Eropa Kritisi Penambahan Tentara Rusia di Perbatasan Ukraina

Foto: Google

“Dukungan Uni Eropa yang tak tergoyahkan untuk kedaulatan dan integritas teritorial Ukraina,”

Jakarta (Bintangtimur.net) – Uni Eropa Kritisi Rusia atas upaya-upaya ‘mengganggu’ kedaulatan wilayah di dekat perbatasan Ukraina. Kepala kebijakan luar negeri UE Josep Borrel mengatakan pihaknya memahami kekhawatiran Ukraina, atas penambahan penempatan militer di sekitar perbatasan dua negara tersebut.

Hal tersebut dilontrakan Borrel usai menelepon Menteri Luar Negeri Ukraina, Dmytro Kuleba.

“Dukungan Uni Eropa yang tak tergoyahkan untuk kedaulatan dan integritas teritorial Ukraina,” tegas Borrel.

Borrel mengatakan bakal berbicara dengan sejumlah pejabat tinggi kebijakan di Ukraina dan para menlu negara-negara Eropa lainnya dalam sebuah pertemuan bulan ini.

Sebelumnya, Ukraina menuding Rusia sengaja menumpuk belasan ribu personel militer di perbatasan dengan negara tersebut. Itupun mengingatkan Ukraina pada masa pencaplokan krimea oleh Rusia.

Pemerintah Ukraina sedang waspada dan bersiap menghadapi peperangan setelah mendapat laporan Rusia mengerahkan pasukan ke perbatasan sebelah timur negara itu.

Kondisi itu bisa membuat peperangan antara kedua negara pada 2014 silam kembali terulang.

“Pengerahan kekuatan dalam bentuk latihan militer yang diduga sebagai aksi provokasi di sepanjang perbatasan adalah permainan lama Rusia,” kata Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, saat memberikan keterangan di Kiev, seperti dilansir AFP, Jumat (2/4).

Pasukan Rusia dilaporkan mendekati wilayah Donetsk dan Lugansk di timur Ukraina. Menurut laporan intelijen Ukraina, pasukan Rusia dan pemberontak memperkuat koordinasi dan diperkirakan bakal menggelar serangan pada pertengahan April.

Kekerasan di kawasan timur Ukraina yang dikuasai pemberontak yang didukung Rusia kembali meletup pada pekan ini. Dilaporkan 20 tentara Ukraina meninggal dan 57 lainnya terluka dalam kontak senjata dengan pemberontak sejak awal 2021.

Padahal, kedua belah pihak sudah meneken perjanjian gencatan senjata. Namun, kesepakatan itu dinilai rapuh.

Zelensky lantas meminta bantuan kepada sekutunya, Amerika Serikat, untuk menghadapi Rusia. (GI)

Edt: Redaksi (AN)