Ilusi ‘Cogito Ergo Sum’

Foto: Ist

“Karena filsafat, meletakkan qudrah dan iradah pada manusia. Bukan pada Tuhan”

Oleh: Irawan Santoso Shiddiq

Jakarta (Bintangtimur.net) – Rene Descartes. Ini legenda filsafat. Dia bapak filosof modern. Teorinya berpengaruh hingga kini. Tapi dia seorang tentara yang stress. Dari Bavaria, Cartesius mengobrak abrik pemikiran. Berteori sendiri. Maklum, jaman itu ‘berteori’ menjadi trending topic. Berteori, ini cara berpikir logika. Rasio. Makanya menjadi rasionalitas. Khayalak mengenalnya trio Yunani kuno.

Socrates, Plato, Aristoteles. Mereka yang melanjutkan tentang ‘teori, logika, rasio, nalar.’ Jelas pondasinya hanya akal. Manusia, kata Aristoteles, memang terdiri dari lahir dan bathin. Tapi bathin di sana, hanya ada akal. Rasio tadi. Tak ada yang lainnya. Mereka mengajarkan, menggapai Kebenaran dengan nalar semata. Menapikkan unsur lainnya.

Masa Socrates, mereka bertarung melawan dogma. Itulah berakhir dengan persidangan dan racun mematikan. Manusia modern, korban filsafat, masih terkesima drama apik ‘persidangan Socrates.’ Masa Islam berkembang, era Abbasiyya, filsafat di-Islam-kan. Socrates, Plato, Aristoteles, sampai Ptolomeus pun di-Islamkan. Makanya lahir perpustakaan ‘Bait al Hikmah’ di Baghdad dan ‘Madinatul azzahra’ di Cordoba.

Itu masa Al Farabi dijuluki ‘Guru Kedua’ setelah Aristoteles. Karena mereka mengadopsi filsafat. Selepas pertarungan jabariyya dan qadariyya dalam fase Umayyah dan Abbasiyya. Filsafat seolah menelusup masuk. Jadilah mu’tazilah. Al Farabi dan Ibnu Sina menggaungkan teori emanasi. Ini bukan bermakna ‘pancaran’, sebagaimana kosakata tassawuf. Tapi bermakna ‘kebenaran ganda.’ Mereka menilai, filosof setara dengan Nabi. Karena filosof menggapai Kebenaran dengan nalarnya.

Sementara Nabi menggapai Kebenaran dengan bimbingan Wahyu. Karena kaum al mu’tazili percaya, akal itu sumber Kebenaran. Sains Islam pun berkembang. Ini anak kandung filsafat memang.

Tapi masalah aqidah tak terelakkan. Pengaruh filsafat mengoyak dan mengancam Tauhid Islam. Belum ada wahabbi. Tapi cikal bakalnya telah mulai. Ahlul Sunnah wal jamaah berhadapan pada urusan filsafat mu’tazilah. di sanalah hadir Imam Asy’ari, Imam Mathuridi.

Mengembalikan lagi metode berpikir, agar tak terpengaruh mu’tazilah. Filosof-filosof itu. Baru kemudian hadir lagi Imam Ghazali dan murid-muridnya. Filsafat dihajar habis. “Akal tak dijamin aman dari kesalahan, oleh karenanya sangat rentan mengambil pengajaran agama darinya,” kata Imam Ghazali. Kitabnya, ‘Tahafut al Falasifah’, menjadi pegangan muslimin untuk lari dari mu’tazilah. Shaykh Abdalqadir al Jilani, lahir dan tumbuh serta membawa kembali umat pada tassawuf. Filsafat pun tamat di belantara Islam.

Tapi Aquinas membawanya ke Eropa, berabad kemudian. Dia memungutnya dari Eropa. Ibnu Rusyd idolanya dan gurunya. Eropa pun keranjingan. Mereka menggaungkan ‘rennaisance’, berpikir kembali. Maknanya, berpikir ala rasionalitas.

Mengapa? Karena mereka tengah berhadapan dengan dogma Gereja. Persis seperti situasi masa Socrates era Yunani kuno. Filsafat dirasa hadir dengan tepat, di Eropa barat.

Dari Aquinas, Grotius sampai Copernicus, menggaunglah era skolastik. Era filsafat Ketuhanan di Nasrani. Inilah fase Socrates, Plato, Aristoteles di-Kristen-kan. Setelah oleh kaum mu’tazilah mereka di-Islam-kan. Giliran Nasrani berhadapan dengan filsafat.

