Hajj Journey- 16

Foto: Doc. Imam Shamsi Ali
Ket. Foto: Peserta Summer Tahfidz Intensif Pesantren Nui Inka Nusantara Madani US.

“Komitmen dan kesungguhan itu yang dalam ritual manasik haji tersimbolkan dengan mabit, baik di Muzdalifah maupun di Mina selama 2 atau 3 malam”

Oleh: Imam Shamsi Ali (Presiden Nusantara Foundation/Nusantara USA)

Jakarta (Bintangtimur.net) – Hidup manusia yang alami, suci, dan mulia itu sering kali, bahkan menjadi sunnah (aturan) Allah bahwa dalam perjalanannya mengalami berbagai interupsi (gangguan, godaan, tantangan). Di sinilah manusia kemudian terbagi dua. Ada yang “Muhtadiin” (tetap berada di atas fitrah) dan ada yang “dhoolliin” (tergelincir dari kefitrahan).

Hal ini sekaligus mengingatkan kita pertarungan antara kebenaran (al-haq) dan kejahatan (al-batil), sejak awal penciptaan manusia. Adam yang diciptakan dengan karakter kemuliaan lebih oleh Allah dan Iblis diperintahkan untuk memuliakannya.

Perintah memuliakan itu tersimbolkan oleh perintah Allah kepada Iblis untuk bersujud kepada Adam. “Sujuud ikraam” (pemuliaan) atau “sujuud ihtiram” (penghormatan). Bukan “sujuud ta’abbud” (sujud penyembahan).

Dalam candaan, saya biasa mengatakan bahwa sungkeman orang Jawa kepada orang tua itu adalah implementasi perintah Alquran. Di mana sang anak bersimpuh menunduk seolah sujud kepada orang tuanya. Menghormati yang lebih tua dengan cara itu secara substansi nampaknya sangat qurani.

Kemuliaan dan kehormatan yang diberikan kepada Adam itu ternyata menjadikan Iblis tumbang. Tumbang ketaatannya yang selama ini setingkat ketaatan malaikat. Iblis dengan keangkuhannya menolak perintah Tuhan untuk bersujud menghormati Adam AS.

Akibatnya, Iblis terusir dari rahmat Allah. Terusir keluar dari surga yang selama ini didiaminya dengan tenang. Iblis menjadi makhluk yang “rajiim” (terlaknat). Kejatuhan Iblis itu menjadikannya semakin menjadi-jadi dalam dendam, iri hati, dan dengki kepada Adam AS. Sejak saat itu pula Iblis bertekad untuk menggoda dan menyesatkan anak cucu Adam.

Singkat cerita, sejak itu pertarungan sengit dan abadi terjadi antara dua makhluk Tuhan itu. Bahkan Adam sendiri belakangan sempat tergoda oleh rayuan Iblis untuk memakan “buah terlarang” (khuld) itu. Untung rahmat Allah segera menyelimuti beliau dan diampuni oleh Allah SWT.

Pertarungan demi pertarungan, godaan demi godaan, dilancarkan oleh Iblis ke anak cucu Adam AS. Tidak sedikit di antara anak cucu Adam dan Hawa yang terjatuh. Kegigihannya juga tidak mengenal lelah.

Hingga masa Ibrahim AS di kemudian hari tiba. Ketika Allah mengujinya dengan ujian yang luar biasa. Barangkali dapat dikatakan sebuah ujian yang secara ukuran manusia “unbearable” (tidak mampu dilakukan). Setelah bertahun-tahun menunggu anak, Allah mengaruniainya dengan seorang putra.

Ujian awal Allah memerintahkanya membawa anak itu ke sebuah lembah yang tiada tumbuh-tumbuhan “bi waadin ghaer zar’in inda baetikal muharram”. Lembah itulah yang saat ini dikenal dengan Makkah, yang dalamnya ada Rumah Tua (al-baetul ‘atiiq) yang menjadi kiblat penyembahan orang-orang yang beriman.

