IMF: Ekonomi Dunia Mulai Membaik Tetapi Belum Merata

Foto: Ist

“Bank Dunia dan IMF memutuskan akan memperpanjang inisiatif tersebut dan kami mendorong peran swasta untuk turut terlibat menyelesaikan masalah ini sebagaimana yang dilakukan lembaga pemerintah,”

Jakarta (Bintangtimur.net) – Dana Moneter Internasional (IMF) menyebut perekonomian dunia mulai membaik setelah terpuruk akibat kebijakan karantina dan penutupan perbatasan selama pandemi COVID-19.

Direktur Utama IMF Kristalina Georgieva saat berbicara pada pertemuan virtual para menteri keuangan, dari New York, Amerika Serikat, Selasa (8/9), mengatakan tanda-tanda pemulihan mulai terlihat di beberapa negara, tetapi masih ada banyak negara kesulitan bertahan dari krisis.

Oleh karena itu, Georgieva berencana memperluas hak penarikan khusus (SDR) dari negara-negara maju ke negara berkembang dengan kondisi mendasar/fundamental ekonomi lemah.

“Kami akan meningkatkan dukungan dana untuk negara berkembang. Bagi IMF, tujuan itu dilakukan dengan memperluas penggunaan SDR, […] sehingga mereka dapat mengandalkan kapasitas keuangan IMF dalam jangka waktu tertentu,” kata Georgieva dalam pertemuan Ministers of Finance on Financing the 2030 Agenda for Sustainable Development in the Era of COVID-19 and Beyond, sebagaimana disiarkan dalam laman resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa.

IMF pada 1969 menciptakan SDR atau cadangan devisa internasional yang bertujuan menambah cadangan devisa negara-negara anggota. SDR dapat digunakan melalui mekanisme pertukaran dengan anggota IMF lainnya tanpa ada syarat tertentu.

Dalam pertemuan yang sama, Menteri Keuangan dan Layanan Masyarakat Jamaika, Nigel Clarke, mengatakan ada beberapa negara dan kawasan yang lebih sulit keluar dari krisis keuangan selama pandemi.

“Meskipun kita semua terdampak (pandemi, red), ada beberapa kawasan yang lebih membutuhkan bantuan secepatnya — khususnya negara-negara yang bergantung pada pariwisata dan negara yang punya utang tinggi, beberapa di antaranya berada di kawasan Karibia,” sebut Clarke.

Ia menjelaskan banyak negara kesulitan membayar utang selama pandemi, khususnya di negara-negara berkembang yang terjerat krisis dan beban utang tinggi, sementara cadangan devisa mereka terbatas dan defisit anggaran tinggi.

“Oleh karena itu, kebutuhan untuk aksi yang terkoordinasi, efektif, dan cepat sangat dibutuhkan (untuk membantu negara-negara keluar dari krisis, red),” terang Clarke.

Terkait dengan itu, Georgieva mengatakan IMF memiliki inisiatif khusus untuk layanan utang yang akan diperpanjang selama satu tahun.

“Bank Dunia dan IMF memutuskan akan memperpanjang inisiatif tersebut dan kami mendorong peran swasta untuk turut terlibat menyelesaikan masalah ini sebagaimana yang dilakukan lembaga pemerintah,” terang Georgieva. (APL)

Edt: Redaksi (AN)