Gerakan Nasional Penyelamatan Bangsa dan Negara

Foto: (Ist)

“Teror narkoba yang masuk hampir setiap hari ke negeri kita bukan sekedar bisnis semata”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Bangkitnya gerakan nasional untuk menyelamatkan bangsa dan negara Indonesia harus dilakukan bersama seluruh rakyat Indonesia dengan mempersiapkan diri dari berbagai bentuk dan cara perang asimetris yang sedang menghajar kita, bangsa dan negara Indonesia dari berbagai unsur asing.

Teror narkoba yang masuk hampir setiap hari ke negeri kita bukan sekedar bisnis semata, terapi lebih dimaksudkan sebagai bagian dari strategi perang asimetris untuk melemahkan pertahanan dan ketahanan budaya kita untuk mempermudah jalan mereka guna menguasai semua milik kita, termasuk kemerdekaan untuk berdaulat secara politik dan mandiri dalam ekonomi serta berkepribadian seperti yang dicita-ditakan oleh founding fathers bersama seluruh rakyat Indonesia, seperti cita-cita proklamasi sejak tahun 1945.

Semua unsur masyarakat adat dan keraton pun memberikan wilayah serta otoritas kekuasaannya untuk bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu masyarakat adat dan keraton harus mulai diikutsertakan fungsi dan peranannya dalam membangun dan menata kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karena bukan saja disebabkan oleh potensinya yang besar itu patut untuk dimanfaat bagi pemberdayaan manusia Indonesia secara maksimal, tetapi juga jasa besar masyarakat adat dan keraton perlu juga diberdayakan untuk membangun ketahanan dan pertahanan bangsa dan negara Indonesia secara semesta guna menggahapi perang asimetris yang tengah menggempur kita dari berbagai penjuru dan sektor, sehingga mengancam kelangsungan hidup kita dalam berbangsa dan bernegara secara baik dan sehat.

Jatuhnya sejumlah asset bangsa dan negara dalam kekuasaan bangsa asing jelas menjadi bukti kekalahan yang harus kita tanggung bersama itu sekarang.

Kesadaran dan kebangkitan kita untuk melawan bukan semata-mata untuk menyelamatkan bangsa dan negara semata dari jarahan dan penguasaan dari bangsa asing, tapi harus dapat dipahami sebagai harga diri dari bangsa yang telah menyatakan tekad kemerdekaan dan hendak menghapus segala bentuk penjajahan di atas bumi.

Jika tidak, maka sikap pembiaran yang kita lakukan jadi pengkhiatan yang tidak termaafkan oleh para founding fathers yang telah berkorban banyak mrliputi harta benda dan nyawa para suhada.

Kebangkitan kesadaran rasa nasionalisme kita perlu dikobarkan secara semesta, total tanpa reserve untuk mempertahankan kehidupan berbangsa dam bernegara kita ager dapat tetap berlangsung seperti bangsa-bangsa lain di dunia untuk menikmati hidup dan penghidupan yang adil, makmur serta sejahtera dalam tatanan yang harmoni dan langgeng tanpa boleh diusik oleh bangsa manapun di dunia ini.

Karenanya perlawanan semesta harus dan mutlak kita lakukan terhadap keculasan bangsa asing yang hendak mengangkangi bangsa dan negara kita ini. Dan segenap daya serta upaya patut kita kerahkan sampai titik darah penghabisan.

Sebab apa artinya hidup di negeri sendiri, namum tidak menikmati arti dari kemerdekaan yang sejati sebagai manusia yang patut dan harus memiliki harga diri.

Oleh karena itu perlawanan dan pertahanan yang bersifat semesta harus kita lajukan di semua lini, di segala sektor serta di segenap bidang kehidupan yang tengah menjadi incaran mereka untuk dapat direbut dari tangan kita lewat segala cara yang telah mereka lakukan melalui sogok menyogok untuk mengubah atau membuat peraturan hingga perundang-undangan yang baru, memasok bahan pangan hingga barang keperluan sehari-hari untuk membuat ketergantungan konsumsi di dalam negeri, sampai tenaga kerja-impor yang deras masuk hingga belum bisa dikontrol dengan baik sampai hari ini.

Sementara pada bagian lain ada gerakan yang menyerbu dengan model rente, investasi dan semacamnya untuk kemudian menguasai asset yang tergadai itu akibat hutang yang terus menggunung tak mampu lagi dibayar. Proyek super raksasa seperti Meikerta dan penimbunan laut di Teluk Jakarta yang disebut reklamasi itu, toh sudah merayah habis berbagai tempat di daerah.

Beragam hasil panen petani kita semakin tidak berdaya pada bahan pangan impor, padahal belum seabad berlalu hasil rempah-renpah dari negeri kita pernah sangat amat berjaya. Itulah sebabnya budaya kolonial hendak bernostalgia kembali untuk menguasai bumi yang subur makmur ini. Sebab mereka terjesan lebih paham betapa kaya rayanya isi perut bumi negeri kita ini.

Oleh karena itu, sikap pilihan kita harus jelas dan mantap, kebih baik berkalang tanah dari pada hidup terjajah di kampung halaman leluhur sendiri. Sebab leluhur kita yang telah gugur merebut kemerdekaan dulu pun, di alam kuburnya pun mungkin juga akan bersedih, bila bisa menyaksikan tragika yang tengah melantak negeri kita sekarang.

Edt: Redaksi (AN)