Jiwa Besar Vs Jiwa Yang Kerdil

Foto: (Doc. Imam Shamsi Ali)
Ket. Foto: Membimbing Andy Mengikrarkan Syahadat beberapa waktu lalu

“Dalam kehidupan sosialnya, manusia memerlukan fondasi dalam melakukan interaksi di antara mereka”

Oleh: Imam Shamsi Ali (Presiden Nusantara Foundation)

Jakarta (Bintangtimur.net) – Manusia punya ragam tendensi dan gaya hidup masing-masing. Ada yang tenang, ada yang heboh dan penuh hiruk pikuk. Ada yang sepi, dan ada pula yang bising.

Sesungguhnya itu normal-normal saja. Hidup manusia itu bagaikan taman bunga. Keindahannya ada pada warna dan kombinasi warna warni yang ada. Perbedaan yang ada jika dirajut dalam anyaman yang harmoni akan melahirkan bangunan sosial yang indah.

Saying keindahan itu seringkali terusik dengan gesekan-gesekan sosial. Keindahan menjadi buruk (ugly), kenyamanan menjadi seuatu yang menggerahkan.

Biasanya gesekan itu terjadi karena beberapa faktor. Ada karena ketidak pahaman, yang menjadikan penempatan bunga yang cantik itu tidak pada tempatnya.

Ada juga karena mata yang memandang keindahan bunga itu sedang terganggu. Mata yang sakit akan mengalami gangguan dalam memandang bunga keindahan bunga itu.

Dalam kehidupan sosialnya, manusia memerlukan fondasi dalam melakukan interaksi di antara mereka. Fondasi itu adalah mentalitas atau kejiwaaan. Segala bentuk interaksi akan diwarnai oleh warna mentalitas manusia.

Goncangan-goncangan atau gesekan-gesekan yang terjadi dalam hidup Sosial itu pada galibnya terjadi ketika manusia bermental kerdil.

Jiwa kerdil itu adalah jiwa yang kalah. Dan jiwa yang kalah tidak akan bergerak ke mana-mana. Lebih runyam lagi, jiwa kerdil itu hanya akan selalu melihat kesalahan atau mencari-cari keburukan orang lain.

Jiwa kerdil juga rentang mengalami ”uncontrollable state” (suasana yang tidak terkontrol). Mudah lemah, putus asa, dan selalu melihat orang lain sebagai saingan, bahkan ancaman (threat).

Jiwa kerdil akan selalu mencari tameng positif untuk menyembunyikan kekurangan dirinya. Kegagalan dalam karya (berbuat) dibalut dalam selimut justifikasi ”keikhlasan”.

Ketidak mampuan untuk menampilkan sebuah kontribusi sosialnya disembunyikan dengan pembenaran atas nama ”kerendah hatian”.

Karenanya dalam menjalani hidup sosialnya manusia harus memiliki jiwa besar. Jiwa besar itu berani menghadapi tantangan dan tidak sekedar pandai mencari kesalahan orang lain.

Jiwa besar itu berkarakter kompetitif atau fastabiqul khaerat. Akan selalu tampil dengan ”achievement” (capaian) terbaik. Bukan karena orang lain, tapi memang itulah naturalnya. Jiwa pemenang yang tidak bisa terintimidasi oleh kelebihan orang lain.

Jiwa besar bahkan berani menerima kelebihan orang lain. Bukan dengan kelemahan. Tapi dengan kekuatan untuk melakukan yang sama, bahkan yang lebih baik.

Hanya jiwa besar sesungguhnya seseorang akan mampu menganyam hidup sosialnya secara indah dan nyaman. Dan yang terpenting hanya dengan jiwa besar seseorang tidak pernah kalah dan terancam dalam hidup sosialnya.

Karenanya mari bangun jiwa besar. Ketahuilah nilai (value) tauhid terbesar dalam hidup adalah terbangunnya mentalitas besar, kuat dan menang. Yang tidak terancam, terintimidasi, apalagi diperbudak oleh apa dan siapapun kecuali kepada Dia Yang Maha Sempurna.

Edt: Redaksi (AN)