Gagasan dan Cita-Cita Tan Malaka Untuk Indonesia Merdeka

Foto: (Ist)

“Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Sutan Malaka adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Tan Malaka menulis tentang Gerpolek dahulu seperti sudah menduga bahwa kemerdekaan kita sebagai bangsa Indonesia akan menghadapi banyak rongrongan. Karenanya Tan Malaka mengatakan bahwa Gerpolek adalah senjata untuk membela Proklamasi 17 Agustus 1945 dan melaksanakan kemerdekaan secara 100 persen penuh. 

Pemikiran untuk meyakinkan kita harus merdeka 100 Persen itu agar Indonesia bisa menentukan takdirnya sendiri tanpa harus ada campur tangan negara lain dan tidak bisa di toleransi. Realitasnya sekarang ketergantungan dalam melaksanakan pemerintahan aparatnya seperti tidak memilkki kepercayaan diri atau lebih dominan memenuhi permintaan bangsa asing daripada mengabulkan permintaan bangsanya sendiri.

Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Sutan Malaka adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Dia tokoh Partai Komunis Indonesia, juga pendiri Partai Murba, dan Pahlawan Nasional Indonesia.

Demikian yang tercatat dalam Wikipedia ikhwal Mahaguru Bangsa kelahiran  2 Juni 1897 di Suliki, Pandam Gadang Sumatera Barat. Dalam usia relatif muda ia tidak cuma melahirkan karya tulis yang hebat dan besar, terapj juga telah banyak berbuat untuk memproklamasikan republik ini. Meski ia meninggal pada 21 Februari 1949 setelah kemerdekaan Indonesia terwujud pada 17 Agustus 1945.

Datuk Ibrahim yang lebih populer dengan sebutan Datuk Sutan Malaka (wafat pada 21 Februari 1949, di Selopanggung, Kediri Jawa Timur). Sutan Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka mengenyam pendidikan: Rijkskweekschool (1913–1919), Universitas Komunis Para Pekerja dari Timur.

Gerpolek dan khususnya Madilog adalah buku yang di tulis dalam persembunyian Tan Malaka dari kejaran tentara Jepang di Cililitan. Buku ini di tulis selama kurang lebih 3 jam per hari dan memakan waktu 8 bulan. Intinya isi buku ini hendak mengurai masalah Materalisme, dialektika, dan logika.

Madilog bukanlah karya tulis untuk pandangan hidup,  tetapi sebagai cara berpikir yang harus dimiliki oleh bangsa Indonesia agar dapat memaksimalkan logika.

Madilog sebagai istilah baru dalam cara berpikir, untuk menghubungkan ilmu bukti serta upaya mengembangkan jalan dan metode yang sesuai dengan akar kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Karena itu, pemikiran dalam buku Madilog menjadi semacam penuntun untuk keluar dari “logika mistika” dari keterbelakangan dan ketertinggalan.

Edt: Redaksi (AN)