Hujan Yang Tumpah Dari Langit Jakarta

Foto: (Doc. Jacob Ereste)

“Lampu pun padam hingga mengesankan Ibukota Negara Indonesia seprti dunia hantu yang sangat mengerikan karena sejak menjelang subuh malam itu menjadi gelap gulita”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Jakarta lumpuh sejak subuh 25 Februari 2020, kata Erlita yang tinggal di kawasan Tebet Jakarta Selatan lewat pesan singkatnya lantaran tidak bisa memenuhi janjinya untuk jumpa.

Lampu pun padam hingga mengesankan Ibukota Negara Indonesia seprti dunia hantu yang sangat mengerikan karena sejak menjelang subuh malam itu menjadi gelap gulita.

Mati lampu bagi warga metropolitan Jakarta seperti mati suri. Hidup tapi tak bisa berbuat apa-apa. Sekedar untuk membeli ketupat sayur saja telah menjadi masalah tersendiri. Termasuk untuk disambangi penjual sayur keliling. Semua jadi mangkir dari jadwal tetapnya yang biasa.

Masalahnya pun ketika hendak memasak, kompor listrik juga tidak bisa dinyalakan. Lalu alternatif memesan makanan jadi pun di pagi yang digenangi air hujan yang tumpah dari langit semalam itu masih menggenang. Di kawasan Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat pun terendam air sebatas lutut orang dewasa.

Jadi wajar jika pemadaman listrik pun dilakukan. Bila tidak akan berbahaya untuk makhluk di sekitarnya, bisa mati kesetrum. Jadi praktis saluran telepon juga terganggu. Apalagi internet dan keinginan untuk berkomunikasi melalui media sosial. Seperti pesan Gojek atau Grabcar hingga menjelang sore belum bisa dilakukan.

Begitulah, karena hujan, listrik mati dan akses melalui media sosial dan televisi telah membuat sadar betapa sangat tergantungnya manusia pada teknologi di zaman now. Untuk meyakinkan Istana Negara tidak kebanjiran pada hari yang sama pun terpaksa ditunda.

Kemarahan kepada Kepala Daerah yang acap dianggap tak becus mengurus banjir atau mampu menghentikan hujan, agaknya perlu dievaluasi ulang. Sebab hujan yang tumpah dari langit belum bisa ditemukan tekniknya yang jitu untuk ditangkal. Kecuali itu juga,  Fakultas Teknik Menolak Hujan toh juga belum ada di perguruan tinggi kita.

Edt: Redaksi (AN)