Islam sering kali diserang melalui Menteri agama sebagai perpanjang tangan kekuasaan dan mungkin juga pembawa pesan dari pemain konflik global.Menteri agama sering melontarkan tuduhan radikal pada ummat Islam (tentu mereka yang diluar pendukung Pemerintah). Baru baru ini Menteri agama menuduh para Da’i, para penghapal Al-Qur’an bisa jadi sumber radikalisme. Umat Islam sakit hati dengan tuduhan semacam ini.

7). Peristiwa itu, bisa menjadi alat ukur untuk mengetahui sejauh mana kecintaan ummat pada Ulamanya. Jadi bahan studi untuk mengantisipasi gerakan kemasa depan.

Umat Islam yang sungguh-sungguh beriman sangat mencintai para Ulama, yang merupakan pewaris Nabi atau Rasul Allah setelah era kenabian berakhir. Dari para Ulama itulah ilmu agama mengalir kapada ummatnya. Karena itu, kematian Ulama berarti terputusnya aliran ilmu agama kapada ummat Islam. Karena itu, menjadi kewajiban ummat mencintai Ulama dan membelanya. Mencintai Ulama sama dengan mencintai Rasulullah.

8). Peristiwa itu, sama dengan penistaan agama (Islam). Memicu suatu kemarahan dari kelompok masyarakat yaitu para pembela agama. Sungguh bahaya memancing kemarahan ummat Islam karena pada gilirannya berpotensi menimbulkan konflik, yang dinanti nanti pemain konflik global. Indonesia bisa jadi negara gagal karena terseret konflik.

9). Peritiwa itu merugikan citra sebagai bangsa Indonesia. Apakah betul gerakan anti agama (Islam) di Indonesia merupakan ancaman pada persatuan bangsa dan kelangsungan masa depan agama (Islam)? Wallahu alam bishawwab.

Melihat kasus itu, tidaklah cukup sekedar mengutuk Dan menyebutnya biadab Karena itu, hendaknya ada kesadaran sebagai bangsa yang bermartabat untuk menuntaskan penyelesaian kasus ini secara hukum sampai ada putusan hakim pengadilan. Kasusnya jangan lagi berhenti ditingkat Kepolisian, agar orang orang takut jadi gila.

Edt: Redaksi (AN)