Imbas Pasar Bebas dan Perang Asimetris Dalam Satu Benturan Peradaban

Foto: (Doc. Jacob Ereste)

“Jurus predatory promotion┬ámemang berbahaya bagi kelangsungan industri apa saja, termasuk industri transportasi online”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Imbas pasar bebas bagi petani dan kita sebagai rakyat jelata jelas dapat dirasakan mulai dari usaha warung tetangga semakin merana sampai kedai kopi yang berlebel asing dari kebun saudara kita yang sudah dicaplok bangsa asing. Sementara lahan pertanian kita pun tengah menjadi incaran, seperti yang sudah terjadi di Singkawang dan Jawa Barat.

Salah satu strategi dalam usaha para pelaku pasar bebas yang menjual produk dengan harga sangat rendah atau predatory pricing, kata Harryadin Mahardika pada forum diskusi, 26 Juni 2019 di Jakarta sudah dipraktekkan pada industri transportasi online.

Predatory promotion, merupakan salah satu jurus dalam pertarungan pasar bebas, termasuk di negeri kita yang tengah dijadikan medan pertarungan untuk direbut dan dikuasai oleh mereka yang punya banyak uang. Bangsa Indonesia yang mereka jadikan konsumen tidak sepatutnya cuma menonton dan membiarkan diri kita jadi obyek permainan para petamak yang rakus itu.

Jurus predatory promotion memang berbahaya bagi kelangsungan industri apa saja, termasuk industri transportasi online. Karena akibatnya bisa menumbangkan salah satu perusahaan yang lain. Pada giliran kemudian sistem monopoli bisa dilakukan dengan menaikkan tingkat harga atau tarif sekehendaknya sendiri. Praktek ini persis seperti yang berlangsung untuk tarif jalan tool.

Predatory promotion di industri transportasi online sangat berbahaya karena akan mematikan pesaing dan praktek usaha yang tidak sehat. Hingga pada gilirannya dapat melakukan praktek monopoli.

Para pengamat dunia usaha melihat beberapa indikasi dan modus dari praktik predatory pricing yang dilakukan perusahaan transportasi online, antara lain promosi berupa diskon hingga mencapai harga yang tidak wajar. Promosi dilakukan dalam jangka waktu lama yang melebihi kelaziman dan jelad indikasinya bisa mematikan pelaku usaha lain.

Akibat hilangnya persaingan dari monopoli pelaku usaha predator di industri transportasi online misalnya akan memperlemah posisi tawar para mitra dan konsumennya. Konon di negara Singapura, pasca akuisisi Uber oleh Grab, tingkat tarif dinaikkan hingga 10-15 persen sejak Maret-Juli 2018, hingga diprediksi ada peningkatan drastis 20-30 persen pada  2021 mendatang.

Dalam konteks inilah tugas dan peranan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) harus aktif dan giat melakukan pengawasan bagi persaingan usaha yang tidak sehat, yang sesungguhnya tidak hanya terjadi pada industri transportasi online, tetapi juga sangat rentan terjadi di sektor atau bidang usaha yang lain. Semua itu jika di biarkan akan berujung dengan praktek monopoli yang akan memeras uang dari warga masyarakat untuk mengembalikan biaya ekstra dari perang tanding yang baru saja dilakukan.

Kementan yang sibuk membantah bahwa produk pertanian China yang ditenggarai banyak orang telah membanjiri Indonesia, adalah bagian upaya menangkis klaim kekalahan dalam perang tanding di pasar bebas. Sebaliknya, Kementan hendak mengatakan Indonesia bisa unggul dengan peningkatan kinerja ekspor pertanian ke sejumlah negara Asia, termasuk ke China yang dapat memberi dampak positif neraca perdagangan nasional.

Meski trauma dengan pasokan dua juta ton beras impor yang sudah berulang kali dilakukan, seakan tidak berdosa pada petani kita. Karena komoditas pertanian kita toh bukan cuma karet, kelapa sawit dan sejenis itu saja yang bisa menjadi unggulan. Petani garam, jagung dan kacang kedelai yang merana sepatutnya dapat lebih diunggulkan.

Lima produk pertanian kita, kelapa sawit, karet, kelapa dan produk hewan serta kakao, toh tidak seberapa nilainya dibanding dengan produk lain yang dapat lebih diunggulkan. Setidaknya, untuk konsumsi sendiri tak perlu membeli dari negeri orang, jika pemerintah sungguh memilki inisiatif kreayif yang positif untuk membangkitkan keterpurukan petani kita di bumi yang subur ini.

Minimal, sikap umuk dan jumawa pemerintah tidak perlu pemer pada apa yang sudah dicapai, tapi bisa bersikap rendah hati untuk lebih dapat berinisiatif membantu petani Indonesia untuk lebih mudah dan giat menggarap sawah ladangnya yang terbengkelai akibat sarana dan prasarana hingga harga panen yang terkesan dibiarkan digilas oleh imbas pasar bebas yang beringas. Agenda tersembunyi AS (Amerika Serikat) dari pengamatan sejumlah pakar, perspektif perang non militer pada milenium ketiga sekarang menjadi model dari berperang abad 21 yang lebih mengutamakan perang non militer.

Sikap ganas AS dalam campur tangannya di Yugoslavia menurut para pengamat militer adalah isyarat kepada kawan dan lawan untuk bekerjasama sesuai dengan tuntutan kepentingan AS.

Perseteruan terselubung antara China vs AS mengenai minyak saja telah menyulut perang asimetris semakin menjadi-jadi. Sementara Indonesia sudah sejak lama dicengkeram AS. Dan China yang baru datang kemudian di Indonesia dan langsung unjuk gigi, jelas dan pasti bersiap diri lebih tangguh dari pesaing yang mau dia singkirkan dari Indonesia.

Jadi jelas negeri kita telah mereka jadikan sebagai obyek sekaligus tempat pertikaian. Lihat misalnya
China yang punya kepentingan terhadap saluran minyak Kaspia ke arah Timur pada 1997, bernilai 4,3 milyar dollar dengan 60 persen kepemilikan dari minyak rakyat Kazakhtan, dan AS terus berusaha dengan segala cara untuk mengurangi pengaruh China di daerah ini.

Perebutan yang dilakukan dengan pendekatan konflik pasti menimbulkan ketegangan di wilayah yang dijarah. Perselisihan etnis juga bisa berubah menjadi sebuah konflik bersenjata, ketika milyaran dollar terus mengalir akibat hasil produksi minyak dan gas yang melimpah dan hanya dinikmati oleh segelintir orang saja.

Boleh jadi apa yang dikatakan Samuel P. Huntington soal benturan peradaban besar di dunia memang akan dilakoni oleh AS dan China serta peradaban Islam. Indikator dari benturan peradaban itu tak mustahil ditandai oleh gencarnya perang asimetris yang memecah belah umat dengan cara menghembuskan beragam isu ke dalam umat Islam sendiri antara sesama pemeluk Islam maupun dangan penganut agama non Islam.

Sebab potensi umat Islam patut diperhitungkan, baik dalam arti kualitas maupun kuantitasnya. Masalahnya bagi umat Islam yang memiliki kekuatan besar peradaban di dunia, harus segera menyadari adanya straregi besar yang ingin menguasai dunia dengan berbagai tipu daya dan serangan yang terus mereka lakukan sekarang.

Edt: Redaksi (AN)