Jangan Pernah Berharap Hak Bagi Kaum Buruh Akan Diberikan Dengan Suka Rela

Foto: (Ist)

“Tidak cuma itu, masalah hak tunjangan serta sejumlah fasilitas yang patut diterima oleh kaum buruh pun ditekan seminimal mungkin”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Kaum buruh harus mengorganisirnya sebagai keharusan. Yang ideal tentu saja bentuk organisasi kaum buruh itu adalah serikat. Sebab serikat buruh memiliki payung hukum yang jelas, termasuk perlindungan dari sejumlah konvensi Internasional Labour Organization.

Posisi kaum buruh yang masih dianggap sebagai skrup dari mesin produksi jelas membuat kaum buruh demakin tidak berdaya menghadapi kesewenang-wenangan dari pengusaha yang senantiasa orientasinya hendak mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dengan tingkat upah untuk buruh yang serendah-rendah mungkin.

Tidak cuma itu, masalah hak tunjangan serta sejumlah fasilitas yang patut diterima oleh kaum buruh pun ditekan seminimal mungkin. Bahkan (bila perlu) tidak diberi sama sekali.

Demikian juga status buruh sebagai pekerja seperti outsourching, sebagai wujud nyata dari keengganan pihak pengusaha agar tidak menanggung resiko bagi buruh.

Begitu juga dengan kewajiban dari pihak pengusaha yang harus meningkatkan kemampuan buruh, baik untuk keahlian maupun kemampuan dalam bentuk kesejahteraan ekonomi bagi dirinya serta keluarga.

Karena itu, kaum buruh harus menjadi anggota serikat buruh, sebab semua hak yang sepatutnya harus diterima oleh kaum buruh hanya bisa diperjuangkan melalui serikat buruh. Sebab kaum buruh tidak bisa berjuang sendiri tanpa serikat buruh.

Hak-hak sosial, ekonomi aplagi hak politik dan budaya bagi kaum buruh hanya mungkin bisa dinikmati oleh kaum buruh melalui perjuangan bersama serikat buruh. Itu pun tidak dapat dipastikan adanya jaminan akan selalu sukses.

Oleh karena itu dapat segera dipahami bahwa semua hak kaum buruh jangan pernah diharap akan diberikan begitu saja oleh pengusaha. Sebab sudah menjadi tabiat umum para pengusaha akan selalu menekan kaum buruh agar bisa memperoleh keuntungan maksimal dengan pengeluaran atau ongkos yang minimal.

Agaknya, riwayat upah minimum regional (UMR) dan sejenisnya itu dapat menjadi bukti nyata sekaligus pelajaran menarik pada komitmen pengusaga terhadap kaum buruh.

Demikian pula dengan slogan kaum buruh yang menyatakan bahwa jika buruh bersatu pasti menang, atau adanya jargon dari perlawanan heroik yang selalu diteriakkan oleh kaum buruh dalam berbagai momentum maupun beragam kesempatan aksi dan unjuk rasa.

Edt: Redaksi (AN)