Kapitalisasi Media Dan Demokrasi Liberal

Foto (Ist): Semua tv dan media telah di bayar atau ditekan untuk jadi alat propaganda rezim antek Asing dan Aseng ini

Oleh: Muslim Arbi (Koordinator Gerakkan Perubahan-Garpu)

JAKARTA (Bintangtimur.net) – Berikut ini adalah pengalaman lapangan dari Bung YZ dari Alumni PTSI (Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia).

Pengalaman saya (YZ) tiga hari yang lalu sewaktu membentuk saksi TPS Partai Berkarya di suatu desa.

Sewaktu saya mengajak teman-teman disana mereka nanya, untuk pilpresnya nomor berapa? Saya jawab nomor 02 Prabowo-Sandi.

Lalu mereka mengatakan kalau calegnya oke kami dukung tapi Presidennya enggak.

Saya lantas bertanya apa masalahnya? Mereka menjawab kalau Jokowi sudah banyak berbuat untuk Indonesia seperti yang selalu disiarkan di TV, sedangkan Prabowo belum apa-apa.

Lantas saya berfikir gimana caranya agar mereka mengubah pilihannya. Mula-mula saya menanya mereka apa yang telah di buat Jokowi untuk rakyat menengah kebawah, lantas mereka mengatakan: Jalan tol, bandara, pelabuhan, irigasi dan lain-lain.

Lalu kemudian, agar mereka gak tersinggung, saya tanya jalan tol itu apa gunanya? Bandara dan Pelabuhan apa gunanya? Mereka menjawab jalan tol untuk memperlancar perjalanan, bandara dan pelabuhan fasilitas memperlancar perjalanan.

Lalu saya bertanya, bisa gak kita lewat jalan tol dengan jalan kaki atau naik sepeda motor? bisa gak kita jualan di pinggir jalan tol? bisa gak kita lewat jalan tol tanpa kartu padahal kita rela bayar Rp1 Juta sekali lalu (lewati). Mereka jawab tidak.

Lalu saya nanya lagi, saudara-saudara ini orang miskin atau orang kaya yang punya mobil? Mereka menjawab orang miskin, jangankan punya mobil, punya sepeda motor aja dah butut.

Kemudian saya tanya lagi, seumpama disini dibuat jalan tol dengan peraturan yang sekarang saudara setuju gak? Mereka menjawab kompak tidak.

Lalu saya bertanya lagi, kalau emang jalan tol gak pro rakyat kecil ngapain dibanggakan. Mereka gak bisa menjawab.

Terus saya nanya lagi, waktu rezim SBY harga getah (karet) paling tinggi berapa? Mereka jawab pernah Rp21 ribu.

Lantas saya nanya lagi, direzim sekarang ini pernah gak harga getah mencapai Rp12 ribu? Mereka menjawab gak pernah.

Lalu saya bilang, saudara-saudara sekarang ini sudah merasakan gimana susahnya cari kerja sementara hasil tani kita gak ada harganya.

Kalau dulu sekilo getah n..? (5 tahun lagi) Mereka menjawab macam-macam. Namun pada intinya mereka mulai sadar atas kekeliruannya.

Dari pengalaman tersebut, saya simpulkan kita harus lebih giat lagi memperkenalkan Partai pendukung dan Capres kita ke pelosok-pelosok desa karena di sana jarang ada sinyal internet, mereka taunya informasi hanya melaui TV.

Analisa dan Fakta yang terjadi

Pencerahan mesti seperti itu yang harus di lakukan. Karena semua tv, kecuali tv one yang objektif.

Semua tv dan media telah di bayar atau ditekan untuk jadi alat propaganda rezim antek Asing dan Aseng ini.

Oleh karena itu, abang-abang dan teman-teman para alumni PTSI (Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia) dapat lebih kreatif lagi melawan ini semua.

Untuk sebuah kesadaran yang mencerahkan bagi sebuah perubahan besar di Negeri ini.

Sadar atau tidak, Demokrasi Liberal ini bertentangan dengan Pancasila dan UUD 45 Asli dan hanya menguntungkan Kapitalisme dan Kapitalisasi dan rezimisasi media.

Media massa telah menjadi alat Kapitalisme belaka, dan Demokrasi Liberal adalah alat canggih untuk memperkuat rezim boneka Kapitalis.

Demokrasi Liberal dan Kapitalisme Global serta anteknya adalah dua sisi dari satu mata koin. Saatnya menuju perubahan yang semestinya. (AN)