Kangen Bang Muslim Arbi dan Bung Rizal Fadillah

Foto: Google

“Rasanya, bangsa ini bersyukur memiliki sosok seperti Bang Muslim dan Bung Rizal”

Oleh: Ahmad Khozinudun (Sastrawan Politik)

Jakarta (Bintangtimur.net) – Jika ada yang menyebut amat sulit menggabungkan kemampuan menulis dan diskusi secara apik, hal ini tak berlaku bagi dua tokoh yang saya bicarakan ini. Memang benar, sulit menjadi penulis sekaligus orator atau agitator ulung.

Kadangkala, kita dapati seorang begitu piawai menulis, namun agak kesulitan ‘mengolah kata’ dalam narasi oral diskusi. Sebaliknya, ada orang begitu heroik dalam orasi, mampu ‘menyihir’ audiens dalam sebuah forum diskusi, namun kesulitan menulis. Jika diminta menulis, satu paragraf pun sulit diperoleh. Satu artikel bisa dihasilkan, dengan sangat bersusah payah. Itupun, tak se-spektakuler bahasa orasinya.

Tak demikian bagi Bang Muslim Arbi dan Bung Rizal Fadillah. Bang Muslim meskipun berlatarbelakang lulusan Teknik ITB, namun dirinya begitu piawai mengolah kata.

Tulisannya banyak berseliweran di sosial media, mengupas banyak tema, dan dengan sudut pandang beragam. Rasanya bukan aktivis pergerakan, jika belum pernah membaca tulisan Bang Muslim.

Adapun Bung Rizal Fadillah, tulisannya tak kalah renyah dan masif dengan Bung Asy’ari Usman, wartawan senior. Setiap bagi, diberbagai platform sosial media dan GWA, kita sering menjumpai tulisan beliau.

Bung Rizal ini senior penulis, beliau juga alumni Fakultas Hukum. Bedanya, kampus beliau lebih bergengsi ketimbang kampus penulis.

Rasanya, bangsa ini bersyukur memiliki sosok seperti Bang Muslim dan Bung Rizal. Mereka, tanpa dibayar Negara, terus melakukan pencerahan ditengah masyarakat, dalam rangka turut serta mencerdaskan kehidupan berbangsa.

Namun, perlu untuk diketahui. Kedua penulis produktif ini, tak hanya piawai olah jari (karena menulis era now menggunakan smartphone, bukan pena), keduanya juga jago diskusi.

Penulis sendiri, berbahagia dapat berkesempatan mendampingi keduanya berdiskusi sebagai Nara Sumber diskusi, dalam rangkaian Safari Diskusi di Jawa Timur. Dari Kota Malang, Kediri, Jember, Tulungagung, Mojokerto, hingga Kota Surabaya.

Penulis melihat langsung, keduanya mampu menghipnotis audiens melalui olah kata secara oral. Impresi, intonasi, bahasa simbol, pilihan frasa, prinsipnya keduanya tak hanya jago menulis, tapi juga jago berdiskusi.

Kangen, jalan lagi dengan keduanya. Pandemi ini, memang menjadi salah satu udzur, diskusi tak lagi semasif dulu. Gantinya, diskusi webinar menjadi alternatif pengganti di situasi Pendemi.

Sebenarnya, kangen pada keduanya lumayan terobati dengan membaca tulisannya. Namun, kangen makan duren bersama, itu yang tak tergantikan.

Duren, adalah ‘Legacy Diskusi’ yang tak mungkin terlupakan. Bersama Bang Muslim dan Bung Rizal, penulis dibuat puas makan Duren oleh Cak Slamet Sugianto dan Mas Fajar Kurniawan.

Cak Slamet, menyebut Duren tersebut sebagai “Durian Perlawanan”. Durian yang selalu dihadirkan dalam diskusi perlawanan, terhadap segala bentuk kezaliman dan penindasan. Perlawanan terhadap hegemoni ideologi kapitalisme sekuler dan sosialisme komunisme.

Salam hormat dan kangen Bang dan Bung, insyaAllah Allah SWT beri kesempatan kita diskusi lagi. Eh salah, kesempatan makan duren lagi maksudnya.

Edt: Redaksi (AN)