HUT Pemadam Kebakaran Indonesia ke-101: Penanganan Bahaya Kebakaran Belum Optimal. Apa Soulsinya?

Foto: (Ist)

“Bahaya Kebakaran adalah resiko yang dapat berkembang meenjadi bencana”

Oleh: Prof. Dr. Manlian Ronald. A. Simanjuntak, ST., MT., D.Min(Guru Besar Universitas Pelita Harapan)

Jakarta (Bintangtimur.net) – Hari Minggu 1 Maret 2020 tepat bagi Institusi Pemadam Kebakaran Indonesia berusia 101 tahun. Umur Damkar RI melebihi umur Kemerdekaan Indonesia. Hampir setiap tahun dalam 5 tahun terakhir, sebagai  akademisi yang meminati Fire Safety diundang menghadiri Peringatan HUT Pemadam Kebakaran Republik Indonesia.

Dalam Peringatan HUT Pemadam Kebakaran Republik Indonesia yang ke 100 tahun lalu dan mencermati kondisi Indonesia di awal tahun 2020, dapat disimpulkan bahwa Program Pencegahan-Penanggulangan-Pengendalian Bahaya Kebakaran di Indonesia belum menjadi prioritas dan belum optimal.

Mengapa demikian? Bagaimana solusinya?

Berikut ini tinjauan kritis sebagai rekomendasi penting bagi Indonesia:

1). “Bahaya Kebakaran adalah resiko yang dapat berkembang meenjadi bencana”

Resiko berbasis pencegahan, sedangkan bencana berbasis penanggulangan. Dalam proses penyelenggaraan lingkungan (hutan, lahan, dll) dan berbagai proyek konstruksi (bangunan gedung, infrastruktur, dll), bahaya kebakaran dapat diminimalisir menjadi “Zero Accident”.

Kepedulian terhadap pencegahan kebakaran belum menjadi prioritas. Pemerintah Pusat melalui Kementerian Dalam Negeri RI belum memprioritaskan respon terhadap dampak kebakaran sebagai Program Nasional. Hal ini tercermin belum adanya Peraturan yang setingkat Undang-Undang yang mampu merespon bahaya kebakaran yang dapat terjadi setiap waktu.

Pemerintah Daerah juga belum merespon secara prioritas dampak kebakaran sebagai gerakan yang terintegrasi. Tinjauan kritis ini  bukan saja menegur Pemerintah (Pusat dan Daerah), tetapi sesungguhnya bertujuan “memvitalkan” peran Pemerintah sebagai Pembina untuk memprioritaskan usaha Pencegahan-Penanggulangan-Pengendalian Bahaya Kebakaran.

Apa solusinya? Jawabannya adalah mempersiapkan Naskah Akademis dan mendorong DPR RI mensahkan UU Keselamatan Terhadap Bahaya Kebakaran, serta menetapkan tanggal 1 Maret sebagai hari Libur Nasional agar seluruh bangsa Indonesia dapat mengenang serta kembali mengerti peran Damkar Indonesia terhadap bahaya Kebakaran.

Kementerian Dalam Negri RI sebagai Pembina Institusi Pemadam Kebakaran Indonesia harus memotori Penetapan 1 Maret sebagai Peringatan Nasional ini. Jika setiap tanggal 1 Maret menjadi hari Libur Nasional, maka bangsa Indonesia bukan sekedar berlibur, tetapi setiap 1 Maret bangsa  Indonesia memperingati melalui Program Fire Safety Campaign, cek total Sistem Proteksi Kebakaran di lingkungan (hutan, lahan, dll), rumah dan seluruh bangunan gedung, serta berbagai program lainnya dalam rangka peringatan lahirnya Pemadam Kebakaran Indonesia, dll.

2). “Sistem Proteksi Kebakaran di seluruh lingkungan (hutan, lahan, dll) maupun karya konstruksi di Indonesia belum optimal”

Pemerintah Pusat perlu terjun langsung ke seluruh lingkungan Pemda dan karya Konstruksi Indonesia utk cek, evaluasi dan mengambil sikap tegas dalam rangka memastikan seluruh lingkungan, pemilik serta pengelola karya konstruksi di Indonesia lebih “perduli” mengantisipasi bahaya kebakaran.

Apakah para ahli/professional telah lebih dulu perduli, mengerti dan mengaplikasikan prinsip keselamatan terhadap bahaya kebakaran dalam setiap desain, proses konstruksi, maupun proses operasional karya konstruksi?

3). “Institusi Pemadam Kebakaran Indonesia belum mendapat perhatian yang maksimal”

Kita mengetahui benar bahwa Institusi Pemadam Kebakaran (Damkar) di daerah dinaungi oleh unit yang berbeda-beda. Damkar di daerah ada yang di bawah Pemda maupun BPBD. Aplikasi hal ini di daerah belum optimal.

Hal ini bermula dari ketidakmengertian dan belum ada program nyata yang terintegrasi baik di dalam maupun di luar teman-teman di Daerah. Pendidikan, kompetensi dan kesejahteraan tim Damkar Indonesia harus prioritas diperhatikan dan ditindaklanjuti secara benar dan tepat.

4). “Persyaratan Keselamatan Kebakaran belum diaplikasikan seluruh masyarakat secara prioritas dan mutlak”

Secara khusus dalam proyek Konstruksi, bahaya kebakaran harus diantisipasi persyaratan utama baik secara administrasi maupun teknik. Solusi hal ini dimulai dari desain, IMB, sampai dengan persyaratan operasional, bahaya kebakaran harus diantisipasi secara profesional, detail, terstruktur dan berkelanjutan.

101 tahun sudah umur Damkar Indonesia. Mari kita berubah dan bertumbuh. Utamakan dan prioritaskan usaha Pencegahan-Penanggulangan-Pengendalian Bahaya Kebakaran di Indonesia.

Semoga Peringatan HUT 101 tahun Damkar Indonesia dan waktu setelah HUT menjadi momentum pertumbuhan kualitas Budaya Keselamatan terhadap Bahaya Kebakaran di Indonesia.

Edt: Redaksi (AN)