HOS Tjokroaminoto: Mahaguru Bangsa Yang Melahirkan Tokoh Kiri, Kanan dan Tengah

Foto: (Ist)

“Trilogi yang diajarkannya adalah setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Gelar Mahaguru Bangsa hanya pantas disandang oleh sosok Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, yang kemudian dikenal dengan nama H.O.S Cokroaminoto. Pemimpin organisasi pertama di Indonesia yang bernama Sarekat Islam itu menjadi besar ketika berada dalam kendalinya. Ia pembimbing sejumlah pendiri republik, termasuk Bung Karno. Karya tulisnya pun melagenda “Islam dan sosialisme”.

Trilogi yang diajarkannya adalah setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat. Trilogi yang diajarkannya ini hendak menggambarkan suasana perjuangan Indonesia pada masanya yang memerlukan tiga kemampuan untuk diri seorang pejuang kemerdekaan.

Tjokroamintoro berhasil menyatukan hampir semua orang Islam saat itu, baik dari kalangan abangan dan putihan, organisasi ini menjadi amat besar, ujar Bonnie yang mengkoreksi keanggotaan Sarekat Islam ketika sudah 2,6 juta orang.

Reputasi HOS Tjokroaminoto diakui banyak pihak mampu menghimpun berbagai elemen yang ada dalam Sarekat Islam. Kempuan yang tidak banyak dimiliki tokoh lain ini seperti hendak menunjukkan HOS Tjokroaminoto sosok yang ekletik. Dia bisa mengambil hal yang baik dari semua hal yang ada dan menyatukannya.

Agaknya inilah rahasia sukses besarnya HOS Tjokroaminoto bisa menjadi tokoh sentral karena dari organisasi yang dibesarkan, lantaran mampu  berbaur dengan berbagai kalangan yang memiliki pemikiran luas dan beragam baik dari bilik  kiri maupun dari bilik kanan.

Sehingga dari rumahnya yang menjadi pusat penggemblengan lahir tokoh berhaluan kiri maupun mereka yang berlahuan kanan. Sementara pada sisi lain pun lahir tokoh yang memilih jalan tengah.

Toloh kiri yang lahir dari Sarekat Islam bisalah disebut seperti H. Misbah dan Muso. Sedangkan tokoh berhaluan kanan diantaranya seperi Karto Suwiryo. Sementara yang terbilang berada di garis tengah adalah Soekarno.

Sejumlah peneliti menyimpulkan sifat ekletik yang menonjol dari HOS Tjokroaminoto pada masa itu karena pamahamannya terhadap sinkretisme yang cukup. Ia lahir sebagai generasi dimana tengah terjadi pembangunan berbagai macam kultur sehingga bisa melihat dunia dalam warna-warninya yang komplit.

Pada akhirnya sosok dan pemikiran HOS Tjokroaminoto pun tetap masih relevan untuk dijadikan acuan bagi generasi milenial hari ini. Setidaknya, trologi siasat politik yang menyataan ‘setinggi-tinggi ilmu, semurni- murni tauhid, sepintar-pintar siasat’ masih dapat digunakan oleh generasi milineal. Karena buah pemikiran HOS  Tjokroaminoto dapat dipahami seperti panduan politik modern yang cerdik, efisien dan bermartabat.

Boleh jadi buah pikir Bung Karno pun yang kemudian melahirkan pemikiran harus berdaulat secara politik dan berdikari dalam ekonomi serta berkepribadian dalam budaya itu mungkin saja di ilhami oleh gagasan pemikiran HOS Tjokroaminoto. Karena memang Soekarno sendiri meguru total pada Mahaguru Bangsa ini,  bahkan kemudian jadi menantunya.

HOS Tjokroaminoto hanya mungkin dapat disandingkan dengan Datuk Ibrahim gelar Sutan Tan Malaka. Mereka lahir pada tenggang waktu yang tidak terlalu berjauhan. Tan Malaka lahir di Uliki pada 2 Juni 1897  Pandam Gadang dan wafat pada 21 Februari 1949 Selopanggung, Kediri Jawa Timur. HOS. Tjokroaminoto lima belas tahun lebih tua dari Tan Malaka. Ia lahir di Ponorogo 26 Agustus 1882 dan wafat pada 17 Desembet 1934.

Meski hidup dalam usia yang relatif singkat, toh kedua Mahaguru Bangsa Indonesia ini telah menghantar tokoh-tokoh pergerakan berjuang untuk kemerdekaa bangsa dan negara Indonesia.

Edt: Redaksi (AN)