Fenomena HRS

Foto: Google

“Setiap tokoh besar punya sikap yang jelas dan tegas yang membuat namanya makin besar dan sukses dalam kepemimpinan”

Oleh: Andy Syam

Jakarta (Bintangtimur.net) – Lancarnya kepulangan HRS ketanah air tercinta agak mengejutkan banyak pihak. Bukankah sebelumnya beberapa kali ingin pulang, tetapi selalu terhalang. Menjelang Pemilu/Pilpres 2019 mantan pejabat BIN pernah berkata bahaya kalau HRS pulang. Seolah ada yang perlu diamankan pada Pemilu/Pilpres 2019.

Macam-macam alasan yang menghalangi HRS pulang. Antara Pemerintah Arab Saudi dan Pemerintah Indonesia seolah ada keinginan bersama menahan HRS di sana. Tetapi tentu dengan pedoman protokol diplomatik. Hingga kini sudah lama berlalu Pemilu/Pilpres 2019.

Akhirnya HRS benar-benar bisa pulang setelah diberitakan bahwa semua kasus hukumnya telah di SP3 kan oleh Kepolisian. Timbul pertanyaan dalam masyarakat, siapa sesungguhnya dibalik lancarnya kepulangan HRS? Seolah Pemerintah Indonesia dan Arab Saudi pasrah saja.

Walaupun demikian, diberitakan ada juga gangguan yang ingin membatalkan tiket HRS dan keluarganya. Artinya ada yang tidak ikhlas kepulangnnya. Menkopolhukam berkata kepulangan HRS tidak bisa dihalangi. Itu haknya.

Kalau melihat jumlah umat yang berkumpul baik saat baru tiba di Bandara Soekarno-Hatta (10/11/20), maupun ketika di Megamendung, Bogor kemarin. Belum lagi kalau kita mengenang demo di Monas (212). Baik kawan, simpatisan maupun lawan terkesima menyaksikannya. Umat datang dari berbagai penjuru. Ada yang bersusah payah berjalan kaki hingga puluhan kilometer. Ada yang datang dengan biaya sendiri menginap di hotel. Sungguh luar biasa!

Menyaksikan sambutan umat sangat besar di Bandara Soekarno Hatta. Media asing mencatat ada sekitar dua juta umat menyambutnya. Tapi keramaian sambutan pada HRS yang disalahkan aparat keamanan.

Melimpahnya sambutan umat pada HRS, mengingatkan kita pada Revolusi Iran (1979), revolusi terbesar di abad 20, jutaaan orang penuhi jalan-jalan di Teheran menyambut kedatangan Ayatollah Khomaini dari pengasingannya di Perancis.

Sambutan besar umat pada HRS, menujukkan suatu fenomena besar betapa kecintaan umat kepada HRS. Tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa kharisma HRS sudah setingkat dengan Ayatollah Khomaini (pencetus Revolusi Islam Iran, 1979). Setingkat Mahatma Ghandi, Soekarno dan Nelson Mandela. Kharisma para tokoh itu bagaikan magnet raksasa yang mampu menarik jutaan massa.

Bahkan kharisma HRS mungkin melampaui para tokoh tersebut. Sekalipun para tokoh yang disebutkan bukanlah para Nabi utusan Allah, namun keteladanan yang mereka pancarkan dalam semangat juang membela kebenaran dan mewakili kehendak ummat (rakyat), mereka telah dicatat oleh sejarah sebagai m tokoh-yokoh yang mampu membuat perubahan dunia.

HRS baru sekitar tiga tahun di pengasingan, begitu besar rasa kangen dan cinta umat kepada beliau.

Tentu peristiwa itu di luar nalar. Karena seseorang pemimpin yang diasingkan untuk menjauhkan dirinya dari umat, agar bisa dilupakan, tetapi justru yang terjadi adalah sebaliknya, hati umat makin rapat padanya. Sungguh di luar nalar. Suatu keajaiban.

Dalam Hadis Qudsi disebutkan bahwa “ketika Allah mencintai seorang hamba, maka penduduk langit pun mencintainya. Dan ketika penduduk langit mencintai seorang hamba maka penduduk bumi pun mencintainya”.

Ini suatu kebenaran yang tersingkap dengan fenomena HRS.

Secara spiritual tokoh seperti ini mungkin sudah berada pada level waliyullah. Ini suatu keyakinan yang kuat. Fenomena beberapa waktu yang lalu, ada yang mencoba membakar fotonya, tapi tidak di makan oleh api. Dia juga sering lolos dari insiden yang bisa mencelakakan dirinya. Sikap dan gayanya pidato tidak berubah sebelum dan setelah pulang dari pengasingan (Arab Saudi). Semangatnya untuk amar ma’ruf nahi mungkar terlihat tak surut. Sungguh fenomena luar biasa.