Saya katakan ujian karena saat itu lembah itu hanya tempat yang hampa, dikelilingi oleh gunung-gunung bebatuan yang ‘ganas’. Kata “ghaer zar’in” (tiada tumbuhan) menunjukkan bahwa lembah itu ‘ganas’ dan tiada sumber kehidupan.

Kendati demikian, Ibrahim AS tanpa tanya apalagi protes mengantar anaknya yang baru lahir bersama istri tercinta ke tempat itu. Mereka berdua ditinggalkan dengan perbekalan seadanya.

Peserta Summer Tahfidz Intensif Pesantren Nui Inka Nusantara Madani US. Foto: Dok. Pribadi

Ternyata ujian itu belum selesai. Ujian terbesar justru datang beberapa tahun kemudian. Di saat anaknya mencapai umur balig (12-13 tahun), Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih anaknya sebagai pengorbanan kepada Tuhan.

Itu dikisahkan dalam Alquran: “Dan ketika anaknya mencapai umur balig, dia berkata: Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi jika aku memotong kamu. Lalu bagaimana pendapatmu? Sang anak menjawab: Wahai ayahku tercinta lakukan apa yang telah diperintahkan kepadamu. Insya Allah niscaya engkau akan mendapatkan saya termasuk orang-orang yang bersabar.”

Ibrahim pun mulai berjalan dengan anaknya Ismail ke arah tempat pemotongan di Mina. Konon, ibu Ismail (Hajar) tidak diberitahu ujian besar itu, khawatirnya sebagai Ibu beliau sedih dan menolak perintah itu.

Dalam perjalanan itulah Ibrahim mempersiapkan diri dengan penuh kematangan. Salah satunya singgah sebentar di sebuah lembah bernama Muzdalifah. Di sanalah beliau berzikir menenangkan batin menghadapi ujian besar itu. Keesokan harinya beliau melanjutkan perjalanan menuju Mina.

Ibu Ismail (Hajar) yang tidak diberitahu itu rupanya menjadi target pertama setan. Beliau diberitahu, bahkan dirayu untuk membatalkan rencana Ibrahim itu. Beliau ternyata memiliki keimanan dan tawakal yang hebat. Rayuan dan godaan itu ditolak dengan keras.

Sang setan kemudian berani mendekati Ibrahim. Dibujuknya agar membatalkan menyembelih anaknya yang tercinta dan satu-satunya itu. Ibrahim yang sudah bulat dalam keyakinan itu tentu marah. Setan pun dia usir (lempar). Itulah tempat pelemparan pertama yang dikenal dengan “Jamrah Ulaa”.

Setan itu bersikukuh menggoda. Ibrahim yang sudah berjalan itu didekati lagi dengan godaan yang sama. Ibrahim pun merespons dengan tegas, bahkan keras (dilempar). Itulah jamrah wustho (pertengahan).

Rupanya setan belum juga menyerah. Diikuti terus dengan rayuan dan Godaan yang sama. Tapi Ibrahim tidak bergeming dan tergoda sedikit pun. Malah kembali dilempar di tempat yang ketiga. Itulah yang kita kenal dengan Jamrah Aqabah.

Kesimpulannya adalah bahwa pertarungan antara kebatilan dan kebenaran itu sengit dan abadi. Karenanya, menghadapi pertarungan itu diperlukan komitmen dan kesungguhan penuh.

Komitmen dan kesungguhan itu yang dalam ritual manasik haji tersimbolkan dengan mabit, baik di Muzdalifah maupun di Mina selama 2 atau 3 malam. Mabit Mina ini bahkan menjadi amalan terlama dalam prosesi amalan-amalan haji.

Pertanyaannya, apakah simbol perlawanan itu ada pada diri jemaah? Sehingga begitu bersemangat melempar jamrah di Mina, tapi justru tersenyum dan bersahabat dengan setan di kampung masing-masing. Semoga tidak! (Bersambung…).

Edt: Redaksi (AN)