Hajj Journey – 04

Foto: (Doc. Imam Shamsi Ali)
Ket. Foto: Khutbah Idul Adha tahun lalu di kota New York

“Semua hal yang relevansinya dengan ”hajjun wa hijjatun” ini berada pada ruang lingkup pembahasan fiqh haji”

Oleh: Imam Shamsi Ali (Presiden Nusantara Foundation/Pembimbing haji Nusantara USA)

Jakarta (Bintangtimur.net) – Kata haji itu sendiri sesungguhnya sangat unik. Arti lepasnya adalah ”melakukan safar atau perjalanan ke tempat yang jauh”.

Namun jika kita lihat lebih dekat lagi, kata ”hajj” akan kita dapati memiliki beberapa arti.

Kata haji itu sendiri berasal dari kata ”hajja” yang bisa mengarah kepada minimal dua makna: Bisa membawa kepada ”hajja-yahijju-hajjun wa hijjatun”.

Pertama, Hajjun (fatha) adalah bentuk mashdar atau asal kata itu sendiri. Sementara hijjun (kasrah) itu adalah bentuk ism atau kata benda dari haji.

Media, kata ”hajja” juga bisa menghasilkan: ”yahujju-hujjatun” (dengan dhomma).

Hujjatun dalam bahasa Arab kita kenal dengan makna dalil, alasan atau argumen. Tapi juga bisa tanda, bahkan bukti.

Jika bentuk pertama (hajjun dan hijjatun) lebih menggambarkan makna kasat dari haji, maka hujjatun lebih menggambarkan makna hakiki dari haji.

Secara kasat, yang dalam bahasa agama lebih dikenal dengan ”syariah” berarti melakukan perjalanan jauh (ke tanah suci) untuk melakukan ritual Ibadah karena Allah Swt.

Penggambaran makna ini diekspresikan dalam bahasa Al-Quran dengan: ”ya’tuuka rijaalan wa’alaa kulli dhoomir”. Bahwa orang-orang yang memenuhi panggilan haji itu ”akan datang ke tanah suci dengan berjalan kaki atau dengan mengendarai unta-unta yang jinak. Mereka datang dari berbagai penjuru yang jauh”.

Semua hal yang relevansinya dengan ”hajjun wa hijjatun” ini berada pada ruang lingkup pembahasan fiqh haji. Atau tatacara dan aturan melaksanakan haji, yang lebih mayshur dengan istilah ”manasik haji”.

Sementara kata ”hajja-yahujju-hujjatun” lebih banyak berhubungan dengan makna-makna spiritual atau hakiki dari pelaksanaan ibadah haji. Sesuatu yang ketika berbicara tentang ritual dalam Islam banyak dilupakan (ignored).

Haji disebut hujjatun atau dalil, alasan, bukti karena haji memang adalah penutup dari rangkaian rukun Islam. Sebuah kewajiban sekali dalam hidup manusia. Maka melaksanakannya sekaligus sebuah komitmen pembuktian akan keislaman seseorang.

Tidak mengherankan kemudian jika haji ini pada galibnya berkaitan dengan komitmen keislaman Ibrahim As. Dengan kata lain, Ibrahim As menjadi figur sentra dari praktek ritual ibadah haji.

Kenapa Ibrahim As?

Karena Ibrahim dikenal sebagai ”penghulu monoteisme”. Dalam bahasa agama beliau dikenal sebagai ”abul ambiya”. Bapak dari para nabi.

Juga karena Ibrahim As merupakan sosok yang telah menjadi ”uswah” dalam perjalanan menuju kepada kesempurnaan Islam. Mulai dari proses mencari tuhan yang sebenarnya hingga pengorbanan tanpa pamrih dalam peribadatan kepada Rabbul alamin.

Maka sangat wajar jika kemudian dalam Islam Ibrahim As dikenal sebagai orang pertama yang digelari sebagai ”Muslim”.

Tentu penobatan gelar yang maksud bukan pada hakikatnya saja. Karena Islam meyakini semua manusia secara hakikat terlahir Muslim. Dan semua nabi dan rasul adalah pembawa risalah Islam.

Tapi bagi Ibrahim As kata Muslim di sini menjadi sebuah panggilan ”resmi” (official). Itulah yang diabadikan dalam Al-Quran: ”huwa samaakumul muslimiina min qabl”. Artinya bahwa sebelum Muhammad Saw atau sebelum Al-Quran, Allah Swt memberikan gelar ”muslim” pertama itu kepada Ibrahim As.

Bahkan dengan tegas Al-Quran menegaskan: ”Ibrahim As bukan Yahudi, tidak juga Nasrani. Tapi seorang Muslim yang hanif”.

Semua realita itulah yang menjadikan ibadah haji berkaitan erat dengan Ibrahim As. Sebab sekali lagi haji memang menjadi bukti kesempurnaan Islam seperti komitmen Ibrahim As itu. Bukan pada syariatnya tapi pada hakikat dan komtimennya.

Dan yang lebih penting lagi, haji berarti hujjah atau bukti karena haji seorang Mukmin akan menjadi bukti keislaman sejati. Meninggal dengan haji mabrur adalah pembuktian bahwa seseorang itu meninggal dalam keadaan Muslim.

Al-Quran mengingatkan: ”wa laa tamutunna illa wa antum Muslimun” (janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan Muslim”).

Maka haji yang mabrur menjadi jawaban dan pembuktian. Sehingga sangat wajar jika ”haji mabrur balasannya tiada lain selain syurga”. (hadits).

Edt: Redaksi (AN)