Sosok waliyullah, rahmat Allah amat dekat padanya. Dia adalah kekasih Allah. Allah mendeklarasikan perang kepada siapa yang memusuhi wali-Nya (Hadist).

HRS sudah terlihat begitu di cintai umat. Tinggal merawat kecintaan umat itu. Godaan tentu amat banyak untuk menggugurkan kecintaan umat padanya. Tentu yang bermain adalah setan-setan kelas yang paling elit sesuai kebesara HRS. Seseorang yang besar (super) akan menghadapi ujian yang besar.

Adam dan Hawa saja bisa tergelincir oleh godaan setan. Siapapun keturunan Adam dan Hawa bisa tergelincir, kecuali para Nabi karena Allah mengeluarkan keinginan godaan setan yang masuk ke dalam hatinya. Sedangkan umat yang mukhlis dalam menjalankan agama bebas dari godaan setan.

Karena itu memerlukan kewaspadaan HRS yang tinggi.

Setiap tokoh besar punya sikap yang jelas dan tegas yang membuat namanya makin besar dan sukses dalam kepemimpinan.

Gandhi menolak cara kekerasan, tapi India akhirnya merdeka. Soekarno menjalankan politik non cooperation pada penjajah. Akhirnya Indonesia merdeka. Ayatollah Khomaini menyerukan Revolusi Islam untuk mengembalikan identitas bangsa Iran yang telah dicemari oleh budaya Barat. Akhirnya Dinasti Syah runtuh diganti dengan Republik Islam.

Nelson Mandela tak pernah mau surut menentang apartheid, tapi akhirnya mau rekonsiliasi demi rakyatnya merdeka dari apartheid. Akhirnya jadi Presiden Afrika Selatan.

Jadi setiap pemimpin besar, berkharisma besar, selalu punya akhir perjuangan yang sukses setelah melalui penderitaan (ujian berat). Akhir itu lebih baik dari permulaan.

Sesungguhnya apa yang dinanti umat dari HRS. Tentu bukan dinar dan dirham. Tetapi mempertahankan dua warisan yang agung yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Inilah tugas suci seorang ulama sekaligus Mujtahid.

Mungkinkah HRS adalah tokoh pembaharu agama seratus tahunan sekali muncul? Ketika perang salib berkecamuk, muncul pemimpin atau panglima perang Islam paling terkemuka yaitu Salahuddin Ayyubi. Sangat pemberani dan ahli strategi perang sekaligus memiliki belas kasih yang luar biasa. Mengajarkan dengan tindakan nilai-nilai ajaran Islam yang pengasih bukan hanya pada ummatnya, tapi juga pada Pemimpin salibis waktu itu.

Di Indonesia zaman now. Ketika agama (Islam) di fitnah terus menerus terkait radikal (sumber teroris), agama mulai mengalami rekayasa liberal dan dijadikan agama budaya lokal (nusantara). Degradasi Islam disebut agama budaya Arab. Muncul provokasi anti keturunan Arab. Puncak dari semua itu munculnya pemimpin yang mendukung semua itu. Akhirnya HRS mengasingkan diri (hijerah) ke Arab Saudi guna menghindari bahaya hukuman karena yang diduga kuat sebagai fitnah dan diberitakan beberapa kali ancaman pada jiwanya. Entah siapa yang ingin mendzaliminya?

Fenomena HRS kini, Allah ingin memberikan pelajaran, ketika anda membenci keturunan Arab, Allah menunjukkan kecintaan umat kepada HRS. Mereka bersusah payah datang menjemput HRS dan ingin melihat wajah HRS.

Diberitakan bahwa HRS kembali untuk melakukan Revolusi akhlak. Apakah sungguh rusak berat ahlak rakyat Indonesia kini, sehingga perlu menggunakan ungkapan revolusi?

Juga diberitakan bahwa HRS menawarkan rekonsiliasi kepada Pemerintah. Artinya pulang dengan semangat damai. Hal itu menujukkan kerendahan hati dan kemuliaan jati dirinya. Dalam hatinya tak ada dendam sekalipun telah diasingkan selama 3 tahun. Mirip jalan ditempuh Nelson Mandela membuka diri pada rekonsiliasi, tapi apartheid akhirnya hilang di bumi Afrika Selatan dan mengantarkan Nelson Mandela jadi Pemimpin (Presiden).

Kiranya kebesaran HRS bisa membawa Kepemimpinan Indonesia bersama para elit bangsa yang cinta Indonesia. Menakhodai NKRI dengan politik dunia yang bebas aktif ditengah dua karang kekuatan dunia yang ingin menjadikan Indonesia sebagai alat memukul satu dengan lainnya.

Wahai HRS kecintaan rakyat padamu, merupakan momentum untuk melakukan yang terbaik bagi kemaslahatan agama, ummat, bangsa dan negara.

Edt: Redaksi (AN)