Hijrah: Pilar Peradaban Modern (Part IV)

Foto: Ist

“Tanpa keamanan dan stabilitas dalam negeri, tidaklah mungkin akan terbangun peradaban modern (islami) manusia”

Oleh: Imam Shamsi Ali (Presiden Nusantara Foundation)

Jakarta (Bintangtimur.net) – Independensi ekonomi adalah saah satu pilar peradaban modern (Islam). Peradaban yang memberikan kemakmuran (‘imaarah) kepada seluruh masyarakatnya. Bukan peradaban yang selalu bergantung kepada belas kasih orang lain.

Umat ini, sekali lagi, sesungguhnya berada pada posisi untuk independen secara ekonomi. Tengoklah dunia Islam dari barat hingga timur. Semua berada pada posisi strategis secara ekonomi. Dari pertambangan, pertanian dan kelautan ada pada negara-negara mayoritas Muslim.

Sayangnya, najis-najis kehidupanlah yang menjadikan potensi itu tidak teroptimalkan, bahkan tersia-siakan. Najis-najis inilah yang perlu di “zakatkan” atau disucikan (tazkiyah). Sebab najis-najis inilah yang menjadikan semua itu kotor. Kotor pemikiran dan prilaku sehingga potensi perekonomian itu menjadi bencana bagi umat.

Saya mekakai kata “najis” yang merusak potensi ekonomi itu karena sejatinya najis itulah yang menumbuhkan prilaku korup dalam pengelolaan potensi ekonomi itu. Najis itu adalah ketamakan, kerakusan, dan cinta dunia berlebihan yang mengantar kepada prilaku kapitalis. Di sinilah zakat memiliki makna moral untuk memerangi keserajahan itu.

Sementara bencana yang saya maksud adalah bahwa karena potensi kekayaan (ekonomi) itulah yang kemudian menjadikan negara-negara Islam diperebutkan bagaikan “sepotong daging” oleh anjing-anjing yang lapar lagi rakus.

Keamanan Dalam negeri

Kita mengenal dalam sejarah bahwa sebelum kedatangan Rasulullah SAW dimadinah, perang saudara bukan sesuatu yang baru. Dua suku besar masyarakat Arab, sejak beratus tahun tidak pernah akur. Ditambah lagi adanya adu domba dari masyarakat lain yang punya kepentingan, khususnya Yahudi.

Masyarakat Yahudi sendiri secara tidak resmi menjadi penasehat-penasehat (mustasyaar) bagi masyarakat yang saling berkonflik. Dan terkadang untuk kepentingan politik maupun ekonomi mereka, qabilah-qabilah Arab itu oleh masing-masing suku yahudi diadu domba.

Kedatangan Rasulullah SAW di Madinah ternyata membawa perdamaian kepada pihak-pihak yang kerap berperang itu. Bahkan tidak ada catatan resmi dalam sejarah yang mengatakan bahwa beliau melakukan pendekatan secara formal untuk mendamaikan para “conflicting parties” (pihak-pihak yang bertikai) itu. Tapi kharisma “sosok Kepribadian Rasulullah yang damai” itulah dengan sendirinya menjadikan inspirasi bagi semua pihak untuk berdamai.

Oleh karenanya, suku-suku yang selama ini, khususnya dua suku besar Arab; Aus dan Khazraj, menghentikan pernusuhan dan peperangan. Bahkan keduanya menjadi dua kelompok masyarakat yang tidak saja menjaga perdamian tapi juga membangun ukhuwah yang solid.

Ini pulalah salah satu peristiwa yang digambarkan dalam Al-Quran: “Dan kamu pernah berada di tepian lobang (kehancuran karena peperangan) lalu Allah menyatukan hati-hati kamu” (Ali Imran).

Luar biasanya adalah bahwa proses “ta’liful quluub” itu dilakukan dengan cara-cara “samawi” tanpa kelicikan diplomasi, apalagi pemaksaan dan kekerasan. Pendekatan yang bersifat sangat manusiawi bahkan bersifat alami. Sehingga semua merasa bersaudara, bahkan terjadi “itsaar” (memberikan perhatian lebih) kepada saudara-saudara mereka di atas kepentingan diri mereka sendiri.

Lingkungan atau suasana “ikhaa” (persaudaraan) seperti ini dengan sendirinya menciptakan keamanan dan stabilitas yang solid dalam negeri. Stabilitas dan keamanan yang tidak dipaksakan dengan pendekatan keamanan (security approach). Tapi sekali lagi dengan pendekatan “samawi” (langit) dan “qalbi” (hati) dengan metode “rahmah” (kasih sayang) Rasulullah SAW.

Ketika keamanan dan stabilitas itu terjadi maka dengan sendirinya kehidupan menjadi nyaman dan maju. Orang-orang Arab yang tadinya suka permusuhan dan peperangan kini berbalik menyenangi persaudaraan dan kerjasama. Maka terbangunlah “at-ta’awun alal birri wattaqwa” (kerjasama dalam kebaikan dan ketakwaan). Dengan ini pula Madinah semakin berkemajuan, di atas kasih sayang, keadilan dan kemakmuran.

Tanpa keamanan dan stabilitas dalam negeri, tidaklah mungkin akan terbangun peradaban modern (islami) manusia. Karena pembangunnan (development) memang terkait erat dengan keamanan dan stabilitas.

Mungkin ayat Al-qur’an yang paling relevan dengan kesimpulan ini adalah: “Dialah Allah yang memberi makan mereka dari kelaparan. Dab Dialah Allah yang memberikan mereka keamanan dari ketakutan” (Al-Quraysh).

Jika hal ini kita tarik kepada realita kehidupan masa kini kita maka akan tersimpulkan bahwa pembangunan dan kemakmuran (tho’aam) adalah cara terefektif dalam mewujudkan keamanan (al-amnu). Sebaliknya keamanan dan stabilitasi menjadi pilar bagi pembangunan dan kemakuran.

Dan pastinya di atas pilar ini pula perdaban alternatif itu dapat terbangun.

Edt: Redaksi (AN)