Geledek Yang Menggelegar Itu Tak Juga Pernah Bisa Membasahi Bumi

Foto: Doc. Jacob Ereste

“Gelar apapun sebutannya tak berarti apa-apa jika tidak cukup memiliki bobot maksimal yang menjadi prasyarat untuk memenuhi substansi gelar yang diperoleh itu”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Ketokohan seseorang itu hanya akan didapat dari pemberian orang banyak sebagai pengakuan atas ketokohannya. Demikian juga pengakuan intelektual untuk seseorang yang berbasis akademis, tidak akan lebih apdol dari gelar yang diberikan oleh murid atau mahasiswanya, bukan yang diklaim oleh lembaga yang mamperjual-belikan keabsahannya.

Gelar apapun sebutannya tak berarti apa-apa jika tidak cukup memiliki bobot maksimal yang menjadi prasyarat untuk memenuhi substansi gelar yang diperoleh itu. Jadi percuma saja jika hanya untuk gagah-gagahan semata. Apalagi tidak bisa mewujudkan tugas dan fungsi apapun yang disandang oleh yang bersangkutan.

Terutama dalam bidang akademis misalnya harus cukup memiliki kemampuan untuk dapat membuktikan apa yang hendak diajarkan itu sesuai dengan bobot yang disandangnya.

Sementara yang lain justru merasa enggan untuk mencantumkan gelar di manapun, termasuk di depan maupun di belakang namanya. Meski orang seperti ini sesungguhnya memang pantas dan layak secara akademis untuk mencantumkan gelarnya.

Dalam tradisi maupun budaya masyarakat Indonesia kecenderungan untuk menempelkan beragam gelar itu diantara namanya cukup lumayan digandrungi. Itu sebabnya seorang sangat berhasrat mendapat beragam gelar, walau pun tidak ada kemampuan maupun bobot keilmuan atau keahlian serta pengetahuan yang dimiliki, memilih jalan pintas membeli dengan harga yang mahal sekalipun. Ingat, masalah ijazah palsu sempat ngetrend dulu di negeri kita.

Tak cukup punya bobot akademi atau gelar lainnya cukup dibayar dengan uang. Meski tak cukup syarat maupun  bobotnya untuk gelar tersebut. Karena ikhwal dari gelar yang diperoleh hanya untuk menggagahi saja.

Kisah serupa ini mengingatkan pada almarhum Presiden Soeharto yang menolak dengan santun gelar yang hendak diberikan padanya oleh satu perguruan tinggi yang cukup bergengsi di Indonesia.

Penolakan yang bijak atas pemberian gelar yang ditampik Pak Harto itu dulu, tak sempat membuat heboh atau gunjingan dari masyarakat.

Jadi kisah santun menolak gelar yang hendak diberikan kepada Pak Harto itu dulu bagus, jadi sandingan yang baik untuk semua pihak bersikap ugahari. Tentulah sikap ugahari yang bijak dari seorang yang sedang menjabat Presiden Republik Indonesia ketika itu, pasti didasari oleh sikap serta pemahaman spiritual yang mumpuni.

Ibarat menarik tambang dari dalam lumpur, tak perlu harus  membuat kekotoran semakin meluas hingga pihak lain harus menanggung malu.

Celakanya, justru pada jaman now kegilaan terhadap beragam gelar ini seperti birahi yang tak mampu dikendalikan. Bila perlu, mungkin bisa dilakukan lebih edan-edanan lagi dari itu, misalnya mau membeli gelar dengan tarif yang mahal sekalipun. Atau sekalian, memborong semua gelar yang ada seperti belanja di warung tetangga.

Agaknya demikianlah perilaku dari manusia pada jaman now yang semakin kacau. Bukan hanya isi kepalanya saja yang tidak ada, tapi isi hatinya pun kosong kerontang, seperti sudah habis rasa malunya karena di konversi oleh Mbakyu Rupiah yang tidak pula seberapa paras cantiknya. Tapi, toh genitnya nyaris tak ada tandingannya.

Ibarat geledek yang tak menurunkan hujan, mamun yang menakutkan gelegarnya cukup  mengerikan bagi banyak orang. Padahal, gerimis pun tidak juga membasahi bumi.

Edt: Redaksi (AN)