Filosofis Jawa Yang Menggengam Dunia

Foto: (Ist)

“Hidup bagi manusia yang ideal itu harus memberi manfaat bagi orang lain”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Pandangan hidup yang paling populer dari ajaran Sunan Kalijaga dan diyakini serta diamalkan oleh orang Jawa.

Hidup bagi manusia yang ideal itu harus memberi manfaat bagi orang lain. Semakin banyak dan besar yang dapat diberikan kepada orang lain itu, maka akan semakin mulia pula yang yang bersangkutan itu bagi manusia dan sang Maha Pencipta. Inilah makna dari urip iku urup, kata Sunan Kalijaga seperti dipercayai oleh orang Jawa.

Sedangkan untuk menjalani hidup itu harus selalu diupayakan keselamatan, kebahagiaan, kesejahteraan dan memberantas sikap angkara murka, rakus, serakah dan tamak. Dalam istilah Jawa inilah yang dimaksud memayu hayuning bawono. Ambrasto dur hangkoro.

Karena itu dalam pemahaman filsafat Jawa bahwa apa yang dimaksud oleh  Suro Diro Joyo Jayaningrat. Lebur dening pangastuti, artinya adalah segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap yang bijak, hati yang lembut dan kesabaran.

Bahkan untuk banyak hal yang lain misalnya dalam usaha ingin mendapatkan sesuatu, sikap ngluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasorake. Bahkan sekti tanpo aji-aji, dan pemahaman sugih tanpa bondo itu bagi orang Jawa masih dominan diyakini dan menjadi sikap hidup sehari-hari.

Inilah maknanya berjuang tanpa membawa massa; menang tanpa harus membuat mereka yang kalah merasa direndahkan atau dipermalukan. Sehingga kewibawaan pun tidak perlu mengandalkan kekuatan. Demikian pula pemaknaan kaya, tanpa harus berdasarkan kepemilikan harta dan benda.

Dalam perspektif filosofis Jawa pun seperti yang dikenal dari ajaran yang dipopulerkan olah Sunan Kalijaga, orang Jawa tidak boleh gampang merasa sakit hati, tidak boleh bersedih bila kehilangan sesuatu. (Datan serik lamun ketaman, datan susah lamun kelangan) semua masih dapat terlihat dari cara manusia Jawa mensikapi hidup dan kehidupan sehari-hari. Agaknya sikap ini ikut memperkuat etos kerja yang keras, gigih nyaris tanpa mengenal lelah dan berputus asa.

Orang Jawa pun masih tetap dominan  mengamalkan sikap ora gumunan, ora getunan, ora kagetan, ora aleman.
(tidak mudah terheran-heran, tidak mudah menyesal, tidak mudah terkejut-kejut dan tidak mudah kolokan atau bermanja-manja).

Dalam kehidupan ini pun orang Jawa berpegang pada filosofi ojo ketungkul marang kalungguhan, kadonyan lan kemareman. Adapun artinya adalah;  Jangan pernah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan yang bersifat duniawi.

Demikianlah agaknya basis spiritual orang Jawa untuk mengendalikan hawa nafsu duniawinya, sehingga bisa hidup lebih langgeng, nyaman, aman dan tenteram seperti alunan gending Jawa yang selalu terkesan mencari keselarasan dengan nada alami yang menyemburat dari dalam bumi.

Sikap rendah hati orang Jawa seperti patuhnya mereka pada ajaran para keluhur yang melarang: ojo kuminter,  mundak Keblinger. Ojo cidra mundak cilaka. Maknanya adalah : jangan merasa paling pandai, agar tidak salah arah. Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka.

Petuah yang tidak kalah penting dijadikan amalan (pegangan) bagi orang Jawa ialah; ojo milik barang kang melok. Ojo mangro mundak kendo. Inti sarinya adalah; jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah. Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat.

Yang tidak kalah penting adalah sikap orang Jawa yang bermuatan filosofis ini dalam tataran politik. Karena tampaknya pengamalan dari pemahanan ini telah memberi bukti dari keberhasilan orang Jawa di kancah politik dan pemerintahan sejak Indonesia merdeka.

Petuah bernuansa politik ini sering disebut begini : Ojo adigang, adigung, adiguno (jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti). Tampaknya petuah ini yang selalu diamalkan juga dengan baik oleh pemimpin yang dominam bisa dipegsng oleh orang Jawa, tidak hanya sebagai siasat untuk menjaga diri, tetapi juga sebagai rumusan dari strategi menggapai tujuan yang tidak banyak bisa dihetahui sebelumnya oleh banyak orang.

Edt: Redaksi (AN)