Ibukota Negara Memang Ideal Pindah ke Lampung Timur

Foto: (Ist)

“Kepindahan Ibukota Negara dan pusat penerintahan ini dari Jakarta pun sudah semakin mendesak”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Gagasan memindahkan Ibukota Negara Indonesia dari Jakarta ke Lampung Timur sudah diwacanakan sejak tiga tahun silam (2016), bebera tahun kemudian Zulkifli Hasan pun tampil dengan gagasan yang sama. Ya, sejujurnya saya senang, karena kapasitas Zulkifli Hasan dikenal banyak orang bukan hanya sebagai mantan Menteri Kehutanan. Jadi pasti lahan hutan di Kampung halamannya itu pun dia paham setiap jengkalnya.

Apalagi kemudian Kapolda Lampung mau ikutan membuat Petisi Lampung Jadi Ibukota RI (RMOLLampung, Selasa 4 Juni 2019) bergerilya mengumpulkan petisi dukungan untuk segera memindahkan Ibukota Negara RI ke Kawasan Timur Lampung. Begitu juga Jendral Ryamizard Ryacudu juga menyatakan serius ingin ikut melalakukan kajian untuk lebih meyakinkan  Lampung menjadi Ibukota Negara kita. Berikutnya adalah Gubernur Lampung juga serius dan siap mendukung pula.

Andi Desfiandi selaku inisiator perlu memikirkan langkah lanjutan yang perlu dilakukan, misalnya membuat seminar besar di Jakarta guna memapar potensi dan keunggulan dari daerah Lampung Timur kepada khalayak ramai misalnya, agar lokasi kepindahan dari Ibukota Negara Indonesia bisa segera disetujui dan memperoleh dukungan dari banyak pihak. Kalau cuma diskusi sesama tokoh di Lampung itu, apa bedanya dengan ngerumpi yang tidak memberi pemaham pada pihak lain yang juga merasa berkepentingan untuk mendukung atau menolak rencana memindahkan Ibukota Negara di Way Jepara, atau Sribawono wilayah Lampung Timur itu.

Paparan seilmiah dan serelistis seperti apapun tidak akan punya pengaruh apa-apa jika cuma terbatas dibicarakan oleh kalangan sendiri dan untuk kalangan sendiri. Sebab pihak lain yang tidak setuju atau mempunyai gagasan maupun pertimbangan berbeda pun juga punya argumen ilmiah, realistik dan mungkin tak pula idealistik dan unik

Dasar pemikiran saya sejak tiga tahun silam agar Ibukota Republik Indonesia dipindah ke Lampung Timur — setidaknya setelah dipublish secara meluas ke media massa — diantaranya ialah secara geografis dan geopolitis Jakarta masih relatif dekat dari Lampung. Hingga kepindahan secara fisik dapat dirasakan lebih ringan biayanya. Kecuali itu, jika masih diperlukan dari tempat asal pindah, bisalah diatasi dengan cepat dan murah karena jarak dari Jakarta ke Lampung bisa ditempuh dengan murah biayanya. Ada kapal laut dan penerbangan yang bisa pajai Jet Voil dan pesawat berukuran kecil.

Selain itu lahan di Lampung masih cukup luas dan relatif murah harganya, termasuk jika kelak hendak diolah menjadi komplek perkantoran atau perumahan. Dan rentang jarak Jakarta-Lampung bisa dijadikan uji coba untuk kepindahan Ibukota Negara Indonesia berikutnya bila memang diinginkan atas dasar hitungan  pertimbangan yang lebih menguntungkan. Misalnya perlu dipindah lagi atas dasar untuk pengembangan pembangun di daerah lain agar bisa adil dan merata kemajuan dari daerah yang dijadikan tempat Ibukota Negara itu kelak.

Yang tidak kalah penting adalah, rencana memindahkan Ibukota Negara Indonesia ke Lampung Timur bisa ikut mendorong rencana pembangunan prestisius dari jembatan Selat Sunda yang spektakuler itu. Apalagi desain rancangannya dapat dipadu dengan arsitektur yang indah serta multi guna misalnya dengan jalur ganda bersusun (doubel) berikut rest area di tengah laut yang dirancang khusus berikut fungsinya jadi tempat rekreasi dan peristirahatan yang menawan.

Kajian dari para tokoh masyarakat Lampung yang sempat dirilis secara meluas pada awal Juni 2019 itu, sungguh tidak kalah menarik nilai urgensinya agar bisa pula diperhatikan. Mulai sudut hankam hingga ekonomi dan politik dari pemindahan Ibukota Negara Indonesia ke Lampung dapat dijadikan acuan keputusan yang strategis dari pemerintah, dibanding harus menerapkannya di daerah lain, karena terlalu banyak dan beratnya kendala yang harus ditanggung dan diatasi bila tempat pindah Ibukota Negara Indonesia dan pusat pemerintahan yang terlalu jauh dari jaraknya dari Jakarta.

Kepindahan Ibukota Negara dan pusat penerintahan ini dari Jakarta pun sudah semakin mendesak. Jika pun Jakarta tetap diidolakan menjadi pusat bisnis serta pusat perdagangan, agaknya beragam masalah yang ada di Jakarta, seperti kepadatan penduduk serta kemacetan di jalan raya hingga masalah banjir pasti dapat berkurang bebannya yang berat itu. Dan ambisi menimbun Teluk Jakarta pun jadi semakin tidak layak untuk tetap diteruskan.

Edt: Redaksi (AN)