Luthern muncul menyerang aqidah Gereja Roma. Hingga Machiavelli memunculkan filsafat kekuasaan. Lahirlah filsafat politik. Il Principe, mengilhami semangat berteori kaum Eropa, menentang ‘Vox Rei Vox Dei’ Suara raja Suara Tuhan.

Muncul lagi teori induktif ala Francis Bacon. Dia bilang, ‘Aku Ada (Being) maka Aku berpikir (Think).’ Bacon memulai semangat teori baru. Filsafat beranjak dari makhluk, manusia. Bukan dari cara pandang Tuhan. Filsafat ketuhanan pun bergeser.

Imam Ghazali mengkategorikan ada tiga jenis filosof, filosof ilahiyun (ketuhanan), filosof tabiiyyun (naturalisme) dan filosof dahriyyun (ateisme). Socrates, Plato, Aristoteles, Al Farabi, Ibnu Sina, Aquinas tergolong filosof ilahiyyun. Nah, abad pertengahan, muncullah jamak filosof dahriyyun. Ateisme.

Akrobatik Rene Descartes yang memulai. Dengan cogito ergom sum-nya. ‘Aku  berpikir (think) maka Aku ada (being). Ini membalik semuanya. Karena Descartes berteori, segala hal dianggap tiada, sebelum diseleksi oleh akal manusia.

Cartesius menampik anasir filsafat yang bercampur pada dogma, Wahyu, dan lainnya. Melainkan murni harus atas dasar nalar semata. Dia berkata, “Filsafat adalah ketika alam, manusia dan Tuhan masuk dalam ranah penyelidikan (akal) manusia.” Dari sinilah dia mematok apa yang disebut ‘kebenaran’. Teori Descartes ini dijamah jamak kaum Eropa masa itu. Karena memang diperlukan untuk melawan dogma Gereja.

Inilah era materialisme. Bahasa lainnya, berpatokan pada inderawi semata. Karena rasio, mengutamakan yang bisa dijamah oleh mata kepala. Bukan batiniah. Batiniah yang dimaksud, tentu saja akal. Bukan qalbu. Teori ini yang berpengaruh hingga kini, abad sekarang.

Dari Cartesius, melahirkan teori kekuasaan. Raja sebagai wakil Tuhan, dianggap tak bisa dipercaya begitu saja. Harus diteorikan ulang. Makanya muncul ‘soverighnity’ ala Jean Bodin, Leviathan-nya Thomas Hobbes sampai memuncak pada ‘Le Contcrat Sociale’ ala Rosseou.

Karena filsafat, meletakkan qudrah dan iradah pada manusia. Bukan pada Tuhan. Posisi Tuhan, dibatasi oleh hasil kreasi rasio manusia. Tuhan pun berubah menjadi ‘ketuhanan’. Sebuah konsep atau ide tentang Tuhan. Ini tentu saja berbeda dengan ma’rifatullah.

Pun juga manusia. Berubah menjadi ‘kemanusiaan’. Teori tentang manusia. Demikian pula hukum. Itu bukan perintah dari Tuhan. Melainkan suatu yang disepakati oleh manusia, jika manusia setuju bersama-sama. Maka lahirlah kontrak bersama, itulah ‘constitutio.’ Buah dari teori Rosseou.

Manusia modern pun terkesima pada Cartesian. Ada pula Immanuel Kant. Yang sedikit berbeda dari Cartesius. Tapi teorinya ‘ratio scripta’ tak beda arah. Rasio harus dipercaya jika telah terbukti secara empirisme. Ini yang diikuti John Austin, tentang positivisme.

Lahirlah teori baru, positivisme, yang berkembang sejak pasca Revolusi Perancis, 1789. Sejak itulah filsafat merajalela. Menjadi Raja. Setelah berhasil mendobrak dogma Gereja, filsafat berubah menjadi tirani manusia. Akal, rasio manusia, berubah menjadi tirani yang membelenggu. Post modernisme telah menunjukkan hal itu.

Karena puncak filsafat, kini melahirkan beberapa hal. Filsafat politik menghasilkan ‘state.’ Filsafat hukum melahirkan ‘konstitusi’. Filsafat ekonomi, menghasilkan banking system. Inilah jebakan manusia modern. Ernst Junger menyebutnya sebagai nihilisme. Ketika manusia kehilangan nilai dan pijakan. Buah dari jebakan rasionalitas manusia sendiri.

