Erdogan Berusaha Jadi Penengah Konflik Rusia-Ukraina

Foto: Google

“Kawasan perbatasan timur Ukraina kembali memanas setelah Rusia mengirim pasukan ke wilayah Donetsk dan Lugansk, Donbass, yang diduduki pemberontak separatis.”

Jakarta (Bintangtimur.net) – Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menyatakan akan mencoba menengahi konflik yang terjadi antara Ukraina dan Rusia di perbatasan.

Erdogan menyampaikan hal itu setelah melakukan pembicaraan dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy, melalui sambungan telepon.

Selain itu, Erdogan juga berdialog dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada pekan lalu terkait ketegangan di kawasan Donbass, dekat perbatasan Ukraina dan Rusia. Dalam pembicaraan melalui telepon, Putin menyatakan Ukraina yang terlebih dulu melakukan provokasi.

“Demi perdamaian dan masa depan keamanan kawasan, saya berharap kedua negara mencari jalan keluar tentang perselisihan itu secepatnya melalui perundingan dan dengan cara damai, dan kami sedang berupaya menuju ke arah sana,” kata Erdogan, di Ankara, seperti dilansir Reuters, Selasa (13/4).

Meski merupakan anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), hubungan Turki dan Rusia justru akrab. Kedua negara ikut terlibat bekerja sama di sejumlah negara dan wilayah yang dilanda konflik yakni Nagorno-Karabakh di antara Armenia dan Azerbaijan, Libya dan Suriah.

Meski begitu, Turki mengkritik Rusia yang mencaplok Krimea pada 2014 dari Ukraina. Turki menyatakan mendukung Ukraina untuk mempertahankan keutuhan wilayah kedaulatan.

Selain itu, Turki juga menjual persenjataan berupa pesawat nirawak (drone) kepada Ukraina pada 2019.

Menanggapi sikap Turki, Rusia memutuskan membatasi jumlah penerbangan dari kedua negara mulai 15 April hingga 1 Juni. Dalihnya adalah karena terjadi lonjakan kasus infeksi virus corona di Turki.

Hal itu akan berdampak terhadap dunia pariwisata Turki. Sebab, jutaan pelancong Rusia menjadikan Turki sebagai salah satu tujuan wisata.

Wakil Perdana Menteri Rusia, Tatiana Golikova, tidak menyinggung soal sikap Turki terkait perselisihan antara Ukraina dan negaranya yang kembali menghangat. Dia hanya menyatakan sejumlah rute penerbangan, termasuk jadwal rutin dua kali sepekan ke Turki, akan tetap berjalan.

Akan tetapi, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, meminta Turki dan negara lain tidak menunjukkan sikap seolah bertentangan dan bersimpati kepada Ukraina.

Kawasan perbatasan timur Ukraina kembali memanas setelah Rusia mengirim pasukan ke wilayah Donetsk dan Lugansk, Donbass, yang diduduki pemberontak separatis.

Dilaporkan 20 tentara Ukraina meninggal dan 57 lainnya terluka dalam kontak senjata dengan pemberontak sejak awal 2021.

Padahal, kedua belah pihak sudah meneken perjanjian gencatan senjata di Minsk, Belarus, pada 2015 silam.

Peperangan di kawasan timur Ukraina pecah pada 2014 setelah Presiden Ukraina, Viktor Yanukovych, yang dekat dengan Rusia tumbang akibat gelombang demo. Dalam peperangan itu dilaporkan menelan korban jiwa lebih dari 13 ribu orang, dan Ukraina juga kehilangan Krimea yang diduduki oleh Rusia.

Amerika Serikat sebagai sekutu Ukraina juga meminta Rusia tidak melakukan intimidasi dengan mengerahkan pasukan. Namun, Rusia menyatakan pengerahan pasukan bukan aksi provokasi ataupun bertujuan mengancam Ukraina. (GI)

Edt: Redaksi (AN)