Jelang F1, Kabut Asap Indonesia Mulai Selimuti Singapura

Foto: (Ist)

“Asap beracun karena karhutla merupakan masalah tahunan yang datang dari Indonesia”

Jakarta (Bintangtimur.net) – Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahat (karhutla) Indonesia berpengaruh pada kualitas udara Singapura. Indikator udara di negara pulau itu menunjukkan status tidak sehat untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir.

Hal itu diungkapkan oleh pemerintah setempat, sepekan sebelum penyelenggaraan Formula One atau F1 dilakukan di Singapura.

Asap beracun karena karhutla merupakan masalah tahunan yang datang dari Indonesia. Namun kasus ini kembali buruk pada tahun ini karena musim kemarau yang berkepanjangan.

“Ada kemunduran dalam kondisi kabut asap di Singapura pada sore ini,” kata pernyataan National Environment Agency (NEA). 

“Hal ini disebabkan oleh pertemuan angin di wilayah terdekat yang menyebabkan lebih banyak kabut asap dari Sumatera terbawa ke Singapura,” lanjutnya.

NEA mengatakan indeks standar polusi atau (PSI) telah mencapai angka 108 di daratan utama negara tersebut pada Sabtu (14/9) siang.

Angka indeks antara 101-200 menunjukkan status tidak sehat dan masyarakat setempat disarankan mengurangi kegiatan di luar rumah.

Badan pemerintah tersebut juga mengatakan Singapura berpeluang mengalami situasi lebih buruk dalam beberapa hari ke depan.

Negara-kota dengan jumlah penduduk 5,6 juta jiwa tersebut telah diselimuti kabut asap tipis. Beberapa warga juga sudah mengenakan masker wajah. Namun belum ada gangguan signifikan dalam aktivitas sehari-hari.

Sedangkan acara olahraga internasional Formula One sendiri akan diadakan di negara tersebut pada Jumat hingga Minggu pekan depan di kawasan Marina Bay.

Penyelenggara Formula One tak kunjung memberikan tanggapan terkait kondisi Singapura saat ini jelang acara itu berlangsung.

Negara tetangga Singapura, Malaysia juga mengalami nasib serupa. 

Kejadian tersebut memanaskan hubungan diplomatik antara Indonesia dan Malaysia yang kerap kali bergesekan akibat masalah karhutla.

Kualitas udara negara tersebut, terutama yang berlokasi di Semenanjung Malaya termasuk ibu kota Kuala Lumpur, telah mencapai level tidak sehat selama beberapa hari terakhir.

Kasus kebakaran hutan dan lahan di Indonesia pada tahun tersebut tercatat yang terburuk dalam dua dekade terakhir yang menyebabkan sebagian besar wilayah Asia Tenggara diselimuti asap.

Pada 2015, udara Singapura sempat mencapai indeks 300 yang berarti “berbahaya” dan memaksa sekolah-sekolah diliburkan. 

Edt: Redaksi (AN)