Hakikat Dzikir Menurut Syeikh Abdul Qadir Al Jailani

Foto: (Ilustrasi)

“Maka sesungguhnya Dia Maha Tahu yang rahasia dan yang lebih tersembunyi.”

Jakarta (Bintangtimur.net) – Syeikh Abdul Qadir Al Jailani berkata, diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw telah bersabda:

“Maukah kuceritakan kepadamu tentang amalmu terbaik dan paling bersih dalam pandangan Allah Swt, serta orang yang tertinggi derajatnya di antaramu, yang lebih baik dari menyedekahkan emas dan perak serta memerangi musuh-musuhmu dan memotong leher mereka, dan mereka juga memotong lehermu? Para sahabat bertanya, Apakah itu, wahai Rasulullah? Beliau menjawab, Dzikir kepada Allah swt.”
(Riwayat Baihaqi).

Rasulullah Saw bersabda:

“Yang paling utama aku ucapkan, aku dan ucapan para Nabi sebelumku adalah ‘Laa Ilaaha Illallaah’. Setiap maqam dzikir ada syarat martabat tertentu, baik dzikir bersuara (jahr) maupun yang tersembunyi (khafi).

Bermula adalah dzikir lisan, kemudian dzikir jiwa (nafs), kemudian dzikir qalbu, lalu dzikir roh, kemudian dzikir sirr (rahasia roh), kemudian dzikir rahasia (khafi), lalu dzikir paling rahasia (akhfal khafi).

Dzikir Lisan adalah dzikir, di mana dengan dzikir itu mengingatkan qalbu yang lalai pada ingat Allah Taala.

Dzikir Jiwa (nafs) adalah dzikir yang terdengar oleh huruf maupun suara, tetapi terdengar oleh rasa dan gerak-gerik dalam batin.

Dzikir qalbu adalah aktivitas qalbu dengan segala apa yang tersembunyi di dalamnya dari pancaran Kemaha-agungan dan Kemaha-indahanNya.

Dzikir roh, tersimpul pada penyaksian cahaya-cahaya tajalli sifat.

Dzikir sirr, adalah fokusnya ketersingkapan rahasia-rahasia Ilahiyah.

Dzikir Khafi adalah menyelaraskan cahaya-cahaya Kemahaindahan Zat Ahadiyah di tempat yang benar.

Sedangkan dzikir akhfal khafi adalah memandang pada Hakikat Haqqul Yaqin, dan tak ada yang nampak kecuali hanya Allah Taala, sebagaimana firmanNya:

“Maka sesungguhnya Dia Maha Tahu yang rahasia dan yang lebih tersembunyi.” (Thaha: 7).

Perlu diketahui, di sana ada sisi roh lain yang lebih lembut dibanding roh-roh yang ada yang disebut dengan ‘Thiflul Maani’, yaitu suatu kelembutan yang memotivasi seluruh gerak menuju kepada Allah Swt. Para ulama sufi menegaskan, roh ini tidak bersemai pada setiap orang namun lebih bersemai pada kalangan khusus, sebagaimana firman Allah Taala:

“Allah mempertemukan roh dari perintahNya pada orang yang dikehendaki dari kalangan hamba-hambaNya.” (Ghafir: 15).

Roh tersebut yang berganding secara lazim dengan alam Qudrat dan Musyahadah di alam Hakikat, sehingga sama sekali tidak berpaling kepada selain Allah Swt, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Saw:

“Dunia itu haram bagi Ahli Akhirat, dan Akhirat itu haram bagi Ahli Dunia, dan keduanya haram bagi Ahlullah.” (Ad-Daylamy).

Sedangkan jalan wushul kepada Allah Taala, melalui peneladanan jejak secara fisik di jalan yang lurus melalui hukum syariat, baik malam maupun siang. Sedangkan di satu sisi, harus melakukan dzikir kepada Allah Taala, sebagai keharusan yang mesti dilakukan oleh para pencari, sebagaimana firmanNya:

“Yaitu orang-orang yang berdzikir kepada Allah Swt baik ketika berdiri dan ketika duduk dan ketika tidur, dan bertafakur.” (Ali Imran: 191).

Yang dimaksudkan dengan berdiri adalah dzikir di siang hari, dan makna duduk adalah dzikir di malam hari. Begitu pula ketika dalam tidur, dalam suasana tergenggam Ilahi, terhamparkan keleluasaan jiwanya, ketika sehat, sakit, kaya, miskin, mulia dan abadi, dan sebagainya.

Wallahu a’lam.

Salam Sejahtera Dan Salam Tauhid.

Edt: Redaksi (AN)