Hasil Pilpres 2019 Adalah Rusaknya Martabat Bhayangkara Dan Menguak Muka-muka Penjahat

Foto: (Doc. Asmawan Patrick)

Oleh: Asmawan Patrick

“Dalam kontes pemilihan seperti ini wajar masing-masing pihak ingin menang”

Jakarta (Bintangtimur.net) – Perkembangan pesat teknologi informasi membuat masyarakat leluasa saling tukar informasi, demikian juga berita-berita online sangat cepat mengabarkan kepada khalayak ramai atau masyarakat kita.

2 pasang kontestan Pilpres 2019 otomatis menjadikan rakyat Indonesia terbelah dukungannya menjadi 2 kubu pendukung.

Dalam kontes pemilihan seperti ini wajar masing-masing pihak ingin menang, akan tetapi yang menjadikan tidak wajar adalah keinginan menang dengan menghalalkan segala cara, bukan lagi kecurangan akan tetapi sudah menjadi praktek kejahatan atau tindakan kriminal.

Masyarakat sudah pandai dan tidak bisa dibohongi, masyarakat sudah saling berbagi informasi maupun membaca informasi via gadget masing-masing ditangan.
Hal ini jangan coba-coba menindas pikiran dan perasaan rakyat.

Tentara dan Polisi langit akan turun menindak kejahatan penguasa, apalagi ada yang sedang bekerja membangun infratruktur langit.
Tim IT masing-masing pihak sedang perang hebat.

Petaka bagi bangsa ini suasana hingar bingar politik, secara disadari atau tidak telah dimanfaatkan situasi ini oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, baik dari Indonesia sendiri maupun pihak asing.

Kecurigaan ini muncul karena Pilpres pelaksanaannya membawa korban ratusan petugas pemilu yang belum tahu sebabnya.

Namun dari banyaknya korban itu dapat diduga ada serangan-serangan pihak tertentu sebagai bentuk serangan terorisme, dan akan ada hikmah nantinya diselidiki dan perkiraannya disinilah akan terjawab siapakah teroris di Indonesia.

Alangkah disayangkan dengan jatuhnya korban yang jumlahnya ratusan, pihak Kepolisian begitu lambat menyikapinya. Ada apa dengan Polisi sang Bhayangkara. .

Pertanyaannya asli Bhayangkara atau Bhayangkara palsu dirimu?.

Dari betbagai insiden dan telah diungkapkan oleh Prabowo Capres 02, Polisi tidak adil dengan kata lain ikut bermain atau memihak.

Jadi pertanyaannya “siapakah Polisi yang katanya sebagai Bhayangkara? Tugasnya pengayom masyarakat dan mengamankan masyarakat.

Disinilah rusaknya Bhayangkara, karena salah melakukan tindakan.

Polisi dididik dan dan digaji oleh Negara agar dapat bekerja secara profesional, yang terjadi malah sebaliknya. Polisi mengancam dan mengintimidasi rakyat dalam berjuang menegakkan demokrasi.

Sekarang ini sudah jelas siapa-siapa rampok Negara. Mereka dibalik Kekuasaan dan ingin tetap merampok sampai kiamat.

Tinggal tunggu waktunya penjahat Negara akan binasa bersama Politikus-politikus busuk yang akan jadi abu di neraka.

Edt: Redaksi (AN)