Jangan Menumpuk Dosa Kecil dan Berlaku Adillah

Foto: Doc. IR. H. Arse Pane

“Jika kita telah melakukan dosa sekecil apa pun, beliau mengajarkan agar kita bertobat atasnya”

Oleh: IR. H. Arse Pane (Ketua Umum IRSI News)

Jakarta (Bintangtimur.net) – Tumpukan dosa ibarat kobaran api. Kobaran itu awalnya hanyalah berupa percikan kecil. Ia menjadi kobaran hebat jika dibiarkan. Percikan api lebih mudah dipadamkan daripada ia telah menjadi kobaran hebat.

Demikian halnya dosa kecil, ketika masih sedikit lebih mudah dihapuskan daripada ketika telah menjadi tumpukan besar dosa. Oleh karena itu, terapi yang Rosulullah ajarkan pada kita sebagai pengikutnya adalah agar kita sedapat mungkin menjauhi dosa kecil, apalagi dosa besar.

Jika kita telah melakukan dosa sekecil apa pun, beliau mengajarkan agar kita bertobat atasnya. Lalu mengikutinya dengan amalan kebaikan yang dapat menghapuskannya.

Suatu hari, selepas Perang Hunain, Rosulullah SAW ketika sahabatnya singgah di suatu tempat yang sangat tandus.

Saat itu Rosul memerintahkan para sahabat mengumpulkan apa saja yang ada di sekeliling mereka.

Dengan segera para sahabat mencari benda-benda di sekeliling mereka, mulai dari ranting kayu, tulang belulang, hingga rontokan gigi hewan. Dalam waktu sekejap mereka berhasil menghimpun barang-barang tersebut sampai menumpuk menjadi tumpukan besar.

Kemudian beliau bersabda, ”Apakah kalian melihat benda-benda ini? Ketahuilah, ia sama halnya dengan dosa-dosa yang terkumpul pada diri seseorang di antara kalian. Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim takut kepada Allah. Janganlah berbuat dosa, baik kecil maupun besar karena semuanya akan dihitung dan dimintai pertanggungjawaban kelak.”

Menurut beliau, dosa kecil yang terus dilakukan akan bertumbuh ruah bagai tumpukan besar seperti gunung, sehingga memerlukan usaha ekstra kuat untuk menyingkirkannya.

Dalam sabdanya, ”Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada, dan ikutilah setiap kejelekan dengan kebaikan yang dapat menghapuskannya.” (HR Muslim)

Inshaa Allah dengan kewaspadaan kita untuk tidak melakukan dosa sekecil apa pun, kita akan selamat saat diminta pertanggungjawaban kelak.

Rosulullah Dianggap Tidak Adil oleh Pemberontak

Awal kisah para pemberontak dan pembangkang itu pada bulan Syawal tahun 8 Hijriah saat umat Islam memenangkan Perang Thaif dan Perang Hunain.

Saat itu umat Islam mendapatkan Ghonimah (Harta ampasan perang-red) yang sangat melimpah, kemudian melakukan pembagian di Ja’ranah.

Sahabat-sahabat Nabi SAW yang senior seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Sa’ad dan lainnya tidak mendapatkan bagian ghonimah.

Sebaliknya sahabat-sahabat (mualaf) yang baru masuk islam meskipun meraka sudah kaya raya seperti Abu Sufyan tetap mendapatkan bagian ghonimah yang besar.

Saat pembagian ghonimah sedang berlangsung, tiba-tiba ada umat Islam yang berjenggot lebat menggertak Rosulullah SAW. Ia mengganggap Rosul tidak berbuat adil.

Umat berjenggot lebat ini bernama Hurqush bin Zuhair atau lebih dikenal dengan sebutan Dzul Khuwaishirah al-Tamimi.

Ia meminta agar Rosul bersikap adil kepada seluruh sahabatnya dengan memberikan bagian secara merata, tidak pilih kasih.

Wahai Muhammad, berbuatlah adil!, Demi Allah kamu tidak berlaku adil,” gertak Dzul Khuwaishirah.

Celakalah kamu, siapalah lagi yang akan berbuat adil jika aku saja dipandang tidak adil?” timpal Rosulullah SAW.

Gertakan Dzul Khuwaishirah kepada Rosul yang sangat tidak sopan dan lancang ini membuat para sahabat lainnya marah, seperti Umar bin Khattab dan Khalid bin Walid langsung menghunus pedangnya.

Mereka pun ingin membunuhnya, namun dicegah oleh Rosulullah SAW demi menghindari ‘api fitnah’ di kalangan umat Islam karena ia (Dzul Khuwaishirah) adalah Tokoh Islam dan memiliki pengikut yang tidak sedikit.

Setelah Dzul Khuwaishirah pergi Rasulullah Saw pun bersabda, “Sesungguhnya akan muncul dari keturunan orang ini sekelompok orang yang membaca Al-Quran namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (bacaannya tidak diterima oleh Allah SWT). Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah melesat dari busurnya,” (Hadits ini terdapat dalam Shahih Bukhari, Muslim dan Sunan Abu Dawud).

Apa yang disampaikan Rosulullah SAW akhirnya terbukti benar. Sahabat Nabi, Ustman di demo dan dibunuh. Sahabat sekaligus kerabat Nabi, Ali bin Abi Thalib juga dibunuh oleh Abdurrahman Ibnu Iyauljam.

Kemudian diketahui bahwa ada dua orang target lagi yang akan dibunuh oleh kelompok ini, adalah Muawiyah bin Abu Sofyan sang Gubernur Syam dan Amr bin Ash Gubernur Mesir.

Mereka membunuhnya lantaran menganggap Ali sudah kafir.

Padahal mereka yang membunuh Khalifah Ali adalah golongan Ahli Qur’an, dianggap Ulama pada saat itu, ahli ibadah dan ahli puasa. Namun ternyata mereka adalah kelompok yang sangat tidak mengerti akan ajaran agama Islam sama sekali.

Edt: Redaksi (AN)