GMRI Digagas Sriyono Eko Galgendu Mengidolakan Lahirnya Sosok Kepemimpinan Spiritual

Foto: Doc. Jacob Ereste

“Bahkan sikap khianat pun dilakukan secara terang-terangan dengan terbuka tanpa rasa risih maupun rasa berdosa atas perilaku yang mengabaikan amanah rakyat itu”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Kepemimpinan yang memiliki bobot spiritual sangat diharap muncul dan tampil memimpin bangsa dan negara Indonesia, agar dapat segera mengatasi merosotnya moral dan etika bangsa agar tidak semakin terpuruk akibat pembiaran pelanggaran etika, budaya dan rasa malu bahkan sikap zalim tanpa pernah merasa memiliki ikatan moral terhadap janji maupun  sumpah yang menjadi tugas dan berkewajiban untuk dialankan sesuai amanah dari rakyat.

Bahkan sikap khianat pun dilakukan secara terang-terangan dengan terbuka tanpa rasa risih maupun rasa berdosa atas perilaku yang mengabaikan amanah rakyat itu.

Orientasi dari hasrat untuk berkuasa jelas ditunjukkan oleh mereka yang sudah birahi membicarakan hasratnya untuk menjadi Presiden pada tiga tahun mendatang —Pemilu 2024— yang masih cukup lama proses pergantiannya.

Hasrat untuk mencalonkan diri menjadi Presiden RI pada periode 2024-2028 itu pun tidak pula muncul dari hasrat rakyat  yang diklaim atas kesepakatan dari kedaulatan yang digenggam oleh rakyat. Padahal kedaulatan itu sendiri justru digilas oleh nafsu dan keinginan pribadi atau kelompok dari masing-masing pihak yang tak malu menjagokan pilihannya.

Adapun pilihan yang dijagokan itu pun umumnya bukan atas dasar kualitas, tidak juga berdasarkan kapabelitas serta elektabilitas, tapi lebih didasarkan birahi kekuasaan dengan materi yang dimiliki oleh calon yang bersangkutan. Atau mereka yang memiliki dukungan finansial dari para pemiliki modal. Hingga menjadi otomatis kelak kemenangan yang diperoleh kemudian bisa berada di dalam gengganan para rentenir.

Artinya, dari kepemimpinan yang dikuasai oleh kapitalis ini, kelak mereka akan menghitung laba yang harus dapat diperoleh. Minimal untuk secepatnya mengembalikan modal yang telah dikucurkan dalam prosesi merebut  kekuasaan yang diinginkan.

Jadi sosok kepemimpinan yang memiliki bobot spiritual jadi berbanding terbalik dengan kepemimpinan yang berbasis pada kapital, baik langsung maupun tidak langsung, kelak vibrasinya akan sangat kuat pengaruhnya dari kapitalisme yang telah dimodifikasi dalam tampilan yang modern hingga menjadi neo-liberal. Yang pasti keneradaan
kepemimpinan yang memiliki bobot spuritual yang memadai  akan menggusur rakyat menjadi semakin materialistik.

itulah sebabnya takaran dalam keberhasilan seseorang itu pada zaman now selalu diukur dari harta banda yang mampu dikumpulkannya. Hingga money politik tak hanya akan menjadi bagian dalam Pemilu atau Pilkada, tetapi akan semakin liar merambah sektor kehidupan yang lebih luas. Karena dalam kondisi masyarakat yang relatif miskin, budaya uang pelicin, suap menyuap dan korupsi akan semakin marak dan langgeng dilakukan oleh mereka yang mau memberi maupun oleh mereka yang siap untuk menerimanya, meski sebagai konsekuensinya dari transaksi budaya serupa ini moral dan etika serta harga diri menjadi seperti barang yang bisa dibarter kapan pun juga.

Begitulah cara dan praktek  transaksi buaya atau sebaliknya budaya transaksi yang merambah wilayah yang makin meluas, hingga tapal batas agama yang tak lagi memiliki sosok panutan.

Agaknya, fase dekadensi moral, etika dan budaya yang telah koyak-moyak itu tidak lagi dapat jadi andal sebagai pertahanan. Akhlak serta keimanan yang dibungkus oleh hati nurani dan jiwa yang bersifat ilahiyah, seperti bukan berkah dari Yang Maha Pencipta bagi manusia.

Sementara hakekat dari Tuhan itu sendiri telah tersingkir, seperti sila-sila Pancasila yang rontok menjadi hiasan belaka. Tampaknya, begitulah materi yang berlangsung disubmasikan, atau  direkayasa oleh penganut materialisme do era milineal sekarang ini. Hingga semua hal menjadi setara dengan Tuhan.

Atau mungkin juga di negeri Pancasila ini, keberadaannya telah diposisikan oleh mereka itu berada di atas sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Atau, boleh jadi dalam konteks seperti itu, harapan dari seorang Sri Eko Galgendu yang mengidolakan lahirnya sosok kepemimpinan yang memiliki bobot spiritual bisa lahir dan tampil untuk dapat segera menyelamatkan bangsa dan negara Indonesia dari ancaman kehancurannya.

Edt: Redaksi (AN)