Martin Heidegger, filosof Jerman lebih tegas lagi. Heidegger membantah semua teori filsafat. “Akal bisa dibuat memadai dan tidak memadai,” katanya. Heidegger menutup apa yang disebut kedai filsafat. Dalam ‘Being and Time’, dia membantah tentang apa yang disebut ‘berpikir’ ala filsafat. Heidegger terang menentang ‘cogito ergo sum’, berpikir baru dikata ‘ada’.

“Kita menyebut berpikir sebagai tindakan seperti menghitung, mengingat, membayangkan, merencanakan, memahami dan menyelesaikan masalah, tapi seringkali malah melamun dan menghayal,” kata Heidegger. “Jika kita berpikir terlalu banyak, kita tak akan pernah melakukan apapun,” tegasnya lagi.

Berpikir, dalam konteks ini bukanlah sebagaimana Firman Allah Subhanahuwataala dalam Al Quran: “….Affala taqqilun…”. Tentu bukan yang itu. Melainkan dalam konteks filsafat, berpikir sebagai raja. Segala sesuatunya harus disaring dalam akal pikiran, baru disebut ‘ada’, seperti maksud Cartesius dan Kant. Itu yang dimaksud.

Heidegger membantah, tindakan ‘berpikir’ justru tak fokus memecahkan masalah. “Melainkan hanya memberi perhatian pada masalah itu sendiri. Logika dan pintasan ilmiah tidak menyiapkan pintasan untuk jenis berpikir seperti itu,” tegas Heidegger. Dari situlah dia menyimpulkan: filsafat itu tidak berpikir.
Dari Heidegger kita akan mendapati Nietszche. “Filsafat itulah berhala,” ujar Nietszche. Karena memang filsafat hanya jebakan alam pikiran manusia.

Inilah yang sejatinya telah diingatkan Imam Ghazali, sejak abad 11 lalu. Bahwa filsafat memang tak bisa dijamin aman untuk menentukan jalur agama. Kini, abad sekarang, Shaykh Abdalqadir as sufi, kembali mengajak muslimin untuk menanggalkan cara berpikir ala rasionalitas itu.

Karena sejak era modernitas merebak, muslimin pun tergopoh-gopoh menghadapi serbuan filsafat yang datang dari barat. Alhasil hanya melahirkan ‘islamisme.’ Sebuah format berupa esensi Islam. Bukan eksistensialisme Islam.

Karena Islam mengajarkan tentang ‘Wujud’, bukan yang maujud. Filsafat modernitas hanya melahirkan maujud, bukan wujud. Disinilah problematika kaum muslimin kini. Alhasil dari sisi Tauhid, melahirkan ajaran maujud. Tauhid digeser kembali mengikuti ajaran mu’tazilah. Modernis Islam kembali menggelontorkan Tauhid versi itu.

Tentang qudrah dan iradah Tuhan yang dianggap dibatasai dalam alam dunia. Padahal Imam Asy’ari, Imam Mathuridi telah menentangnya. Dampak besarnya ialah hilangnya syariat. Yang muncul adalah syariat palsu. Hanya berupa esensialisme syariat. Inilah yang melahirkan bank Islam, asuransi Islam, sampai ‘al majallah al ahkam’. Di Indonesia disebut ‘Kompilasi Hukum Islam.”

Tentu itu bukan syariat. Melainkan hanya format mengikuti ‘hukum positivisme’.
Disinilah muslimin harus kembali pada tassawuf. Inilah jalur, yang kata Imam Ghazali, paling aman dalam mengambil ajaran agama.

Sebab Heidegger sendiri telah mengingatkan, “Berpikir (filsafat) adalah sesuatu yang kita tahu, tapi tak kunjung kita mulai.” Maka, untuk tahu tentang Tuhan, bukan dengan ‘berteori’ ala Cartesius atau Kantian. Melainkan dengan ma’rifatullah. Dan format itu tersedia dalam tassawuf belaka.

Tentu kaum rasionalis muslim jamak menampiknya. Seolah itu tak ada dalam ajaran Sunnah. Tentu, jika memang mengakses Sunnah hanya lewat ‘inderawi’ semata.  

Edt: Redaksi (AN)