Guruku Rock n Roll

Foto: (Doc. Norman Arief)

“tulislah apa yang dilalui hari ini sebelum tidur, lakukan setiap hari dan buka kembali tulisan itu setelah tiga atau tujuh hari sesudahnya”

Oleh: Norman Arief

Depok (Bintangtimur.net) – Disiplin berbagai ilmu sudah selayaknya harus dimiliki setiap insan. Baik yang bersifat ‘pasti’ atau ‘non pasti’. Mencarinya pun tidak harus selalu dibangku pendidikan berjenjang.

Narasi ini akan berliku dan tidak berkesimpulan.

Memelihara kebodohan pertanda tidak layak untuk hidup dikehidupan. Apalagi merasa cukup dengan ilmu yang hanya laksana sebutir gula pasir, namun merasa sudah sanggup merasakan manisnya kehidupan.

Narasi di sepertiga malam ini sengaja tertulis lantaran teringat seorang guru yang entah sekarang dimana berada dan apakah masih hidup.

Iya…
Memori itu terbesit seketika. Guru yang memiliki hobi menghisap tembakau dengan cangklong gading dan selalu memakai akar bahar itu pernah berkata:

“tulislah apa yang dilalui hari ini sebelum tidur, lakukan setiap hari dan buka kembali tulisan itu setelah tiga atau tujuh hari sesudahnya”

Atau

“jika malas buka saja kembali tiga puluh hari kemudian. Setelah itu simak baik-baik apa yang sudah dilalui dalam hidup ini”

Hmmm…
Jujur saja agak malas melakukannya dan diri ini tidak bertahan lama melakukan anjuran itu.

Pada akhirnya tidak sengaja saat membongkar rak buku menemukan catatan usang. Teringat tulisan yang pernah diabadikan saat lalui hari yang dirasa bermakna.

Tertera disitu ada catatan “jangan lupakan jasa ataupun pertolongan orang sekitar meski bernilai kecil”.

Berkaitan sekali dengan saran atau nasihat guru terhadap apa yang siang tadi terjadi. Berjumpa sahabat lama yang dahulu terkesan “jahiliah” namun saat ini sudah mengenakan pakaian “ulama”.

Entah kebetulan atau energi dari guru yang berpenampilan bukan guru namun banyak hal yang diri ini dapati. Tentunya akan berseri dan bersambung layaknya sinetron jika diurai disini. Namun kisah yang terurai ini bagian dari episode mengisi heningnya sepertiga malam.

Dan ada benarnya juga jika tidak ada yang “menulis” maka kaum penikmat agama tidak akan ada “kitab” yang dipelajari atau jadi pedoman hidup.

Iya…
Ku beri gelar guru tersebut “Guru Rock n Roll.
Karena penampilannya yang terkadang seperti jawara silat lantaran batu cincinnya yang besar. Pernah juga mengenakan topi bandit atau seperti “pak tino sidin”. Pernah juga berbincang mengenakan celana pendek seperti turis-turis dibali dan kaos.

Ahh… Sudahlah tidak penting bahas penampilannya yang selalu berubah-ubah. Apalah arti pakaian jika pakaian itu bernazis.

Satu lagi memori di narasi ini sebagai obrolan dalam “tulisan”, pesannya jangan bangga jika sudah sanggup mendirikan “keris pusaka”. Karena itu pekerjaan mudah. Yang sulit itu mendirikan sholat.

Edt: Redaksi (AN)