Jika Pencairan Nasabah AJB Bumiputera Segera Dibayar, Aksi Nasional Tak Perlu Dilakukan

Foto: Doc. Jacob Ereste

“Para Kepala Wilayah AJB Bumiputera menyatakan komplain dari para pemegang polis terus meningkat karena pembayaran klaim yang lambat itu”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Sejak tiga tahun silam sejumlah Kepala Wilayah Asuransi Jiwa Bersama atau AJB Bumiputera 1912 sudah menyampaikan kondisi perusahaan kepada jajaran manajemen mengenai berbagai masalah yang tak kunjung terselesaikan, khususnya mengenai pembayaran klaim dari para nasabah yang sudah jatuh tempo tidak kunjung selesai sampai hari ini (Bisnis.com 20 Mei 2020)

Para kepala wilayah AJB Bumiputera secara resmi mengungkapkan melalui surat tentang situasi dan kondisi terkini pemegang polis, organisasi di lapangan, dan usulan itu langsung ditujukan kepada Direktur Utama Bumiputera, Dirman Pardosi pada Rabu (29/4/2020).

Para Kepala Wilayah AJB Bumiputera menyatakan komplain dari para pemegang polis terus meningkat karena pembayaran klaim yang lambat itu. Akibatnya para agen dan pegawai Bumiputera di daerah-daerah mendapat ancaman psikis dan fisik, serta menurunnya penghasilan karena tidak berani untuk melakukan produksi dan mengutip premi. Kecuali itu para pekerja pun merasa tertekan dan stres akibat hal tersebut.

Jutaan jumlah nasabah AJB Bumiputera pun pantas ragu untuk meneruskan pembayaran iuran rutin karena yang sudah jatuh tempo tidak mau dibayar, apalagi mereka yang masih harus wajib menyetor sebagai nasabah yang baru akan jatuh tempo beberapa tahun mendatang.

Pembayaran klaim melalui sistem antrian sejak beberapa tahun silam itu pun belum juga menunjukkan perkembangan seperti yang diharapkan. Akibatnya memang tidak cuma menambah kegundahan para nasabah yang sudah habis rasa kesabarannya menunggu klaim pembayaran yang dinantikan itu, tapi juga bagi AJB Bumiputera sendiri jadi tidak ada pergerakan juga bagi perusahaan.

Dalam kondisi seperti itu para Kepala Wilayah sejak jauh hari telah meminta perhatian dari pusat tentang masukan yang mereka sampaikan kepada manajemen Bumiputera. Poin pertama, terkait masalah pembayaran klaim agar bisa direalisasikan dengan sistem antrian dibuat per kantor cabang.

Sistem yang dianjurkan ini diharap dapat memacu untuk meraih income sebanyak-banyaknya, sehingga klaim pun dapat lebih banyak yang dibayar.

Tetapi dengan terus tertundanya klaim pembayaran, jutaan nasabah AJB Bumiputera bisa terancam bubar. Karena kalau masing-masing nasabah sudah tidak lagi percaya duit mereka pun akan bernasib sama dengan para nasabah yang telah jatuh tempo tapi belum sudah bertahun-tahun tidak cair juga.

Klaim bersifat emergency yang disarankan para Kepala Wilayah AJB Bumiputera sungguh sangat bijak, supaya semua pihak tidak sampai harus menanggung kerugian atau bahkan jadi korban.

Pembayaran klaim idealnya dilakukan secara berurut mulai dari yang terendah. Cara seperti itu agar mereka yang membutuhkan bisa mendapat prioritas.

Harapan para Kepala Perwakilan agar setiap pekan ada pencairan dana para nasabah akan membuat kepercayaan nasabah dan publik kembali pulih membaik. Jika tidak, toh para nasabah sudah menentukan sikap akan segera melakukan aksi serentak dalam skala nasional di seluruh Indonesia.

Jika saja pencairan dana nasabah AJB Bumiputera bisa segera cair mulai dari nilai yang terendah hingga kemudian bagi mereka yang mengklaim ratusan juta nilainya, mungkin saja rencana aksi serentak yang akan dilalukan secara nasional tidak perlu lagi dilakukan. Tapi bila tidak, toh kesabaran sudah mentok di ubun-ubun tak juga ada solusinya. Ibarat kata, ucap seorang diantara nasabah AJB Bumiputera itu, apa yang akan terjadi nanti, ya biarlah terjadi, ujarnya tanpa merinci apa maknanya.

Edt: Redaksi (AN)